
Suratno membudidayakan daun dewa secara intensif di tepi pematang dan di sela-sela pohon jeruk. Ia meraup omzet Rp4 juta per bulan dari daun dewa.
Trubus — Beberapa tahun belakangan tanaman obat atau herbal kembali tren di tengah masyarakat. Apalagi sejak dunia geger pandemi virus korona. Masyarakat lebih percaya akan pengobatan secara alami (back to nature) daripada pengobatan secara kimia. Pengobatan herbal dianggap lebih murah dan minim efek samping. Pandangan itu yang membuat tanaman obat kembali dilirik. Apalagi banyak tanaman herbal yang mudah tumbuh di pekarangan. Salah satunya adalah daun dewa Gynura divaricata.
Salah satu petani daun dewa adalah warga Desa Seling, Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Suratno. Ia membudidayakan daun dewa di ladangnya setiap kemarau. Ia menanam tanaman anggota famili Asteraceae itu di lahan di tepi pematang menuju kebun jambu kristal dan jeruk. Selain itu ia juga menanam daun dewa juga di sela pohon jeruk dan jambu. Kedua area itu semula kosong. Jadi, Ratno—panggilannya—memanfaatkan area yang semula “menganggur” menjadi lokasi budidaya daun dewa.
Pascapanen tepat

Ratno membeli bibit daun dewa dalam polibag dari rekan seharga Rp2.500. Ia menanam 7.000 tanaman sehingga modalnya membeli bibit Rp1,75 juta. Ia mulai menanam saat hujan berakhir, antara Maret—April. Petani itu menyiapkan lahan dengan membenamkan pupuk kandang sehingga tanah gembur. Pertumbuhan daun dewa optimal di tanah gembur. Setelah itu barulah ia menyobek polibag dan memindahtanamkan bibit ke lahan.
Tanaman daun dewa mulai panen setelah tanaman berumur 3 bulan. Selanjutnya sampai tanaman berumur 6 bulan pemanenan daun dewa masih dapat dilakukan. Pemanenan saat pagi atau sore hari dengan memetik atau memotong daun sebanyak 4—6 helai ke arah pucuk. Di batang bekas pangkasan daun tadi nanti tumbuh tunas-tunas baru lagi yang akan tumbuh menjadi daun baru. Petani itu akan memanen selanjutnya.
Berbagai penelitian menyatakan, tanaman kerabat kenikir itu mengandung minyak asiri dan flavonoid. Kandungan bahan-bahan itu berkhasiat mengurangi gangguan berbagai macam penyakit seperti antiinflamasi atau peradangan. Itu sebabnya daun dewa menjadi bahan baku industri farmasi dan kosmetik. Oleh karena itu, teknik pascapanen sangat penting untuk diperhatikan.

Pertama melakukan sortasi daun antara daun yang rusak dengan daun yang utuh atau sehat dan membuang sejumlah gulma atau kotoran lain yang melekat pada daun dewa. Tahapan selanjutnya adalah pencucian. Daun hasil sortasi dicuci dengan air bersih mengalir hingga kotoran yang menempel pada daun itu hilang. Setelah itu daun ditiriskan hingga tidak ada air yang menetes baru setelah itu daun dijemur hingga kering sekitar 4 hari. Setelah kering Ranto membungkus daun dengan plastik dan menyerahkan kepada pengepul.
Pengepul yang membeli daun dewa, Darno, membayar Rp50.000 per kg daun kering. Satu kilogram daun kering berasal dari 5 kg daun segar. Ia mengirim daun dewa kering itu ke Jakarta. Ratno mampu memproduksi 80 kg daun kering per bulan. Artinya ia meraup omzet Rp4 juta per bulan. Ia memanen hingga 4 bulan. Dalam satu periode budidaya Ranto memanen daun berkhasiat obat itu selama 4 bulan.
Organisme pengganggu

Penanaman bibit daun dewa pada kemarau menyebabkan penyiraman menjadi hal wajib agar tanaman tumbuh optimal. Selain itu juga pengendalian organisme pengganggu. Hama yang kadang menyerang tanaman daun dewa antara lain ulat hitam atau ulat jengkal Nyctemera coleta dan kumbang Psylliodes sp. Ulat jengkal memakan daun sampai tersisa hanya tulang daunnya. Adapun serangan kumbang membuat daun menjadi berlubang. Sementara itu penyakit yang menyerang salah satunya cendawan busuk daun.
Untungnya Ratno membudidayakan saat kemarau sehingga serangan hama dan penyakit relatif minim, terutama karena ketiadaan hujan. Menurut Ranto pada musim hujan umbi rentan terendam sehingga mudah membusuk, yang menyebabkan tanaman mati. Budidaya mudah, belum banyak yang membudidayakan, serta tersedianya pasar membuat Suratno ajek menekuni budidaya tanaman daun dewa bersama istrinya jika musim kemarau tiba.
Dari lahannya di Kebumen itulah Ratno memetik faedah daun dewa. Tanaman itu antara lain berfaedah sebagai analgesik atau meredakan nyeri, melancarkan sirkulasi darah, dan mengatasi tekanan darah tinggi atau hipertensi. Konsumsi daun dewa juga berperan membuang racun dari dalam tubuh atau detoksifikasi. Faedah lain sebagai penurun kadar gula darah atau diabetes melitus. (Umi Barokah, S.P.,M.P. dosen Fakultas Pertanian Universitas Ma’arif Nahdlatul Ulama Kebumen dan Penyuluh Pertanian Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kebumen)
