Saturday, August 13, 2022

Cara Baru Hidup Sehat

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Fermentasi tiga bulan menghasilkan cairan kecokelatan yang harum. (Dok. Trubus)

Cairan fermentasi bahan organik untuk sabun mandi, pencuci piring dan pakaian, serta penjernih air dan udara.

Trubus — Sebuah pemandangan berbeda, Lie Min Fu turut serta urusan dapur. Laki-laki berusia 45 tahun itu cekatan menyisihkan kulit buah dan sayuran tak terpakai. Ia memotongnya menjadi bagian lebih kecil dan memasukkan dalam ember berkapasitas 25 liter. Lalu ia menambahkan molase atau tetes tebu dan air. Perbandingan bahan organik, molase, dan air 3:1:10.

Ia menutup wadah dengan rapat dan menempatkannya di sudut dapur. Pada awal fermentasi, setiap hari ia membuka tutup ember untuk mengeluarkan gas. Tiga bulan berselang, Lie panen ekoenzim dengan menyaring cairan kecokelatan. Hasil fermentasi bahan organik itu memiliki beragam manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Lie Min Fu menggunakan cairan ekoenzim antara lain untuk mencuci piring, pakaian, dan mandi.

Bahan mentah

Tidak semua bahan organik dapat difermentasikan menjadi ekoenzim. Kulit buah dan sisa sayuran haruslah mentah dan belum melalui pengolahan seperti rebus, goreng, atau tumis. Sisa buah bekas gigitan kelelawar turut terpakai. Selain itu, bahan organik tidak busuk serta bebas dari ulat dan cendawan. Jika kesulitan memperoleh molase, Lie menggunakan gula merah.

Ekoenzim terbuat dari fermentasi bahan organik, molase, dan air. (Dok. Trubus)

Pemilihan bahan organik dan molase atau gula merah memengaruhi warna ekoenzim yang terbentuk. Hasilnya warna kecokelatan dengan rentang cokelat muda hingga tua. Air yang digunakan dapat berupa air keran, air hujan, atau air buangan pendingin ruangan. Lie menilai ekoenzim yang baik memiliki kadar keasaman atau pH 4 atau kurang dari itu.

“Jika pH lebih dari 5, saya sarankan untuk fermentasi kedua. Bau harum itu tanda ekoenzim yang dihasilkan sudah bagus,” kata pengurus divisi lingkungan hidup di Yayasan Rumah Alam Bahagia, Jakarta Barat, itu. Pada prinsipnya fermentasi tiga bulan itu wajib, tidak boleh kurang. Di wilayah subtropis, fermentasi lebih yakni yakni enam bulan.

Beberapa pegiat ekoenzim menambahkan bahan aromatik untuk memperkaya aroma. Bahan aromatik itu baru ditambahkan setelah proses fermentasi tiga bulan selesai. Contohnya kulit lemon, daun cemara, rosmarin, dan daun poko. Cara panen dengan menyaring cairan untuk memisahkan dengan ampas. Pindahkan cairan ekoenzim pada botol-botol kecil agar lebih praktis. Ampas dapat dimanfaatkan sebagai kompos untuk menyuburkan tanaman.

Serbaguna

Lie Min Fu (bertopi) sukarelawan Komunitas Ecoenzyme Nusantara. (Dok. Lie Min Fu) 

Lie mencampurkan cairan ekoenzim, deterjen cair, dan air untuk mencuci piring. Perbandingannya 1:1:10, 1:1:5, atau 1:1:1. Ia menyarankan untuk mencoba dari dosis terendah. Adapun perbandingan antara ekoenzim dan detergen untuk mencuci pakaian 1:500. Jika ekoenzim untuk mandi dan keramas, cukup campuran ringan 1:400. Bila tidak terjadi iritasi, dosis ekoenzim bisa ditingkatkan hingga 1:100.

Dosis itu juga untuk menyembuhkan luka pada kulit seperti terkena pisau dan luka pada penderita diabetes melitus. “Untuk luka kecil biasanya saya celupkan langsung dalam larutan ekoenzim. Namun jika lukanya cukup besar, saya semprot atau kompres dengan kain,” kata Lie. Suatu ketika jarinya terluka akibat tergores golok saat bekerja di kebun.

Setelah mencelupkan luka pada larutan ekoenzim dan air selama satu menit, darah berhenti keluar. Selang beberapa jam, kulit yang terbelah itu mulai memutih dan mengeras pertanda luka akan segera menutup. Pemilihan bahan organik memengaruhi cairan ekoenzim yang dihasilkan. Menurut Lie ekoenzim dengan komposisi dominan kulit nanas menyebabkan iritasi kulit. Oleh karena itu, gunakan untuk pembersih atau desinfektan.

Ekoenzim menghemat penggunaan sabun cuci piring. (Dok. Lie Min Fu)

Sukarelawan Komunitas Ecoenzyme Nusantara itu juga kerap mandi dengan campuran ekoenzim dan air saja. Terkadang ia mencampurnya dengan sabun cair. “Saya dapat menghemat sabun mandi dan detergen. Biasanya pemakaian sabun sebulan sekarang bisa untuk tiga bulan,” kata alumnus pascasarjana Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bisnis Indonesia (STIE BI) jurusan Manajemen Bisnis itu.

Mira Andam Dewi dan rekan-rekan meneliti aktivitas antibakteri ekoenzim terhadap Escherichia coli penyebab gangguan saluran pencernaan dan Shigella dysentriae penyebab disentri. Tim peneliti dari Program Studi Farmasi, Universitas Jenderal Achmad Yani Cimahi, itu membuat ekoenzim dari bahan organik seperti sawi hijau, sawi putih serta kulit buah jeruk, mangga, dan jambu biji.

Hasilnya ekoenzim dengan pH 3,81 dan warna jingga kecokelatan. Riset Mira dan rekan-rekan membuktikan cairan ekoenzim bersifat bakterisida terhadap E. coli dan S. dysentriae. Konsentrasi ekoenzim 60% dapat membunuh kedua bakteri itu. Periset menduga aktivitas antibakteri itu lantaran adanya asam asetat dan asam laktat. (Sinta Herian Pawestri)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img