Friday, August 12, 2022

Duku Bulungan Harumnya Menguar dari Hutan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Saat penutup kotak styrofoam itu dibuka, aroma wangi langsung menguar. “Wow, harum sekali,” ujar Destika Cahyana, staf Trubus sambil mencium sebuah duku. Lantaran penasaran, ia lalu mencicipi buah berkulit kuning mulus itu. “Luar biasa. Rasanya lebih manis dan tekstur lebih empuk dibanding duku palembang,” imbuhnya. Itulah duku merapi dari Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur.


 

Tidak berlebihan bila pujian ditujukan pada duku bersosok bongsor itu. Sekilas penampilan Lansium domesticum merapi tak beda dengan duku palembang atau duku-duku lain. Kulit berwarna kuning terang dan mulus. Yang membedakan, duku merapi mengeluarkan aroma tajam. Lazimnya anggota famili Meliaceae itu tidak berbau. Ia kian istimewa karena rasanya pun manis. Tak pelak, rekan Trubus lain berebutan untuk mencicipinya.

Asyiknya menikmati duku merapi pertama kali Trubus alami saat berkunjung ke Kabupaten Bulungan di penghujung Februari 2005. Saat itu pohon-pohon tua setinggi 10—20 m sedang memamerkan buah. Pantas, kerabat langsat itu membanjiri pasar tradisional dan lapak-lapak buah di kabupaten beribukota Tanjungselor itu. Pun kabupaten-kabupaten tetangga seperti Tarakan, Berau, dan Malinau. Maklum, “Ini duku yang paling manis di sini,” ujar Ir Luthfi Bansir, staf Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan.

Merapi

Di wilayah yang semula bernama Kesultanan Bulungan itu, duku memang digemari. Konsumen menyukai duku dibanding langsat yang juga tumbuh di sana lantaran lebih manis dan bongsor. Harganya pun relatif murah, Rp5.000/kg. Pantas, di lapak kecil milik Nanang, pedagang buah asal Samarinda, minimal 16—20 kg ludes dibeli konsumen.

Sentra penanaman duku merapi terletak di Kampung Merapi, Desa Marasatu. Perjalanan ke sana membutuhkan waktu 15 menit menggunakan speedboat membelah Sungai Kayan ke arah hulu. Di sana ada Lusie yang mengelola 200 pohon di lahan seluas 2 ha. Total penanaman duku Kampung Merapi mencapai 25 ha.

Jangan bayangkan di kebun itu, pohon-pohon duku berbaris rapi dengan jarak tanam tertentu. Di dalam hutan duku tumbuh liar dari biji yang dibuang sembarangan. Perawatan intensif pun tidak dilakukan. Tak heran bila tanaman itu baru belajar berbuah pada umur 8 tahun.

Lantaran berupa pohon warisan berumur puluhan tahun, sosok pohon menjulang tinggi, mencapai 15—20 Batang berwarna cokelat keputihan mirip pohon langsat. Daun hijau gelap, lebat, dan berbentuk bulat. Percabangan pertama dimulai pada ketinggian 3—5 m dari permukaan tanah. Saat dikunjungi, sedang terjadi masa panen raya 4 tahunan. “Jadi, buah lebih lebat dan ukuran bongsor,” tutur Luthfi . Menurutnya produksi rata-rata mencapai 100—300 kg/pohon/musim.

Ciri khas duku merapi terlihat pada dompolan buah yang menyatu pada ranting. Sosok bulat berdiameter rata-rata 3—5 cm. Warna kulit kuning terang, mulus, dan tebal. Saat dibelah, air langsung mengucur dan terasa lengket, pertanda kadar air dan gula tinggi. Selain itu, duku andalan itu nyaris tak berbiji. Semua bagian daging buah dapat dimakan.

Antutan

Tak melulu merapi yang diincar mania duku di Bulungan. Duku antutan juga termasuk jenis yang digandrungi. Bahkan jenis ini paling mudah ditemui di lapak dan toko buah. Maklum, areal “penanaman” duku asal Desa Antutan itu paling luas dibanding 2 jenis lain: merapi dan buluperindu. Luasnya mencapai 50 ha.

Di desa yang terletak di balik hutan berawa di tepi Sungai Kayan itu pula terdapat satu pohon induk berumur 180 tahun. Toh, produktivitasnya tetap tinggi, mencapai 1.200 kg/pohon. Dibanding duku lain, produksi antutan memang paling tinggi. “Satu pohon berumur puluhan tahun minimal berproduksi 1.000 kg,” ucap alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Jember itu.

Pohon antutan tampak kekar. Percabangan pertamanya 1—3 m dari permukaan tanah. Daun hijau berbentuk bulat memanjang. Ukuran buah lebih besar dibanding duku merapi. Daging buah kering dan manis. Sayang, bijinya besar.

Buluperindu

Berbeda dengan merapi dan antutan, duku andalan Desa Buluperindu jarang dicari penggemar duku. Musababnya rasa buluperindu tidak semanis kedua saudaranya. “Rasa asam masih terasa,” tutur Luthfi . Wajar bila penanaman duku buluperindu hanya seluas 10—15 ha.

Di Desa Buluperindu, produksi buah lebih rendah, hanya 500—800 kg/pohon. Sosok pohon ramping tetapi tingginya mencapai 10 m. Daun kecil dan bulat.

Sosok buah kecil dibungkus kulit yang tebal. Kelebihannya, daging buah yang kering berpadu dengan biji yang jarang. Jika diteliti secara saksama, susunan buah duku buluperindu dan merapi memiliki kesamaan. Keduanya tidak bergerombol melainkan terpisah-pisah dalam satu tandan.

Nun, di tepian Sungai Kayan, 3 duku andalan Kabupaten Bulungan tengah menggeliat menuju ketenaran. Dari hutan-hutan Kalimantan aroma harumnya mulai menguar. (Rahmansyah Dermawan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img