Thursday, August 18, 2022

Pinjam Pandu untuk Buah Raja

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Siapa pun bakal tergoda untuk mencicipi durian ini. Dari luar, penampilannya sudah menawan. Sosok bulat berbelimbing dibalut duri pendek-pendek berwarna hijau. Siap-siaplah menahan nafas bila melihat isi buah setelah dibelah. Daging buah tebal berwarna kuning mentega memang menggiurkan. Sekali mencicipi dijamin ketagihan. Rasa manis dan legitnya menempel di lidah. Biji? Kebanyakan kisut.


 

Pantaslah dengan segala kelebihan itu Durio zibethinus itu jadi kebanggaan Dr Fuadi Yatim—sang pemilik. Wajar pula jika buah anggota famili Bombaceae itu sempat menjadi nominee dalam Lomba Buah Unggul Nasional 2004 untuk kategori durian.

“Bentuk buah menarik,” kata Prof Dr Sri Setyati Harjadi—guru besar emeritus Institut Pertanian Bogor yang menjadi salah satu juri. Kulit mulus tanpa luka bekas serangan hama atau benturan. Aroma khas durian tercium kala buah dibelah. Sosok sedang—berbobot ratarata 2 kg—membuat si buah berduri itu cocok dengan kebutuhan pasar.

Sayang, tekstur daging berserat, agak benyek, dan rasa sebagian pongge “dingin” membuat durian pramuka AA—begitu Fuadi menyebutnya—mesti rela menyerahkan gelar juara pada tong medaye asal Lombok dan tembaga batulayang dari Bengkulu.

Milik tetangga

Nun di kawasan Cipinang, Jakarta Timur, Fuadi menikmati pemandangan menawan setiap penghujung hingga awal tahun. Di halaman rumah dosen Jurusan Psikologi Universitas Indonesia itu pohon pramuka digelayuti 100—200 buah. Tanaman khas daerah tropis itu memang sudah terbilang berumur—saat ini sekitar 16 tahun.

Sosoknya setinggi 25 m dengan tajuk lebar. Pantas mampu melahirkan buah cukup lebat. Saat musim panen tiba, kelezatan pramuka tak hanya dinikmati Fuadi sekeluarga. Berbagai sanjungan untuk raja buah itu diterima dari rekan, kerabat, dan tetangga yang sempat mencicipi.

Kehadiran pramuka di kediaman ayah 4 anak itu bermula pada medio 1974. Saat berkunjung ke kediaman salah seorang tetangga, Fuadi terpikat sesosok pohon durian. Kebetulan kala itu thurian—nama di Th ailand—sedang berbuah lebat. “Melihat penampilan buah yang menarik, saya langsung tertarik untuk menanam juga,” kata psikolog anak dan remaja itu. Fuadi lantas meminta entres untuk perbanyakan.

Pucuk itu lantas disambung dengan batang bawah sitokong. Tiga tahun berselang, tanaman mulai belajar berbuah. Panen perdana, dipetik 5 buah dari pohon setinggi 2,5 m. Meski terbilang baru belajar berproduksi, kualitas buah yang dihasilkan lumayan istimewa. Manis, daging tebal, biji kecil, dan aroma harum. Sifat unggul itu bertahan pada panen-panen berikut.

Pandu

Nama pramuka sendiri dipilih Fuadi untuk menghormati Prof Dr Azrul Anwar. Pria itulah sang tetangga pemilik pohon induk. Kebetulan ia juga seorang aktivis di dunia kepanduan. Huruf AA di belakang merupakan insial Prof Dr Azrul Anwar.

Kini Fuadi tengah mengembangkan bibitbibit pramuka di kebun penangkaran mungil di samping kediamannya. Maklum beberapa rekan yang kepincut si raja buah tertarik ikut menanam.

Sekadar contoh, di salah satu kebun di Cisarua, Bogor, menghampar 100—200 pohon pramuka. Umur tanaman berkisar 2—6 tahun sehingga sebagian mulai belajar berbuah. Nah, kalau sudah begitu pada musim panen mendatang bisa jadi tak hanya warga seputaran Cipinang yang merasakan kelezatan si buah berduri itu. (Evy Syariefa dan Oki Sakti Pandana)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img