Tuesday, November 29, 2022

Enyah, Hai Pencuri Laba

Rekomendasi

Produktivitas cabai meningkat 1 ton setelah penggunaan pestisida untuk atasi hama dan penyakitCara efektif mengontrol hingga 100% hama dan penyakit cabai.

Ahmad Komarul Hadi tak kuasa menahan sedih. Tiga ribu tanaman cabai rawit Capsicum frutescens di lahan 2.500 m2  menguning, lalu membusuk. Sudah begitu, daun tanaman anggota famili Solanaceae itu penuh bercak pucat. Ahmad Komarul Hadi panen tak maksimal. Kejadian pada 2011 itu membuat petani cabai di Desa Sambirejo, Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, merugi  Rp15-juta.

Menurut Ir Budi Jaya, pemulia tanaman cabai di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Bandung, buah cabai di lahan Ahmad terserang 2 penyakit sekaligus: patek alias antraknosa dan bercak daun. Patek akibat cendawan Colletotrichum gloeosporoides menyerang buah dan ujung tunas muda. Sementara bercak daun ulah cendawan Cercospora sp. Makhluk liliput itu menyebabkan tanaman tidak tumbuh atau berbuah maksimal sehingga produksi tiarap.

 

Efektif

Budi Jaya mengatakan bahwa kelembapan tinggi pada musim hujan menyebabkan cendawan mewabah. Hanya pada musim hujan pengganggu itu datang.Saat kemarau kebun Ahmad pun tidak luput dari perampok laba. Kutu kebul Bemisia sp dan kutu daun Thrips parvispinus berbondong-bondong menggerogoti tanaman. Akibatnya kerusakan tanaman pun justru lebih luas. Wajar jika 2 tahun silam, Ahmad hanya  panen 3—4 ton di lahan 2.500 m2. Padahal, lazimnya ia bisa memperoleh 5—6 ton cabai kalau tidak terserang hama.

Atas anjuran seorang rekan, ia menggunakan pestisida Endure 120SC dan Closer 50WG untuk melindungi cabai dari serangan organisme pengganggu pada permulaan 2012. Menurut Manajer Pengembangan Pasar Sayuran PT Dow Agrosciences Indonesia, Rio Reyno Elia STP, bahan aktif Endure 120SC zat spinetoram. Itu hasil fermentasi bakteri Saccharopolyspora spinosa yang lazim dijumpai di tanah produktif. Bakteri itu berfungsi menguraikan bahan organik kompleks menjadi komponen yang lebih sederhana dan siap diserap tanaman.

“Berdasarkan uji coba, hasil metabolisme bakteri itu mampu mengendalikan serangga dari jenis kepik, kupu-kupu, ngengat, lalat, dan kutu daun,” kata Rio. Sementara Closer 50WG berbahan aktif sulfoksaflor 50% efektif mengontrol kutu-kutuan seperti kutu kebul Bemisia sp, tungau Mizus sp, Aphid, dan kutu daun. Sejak itu, penyakit dan hama di ladang cabai milik Ahmad pun 100% terkendali. “Penampilan tanaman menjadi lebih hijau dan segar,” tutur Ahmad. Untuk mengatasi cendawan dan bakteri, ia menyemprotkan fungisida berbahan aktif mankozeb 80%. Hasilnya kini ia mampu memanen hingga 5 ton per 2.500 m2.

Ahmad tidak sendirian memetik manfaat itu. Nun di Desa Bedewang, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, Yance mengalami hal serupa. Ia menggunakan Endure sejak 2 tahun silam dan Closer pada awal 2013. “Hama dan penyakit mampu dikontrol hingga 80%. Daun lebih segar, pupus terlihat transparan, dan hasilnya lebih bagus,” ungkapnya. Yance mengencerkan 1,5 ml pestisida pertama per liter air, sementara aplikasi pestisida kedua sebanyak 48 g per 14 liter air.

Yance menyemprotkan keduanya secara berselang-seling. Pada pekan berikutnya ia akan melakukan hal serupa hingga tanaman berbuah. Hasilnya ia mampu produksi minimal 45 kg per 4 hari hingga 34 kali petik dan memperoleh 6 ton cabai dari lahan seluas 3.500 m2.

Aman

Menurut Rio, Endure 120SC tergolong merek ramah lingkungan. Terbukti pada 2008 meraih penghargaan Greener Chemicals Award dari Badan Perlindungan Lingkungan (EPA), Amerika Serikat. Lantaran berasal dari bahan alam, spinetoram aman untuk lingkungan. “Toksisitas spinetoram terhadap organisme bukan target 10—34 kali lebih rendah dibandingkan insektisida berbahan aktif azinfos-metil atau fosmet, yang banyak digunakan produk lain di pasar,” kata Rio.

Ia menganjurkan petani untuk menggunakannya sesuai dosis di kemasan. “Jika tidak, efektivitasnya berkurang dan membuat hama resisten,” kata Rio. Dua produk itu termasuk semikimia sehingga baik untuk revitalisasi tanah. Riset Yasutaka Himokawatoko dan rekan dari Sumitomo Chemical, perusahaan bahan kimia di Jepang membuktikan spinetoram efektif mengendalikan berbagai hama termasuk kutu daun dan lalat putih sehingga meningkatkan kualitas dan produktivitas pertanian.

Menurut Badan Pestisida dan Obat-obatan Hewan Australia, sulfoksaflor efektif mengontrol serangga pengisap termasuk kutu daun, kepik, lalat putih, wereng, dan kutu putih. Pantas jika Rio mengatakan bahwa tingkat kepuasan petani menggunakan produknya sangat tinggi. Sebab, selain mampu mengontrol hama dan penyakit, kualitas terjaga. Terbukti, Ahmad dan Yance mampu memanen hasil tinggi. (Lutfi Kurniawan)

 

FOTO:

  1. Rio Reyno Elia STP, Marketing Development Manager Vegetable Dow Agrosciences Indonesia, mengatakan gunakan pestisida sesuai dosis di kemasan
  2. Produktivitas cabai meningkat 1 ton setelah penggunaan pestisida untuk atasi hama dan penyakit
  3. Penggunaan pestisida tepat mampu menekan ledakan hama dan penyakit tanaman cabai sepanjang tahun
  4. Busuk buah akibat cendawan Antrachnose sp menyebabkan produktivitas cabai turun

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img