Tuesday, November 29, 2022

Genjah dari India

Rekomendasi
“Manik masuk dalamkriteria cabai merahkeriting super sehinggaselalu dihargai lebihtinggi,” kata Iswantomenirukan ucapanpengepul
“Manik masuk dalam kriteria cabai merah keriting super sehingga
selalu dihargai lebih tinggi,” kata Iswanto menirukan ucapan pengepul

Cabai dengan segudang kelebihan: cepat panen, produksi tinggi, irit pupuk, dan tahan penyakit.

Pagi itu, Kamis 3 Januari 2013, Iswanto menanggalkan baju seragam, bersalin kaos putih santai, lalu pergi ke kebun. Senyumnya semringah melihat 3.000 tanaman cabai merah keriting berjarak tanam 60 cm x 60 cm sarat buah. “Ini baru petikan keempat, saya sudah memperoleh 200 kg,” kata anggota kepolisian Polsek Keraton, Polresta Yogyakarta, itu.

Iswanto memanen cabai pada umur 85-90 hari setelah tanam (hst), 10-15 hari lebih cepat dibanding petani sekitar. Biasanya mereka baru panen kala tanaman menginjak umur 95-105 hst. Iswanto sudah 6 kali menanam di lahan berbeda. Total jenderal dalam satu musim tanam ia menuai rata-rata 1,25 kg buah per tanaman.

Sosok buah relatif bongsor dengan 4,5 gram per buah atau sekilo isi 220 buah. Panjang buah dari pangkal sampai ujung mencapai 17 cm. Penampilan kulit buah merah cerah mengilap. Dalam satu kali musim tanam, Iswanto mampu panen hingga 25-30 kali petik. Tetangga kebunnya paling banter memperoleh 0,5 kg buah per tanaman dari 14 kali pemetikan.

Dengan harga jual Rp8.000 per kg omzet total mencapai Rp30-juta per musim tanam. Pengepul berani membanderol dengan harga tinggi lantaran buah tergolong kualitas super. Pria berusia 34 tahun itu menghitung biaya produksi per tanaman sebesar Rp2.200. Itu berarti ia masih mengantongi laba Rp23,4-juta di luar biaya sewa lahan.

Panen panjang

Iswanto menanam cabai genjah berproduksi tinggi keluaran PT Nunhems Seed. Nama manik disematkan pada buah Capsicum annuum itu lantaran warna kulit mengilap seperti manik permata. Menurut konsultan PT Nunhems Seed, Sudadi Ahmad, potensi hasil cabai manik 1-1,5 kg per tanaman. Cabai hibrida asal India itu toleran kekeringan sehingga mampu ditanam di musim kemarau, cocok ditanam di dataran rendah sampai menengah baik pada kondisi lahan basah maupun tadah hujan. Manik terus-menerus berbunga sehingga bisa panen jangka panjang.

Iswanto mengatakan ia sejatinya bisa panen hingga 30 kali pemetikan. Namun, pemanenan pada Januari 2012 misalnya dibatasi hingga petik ke-25 karena sebagian buah tertular busuk buah dari kebun tetangga. Busuk buah alias antraknosa akibat serangan cendawan Colletotrichum gloeosporoides itu muncul sejak petikan ke-15. Pemicu patek curah hujan tinggi pada Januari yang menyebabkan kelembapan di tajuk tinggi. Toh, dari 3.000 tanaman ia masih bisa menuai 300 kg cabai per petikan hingga 10 kali saat puncak panen. Total jenderal hasil pada masa puncak mencapai 3.000 kg.

Di luar itu ia memanen 50-100 kg cabai per petikan. Panen di luar masa puncak mencapai 15 kali petikan. Jika diasumsikan setiap kali petik didapat 50 kg saja maka total panen di luar puncak panen mencapai 750 kg. Itu berarti total panen selama satu musim tanam  3.750 kg per 3.000 tanaman atau 1,25 kg per tanaman. Produktivitas nasional rata-rata cabai keriting merah hanya 0,8 kg per ha.

Produktivitas manik pekebun lain di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Nur Khozin, rata-rata 0,8 kg cabai per tanaman. Hasil panen lebih rendah karena ia menanam di tanah padas sehingga lapisan olahnya tipis. Bandingkan dengan lahan Iswanto yang gembur. Toh bagi Khozin itu sudah sebuah perbaikan. Saat menggunakan varietas lain paling banter ia menuai 0,5 kg per tanaman. Sudah begitu, biaya produksi per tanaman justru lebih murah. Pria 39 tahun itu menghitung, biaya budidaya manik hanya Rp3.000 per tanaman, sudah termasuk sewa lahan. Saat menanam varietas lain, biayanya mencapai Rp4.500 per tanaman.

Irit pupuk

Penghematan biaya itu karena manik irit pupuk. Iswanto cukup empat kali memberikan pupuk susulan selama satu kali masa tanam. Pekebun lain yang menanam varietas lain biasanya memberikan pupuk susulan hingga 12 kali per musim tanam. Total jenderal Iswanto menghabiskan 45 kg NPK dan 7 kg KCl untuk 3.000 batang manik. Pemberian pupuk pada 15, 30, 65, dan 90 hst. Dengan harga NPK Rp8.000 per kg dan KCl Rp7.000 per kg, biaya pemupukan hanya Rp468.000 dalam satu kali masa tanam.

Menurut Sudadi Ahmad penggunaan pupuk lebih irit karena akar manik bercabang banyak sehingga lebih efisien dalam menyerap pupuk. Daun tanaman anggota keluarga Solanaceae itu juga berbentuk kecil dan lonjong sehingga penguapan sedikit. Dengan demikian pemanfaatan energi untuk pertumbuhan tanaman lebih optimal.

Manik berasal dari India. Ia terpilih dari ratusan calon varietas yang didatangkan pada 6 tahun silam. Sebelum dilepas ke pasar manik menjalani serangkaian ujicoba antara lain ujicoba penanaman selama dua tahun di kebun percobaan milik PT Nunhems di Klaten dan Wonosobo serta di kebun mitra selama dua tahun. Hasil uji menunjukkan penggunaan pupuk lebih sedikit, tapi tidak menurunkan produksi.

Manik juga bandel terhadap serangan penyakit. Hingga akhir 2012 Iswanto sudah 6 kali menanam manik. Suatu kali para pekebun sekitar hanya mampu panen hingga 14 kali petikan karena banyak tanaman terserang virus kuning. Di lahan Iswanto populasi terserang justru hanya 5%. “Dinding selnya (manik, red) keras sehingga sulit ditembus oleh serangga bertipe mulut pengisap dan penusuk seperti kutu kebul,” kata Sudadi Ahmad.

Virus kuning alias gemini menyebar melalui perantara kutu kebul Bemisia tabaci yang memiliki tipe mulut pengisap dan penusuk. Kutu kebul menularkan virus kuning secara persisten, artinya sekali menyerang tanaman terinfeksi virus, maka si kutu menjadi perantara virus seumur hidup. Balai Proteksi Tanaman Pertanian (BPTP) Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat virus kuning merebak sejak tujuh tahun lalu. “Kabupaten Sleman merupakan wilayah endemik virus kuning. Serangan hampir merata di setiap lahan petani,” kata petugas pengendali organisme pengganggu tanaman Daerah Istimewa Yogyakarta, Haryadi.

Ahli penyakit tanaman dari Klinik Tanaman di Institut Pertanian Bogor, Dr Widodo menuturkan penanggulangan penyakit akibat virus itu sangat sulit. Ia menyarankan untuk melakukan sanitasi lahan. Di sekitar areal tanam cabai sebaiknya bebas dari tanaman inang bagi virus kuning seperti tanaman anggota keluarga Solanaceae (terong dan tomat) serta gulma babadotan Ageratum conyzoides. “Tanpa tanaman inang, serangan virus dan populasi kutu kebul sebagai vektor bisa terkendali,” katanya. Tindakan preventif dan pengendalian dengan pestisida misalnya dapat menggunakan pestisida berbahan aktif spirotetramat dan imidakloprid keluaran PT Bayer Indonesia.

Peneliti cabai dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor, Dr Muhamad Syukur SP MS menuturkan virus kuning masuk ke tanahair sejak 10 tahun terakhir. Biang keladi penurunan produksi cabai itu memiliki beragam isolat sehingga varietas yang tahan terhadap isolat tertentu belum tentu tahan terhadap isolat lainnya. “Biasanya varietas baru untuk mengatasi serangan penyakit dengan beragam isolat memiliki ketahanan medium. Artinya dapat bertahan di beragam kondisi,” kata Syukur. Salah satunya seperti yang dirasakan Iswanto dengan memilih cabai bak kilau manik yang genjah, produktif, irit pupuk, dan tahan penyakit. (Andari Titisari)

Keterangan Foto :

  1. “Manik masuk dalam kriteria cabai merah keriting super sehingga selalu dihargai lebih tinggi,” kata Iswanto menirukan ucapan pengepul
  2. Manik memiliki tingkat kepedasan mencapai 35-40 scoville
  3. Varietas manik tahan serangan virus kuning
  4. Nur Khozin melakukan pembibitan dalam sungkup untuk mencegah infeksi virus kuning pada bibit
  5. “Manik memiliki resistensi terhadap serangan serangga penusuk dan pengisap,” kata Sudadi Ahmad
  6. Lahan milik pekebun yang terserang virus kuning. Paling banter produksi per batang 0,5 kg
Inspirasi UlatRizqi Sunarto, petani cabai di Desa Kebonduren, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, punya trik mendongkrak produksi cabai merah keriting dari 0,6 kg menjadi 1,6 kg per pohon.

Pada Juli 2010 ia menyemai 4.000 benih cabai keriting ke media tanam berupa kompos dan tanah dengan perbandingan 1:1. Sebelum tanam, Sunarto membuat bedengan dengan lebar 110 cm, jarak antar bedeng 70 cm. Sebagai pupuk dasar Sunarto membenamkan 5 kg pupuk bokashi dan 5 g TSP-36 per tanaman. Ia mengambil separuh dari 4.000 bibit untuk diberi perlakuan. “Saya ingin membandingkan hasil teknik pangkas untuk memperbanyak cabang dengan cara konvensional,” tuturnya.

Dua perlakuanSelanjutnya Sunarto hanya membedakan 2 hal: jarak tanam dan pemangkasan. Ia memangkas pada 20 hst. Pria kelahiran 31 silam itu memotong ujung tanaman dengan kuku hingga menyisakan 5-6 daun dihitung dari bawah. Di lahan lebih luas luas, perlakuan itu bisa dengan menggunakan gunting pangkas. “Pilih calon batang yang tegak ke atas,” tuturnya. Kalau tidak ada yang bagus dapat naik ke atas maksimal 7 daun. (lihat ilustrasi). Ia menanam tanaman yang dipangkas pada jarak 60 cm x 60 cm; tanpa pangkas, 50 cm x 50 cm. Pembedaan itu untuk memberikan ruang tumbuh optimal bagi cabang baru hasil pangkasan. Pemupukan dan penyemprotan pestisida sama antara yang diberi perlakuan dengan yang tidak.

Pada 70-75 hst, Sunarto mulai panen. Per tanaman ia mendapat 1,6 kg cabai keriting segar dari tanaman pangkas; tanpa pangkas, 0,6 kg. Menurut ahli fisiologi tumbuhan dari Institut Pertanian Bogor, Ir Edhi Sandra MSi, pemotongan cabang meningkatkan produksi lantaran merangsang pertumbuhan cabang baru. “Semakin banyak cabang, semakin banyak pucuk yang mengandung hormon auksin,” kata Edhi. Efeknya akar terpacu mengalirkan nutrisi lebih banyak sehingga setiap cabang memunculkan buah.

Cara itu memang mengurangi populasi. Biasanya Sunarto menanam 2.000 tanaman di lahan seluas 5.000 m2. Dengan teknik pangkas, jumlahnya tinggal 1.388 tanaman. Ia belum menghitung biaya pangkas. Biaya perawatan lain menurut hitungan Sunarto tetap sama, berkisar Rp2.500 per pohon. “Biaya pemangkasan tertutup dengan penghematan penggunaan benih dan ajir, ” kata Sunarto. Harga cabai keriting pada 2010 sekitar Rp27.000 sehingga ia mengantongi laba Rp56,49-juta dari teknik pangkas. Sementara hasil tanpa pangkas hanya separuhnya, yaitu Rp27,4-juta. (Bondan Setyawan)

Previous articleOlimpiade dalam Kumbung
Next articleSewindu Buah Surga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img