Saturday, January 17, 2026

Geopark Ciletuh: Menjaga Warisan di Taman Bumi

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Taman Bumi Ciletuh-Palabuhanratu membentang seluas 126.100 hektare (ha). Kawasan itu meliputi delapan kecamatan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat yang terdiri dari Ciemas, Ciracap, Waluran, Surade, Simpenan, Palabuhanratu, Cikakak, dan Cisolok.

Berdasarkan karakteristik geologi dan geomorfologi Taman Bumi CiletuhPalabuhanratu terbagi menjadi tiga kelompok area yakni Geoarea Cisolok di utara, Geoarea Jampang di tengah, dan Geoarea Ciletuh di selatan.

Formasi Ciletuh terdiri atas batu pasir kuarsa-konglomeratik yang mengandung sisipan tipis batubara. Satuan batuan yang terbentuk pada zama Eosen, sekitar 45 juta tahun lalu.

Tumbukan lempeng Benua Eurasia dan Samudra Indo-Australia mengakibatkan dasar lautan terangkat menjadi daratan yang selanjutnya membentuk amfiteater alam di Kecamatan Ciemas.

Sebagian kawasan Ciletuh-Palabuhanratu masih berupa tumbuhan alami sisa hutan dan sebagian besar vegetasi merupakan tanaman budidaya yang ada di hutan produksi, kebun, talun, sawah, ladang, dan huma.

UNESCO menetepkan Cilteuh Palabuhanratu sebagai taman bumi nasional pada 2016 dan taman bumi global pada 2018. Pemerintah daerah membentuk Badan Pengelola Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark (CPUGGp) di bawah naungan Bupati Sukabumi.

Ketua Harian Badan Pengelola CPUGGp, Dodi Somantri, mengatakan pengembangan kawasan taman bumi berbeda dengan taman pada umumnya yang identik dengan beton.

“Membangun geopark bukan berarti harus membangun secara fisik. Harus hati-hati karena ada kawasan konservasi yang harus dipertahankan,” kata Dodi.

Tidak semua situs geologi dibangun menjadi destinasi wisata. Musababnya ada kawasan konservasi yang mesti dipertahankan kelestariannya sehingga memerlukan izin khusus bagi pengunjung. Sejatinya ada tiga komponen penting yang menjadi fokus pengembangan taman bumi yakni keragaman geologi, biologi, dan budaya.

Pemkab Sukabumi juga membina usaha kerakyatan seperti pembatik, pembuat gula aren, dan produk keripik mangga. Pangan lokal jali (Coix lacryma-jobi) turut dikembangkan di Kecamatan Waluran. Hal unik lainnya yaitu penginapan yang dikelola mantan tenaga kerja wanita di Arab Saudi.

Upaya menggerakkan sektor ekonomi itu sejalan dengan semboyan taman bumi yaitu memuliakan bumi, memakmurkan masyarakat.

Ketua Pusat Penelitian Geopark dan Kebencanaan Geologi, Universitas Padjadjaran, Prof. Ir. Mega Fatimah Rosana, M.Sc. Ph.D., mengatakan pembangunan di kawasan taman bumi, terutama akses jalan, memang penting.

Namun jangan sampai kemudahan akses tersebut mendorong manusia untuk semakin masuk ke habitat flora dan fauna. Mega mencontohkan elang jawa dan lutung kerap terlihat di kawasan tebing amfiteater yang status lahannya masih termasuk hutan penggunaan lain (HPL).

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img