Friday, August 12, 2022

Gudang Koi Juara & Hobiis Fanatik

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Delapan belas koi koleksi Felix Denanta meraih 3 gelar utama dan 15 penghargaan di berbagai kelas pada kontes bergengsi di Tokyo, Jepang.

Red queen, koi jenis kohaku berumur 7 tahun milik Felix Denanta,  menorehkan prestasi terbaik sebagai runner up grand champion. Andai saja para juri tak menemukan sebuah noktah kecil di sebuah sisik, si ratu merah berpeluang besar meraih gelar paling bergengsi, yakni grand champion. Noktah itu boleh jadi akibat ikan terantuk saat pengangkutan. Meski begitu hobiis koi di Jakarta itu senang bukan main.

“Jangankan meraih gelar runner up grand champion, masuk peringkat tiga besar di setiap kelas saja sudah prestasi luar biasa,” ujar pengusaha itu. Harap mafhum, dalam kontes bertajuk The 43rd Combined Nishikigoi Show 2012-adu molek koi paling bergengsi di dunia-koleksi Felix bersaing dengan 1.300 peserta lain. Memperoleh kabar itu ia lalu terbang ke Negeri Sakura dan menuju Tokyo Ryutsu Center, lokasi kontes koi.

Juara dunia

Kegembiraan Felix semakin lengkap saat para juri menobatkan dua koleksinya meraih gelar yang tak kalah bergengsi. Showa sanshoku 80 cm miliknya meraih gelar superior champion. Lalu, kohaku jantan 85 cm mendapatkan gelar superior male champion. Koi lain milik Felix juga berhasil merengkuh 15 penghargaan di berbagai kelas. Atas torehan prestasi itu, juara umum pun jatuh ke tangan Felix.

Pada perhelatan akbar itu, Yohanes Jusuf juga merasakan kegembiraan. Koleksi-koleksi hobiis asal Bandung, Provinsi Jawa Barat, itu juga sukses meraih gelar, kokugyo prize 90 Bu. “Peringkatnya setara juara ke-3 grand champion,” ujar Kiki Sutarki yang kerap mengikuti kontes di Jepang. Penghargaan itu menambah panjang daftar prestasi kohaku 90 cm itu. Sebelumnya ia sukses meraih gelar superior champion pada kontes 42nd Zen Nihon Rinyukai 2011 di Jepang pada November 2011. Koi lain koleksi ayah 2 anak itu juga sukses memperoleh 6 penghargaan di berbagai kelas.

Bagi Hartono Sukwanto, kontes pada 4-5 Februari 2012 itu begitu istimewa. Koi-koi koleksi Sukwanto meraih total 11 penghargaan di berbagai kategori. Penghargaan itu menempatkan Hartono sebagai peraih poin terbanyak ke-5. “Penghargaan yang diraih pada kontes dunia kali ini adalah lonjakan prestasi luar biasa,” ujar ketua klub ZNA Bandung Chapter itu. Bandingkan dengan kontes serupa sebelumnya, koleksinya hanya menyabet satu penghargaan, yakni best in size 30 Bu.

“Ini prestasi terbaik yang pernah dicapai hobiis koi tanahair di ajang internasional,” ujar Achmad Soni, hobiis koi di Bandung, Jawa Barat, yang mendapat 3 penghargaan dalam kontes koi sejagat itu. Koi-koi milik hobiis di tanahair itu membuktikan bahwa Indonesia memang gudang koi terbaik dunia. Menurut Ketua Asosiasi Pencinta Koi Indonesia (APKI) Budi Widjaja, 95% produksi koi Jepang mengisi pasar ekspor seperti ke Amerika Serikat, Indonesia, dan Inggris.

“Dari jumlah itu 60% di antaranya terserap pasar Indonesia. Koi itu barang mewah. Hanya sedikit orang Jepang yang mampu mengoleksinya,” kata Budi Widjaja. Bermodal koi-koi berpenampilan prima itu, maka para hobiis Nusantara sangat antusias mengikutkan klangenannya di berbagai ajang adu molek tingkat dunia. “Indonesia merupakan negara ke-2 setelah Jepang yang hobiisnya paling antusias mengikutkan kontes,” ujar Kiki Sutarki, importir koi asal Bandung, Jawa Barat.

Marak kontes

Selain kontes di mancanegara, frekuensi adu indah ikan anggota famili Cyprinidae itu di dalam negeri juga kian meningkat. Berdasarkan data Asosiasi Pencinta Koi Indonesia, pada 2008 hanya terselenggara 11 kontes. Setahun sebelumnya malah cuma 2 kali.  Frekuensi makin kerap pada 2011, yakni 14 kali dan pada 2012 APKI menjadwalkan 15 kontes. “Itu belum termasuk kontes lain yang diselenggarakan tanpa pemberitahuan kepada APKI,” kata Budi Widjaja.

Peserta kontes pun membeludak. Pada beberapa kontes nasional seperti 8th All Indonesian Koi Show 2011, jumlah peserta mencapai 1.311 ekor milik 283 hobiis dari seluruh Indonesia. Sebelumnya pada kontes The 1st Bandung Young Koi Show 2011, jumlah peserta mencapai 983 ikan milik 294 hobiis.

Maraknya kontes sejak 4 tahun terakhir, memicu permintaan koi impor. Sugiarto Budiono yang mengelola Jakarta Koi Center, misalnya, mengimpor 5-6 kali per tahun. Sekali impor Sugiarto mendatangkan 1.000 koi berukuran 15-25 cm dan 50 koi berukuran lebih dari 50 cm. “Menjelang kontes koi impor itu ludes dalam 2-3 bulan, padahal biasanya 6 bulan,” ujar ketua Komisi Ikan Hias Indonesia (KIHI) itu.

Di tanahair, para hobiis mengandalkan koi asal Jepang untuk meraih juara pada setiap kontes. Lihat saja koi-koi asal negeri di timur jauh itu mendominasi para jawara kontes All Indonesian Koi Show pada 2010 dan 2011.Taisho sanshoku berukuran 82 cm milik Didi Wikara menyabet gelar grand champion pada kontes paling bergengsi di tanahair itu.  Hobiis di Bogor, Jawa Barat, itu memperoleh taiso sanshoku dari Jepang.

Koi asal Jepang kerap juara lantaran mampu mencapai ukuran hingga lebih dari 90 cm dengan kualitas tetap prima. “Selama ini grand champion didominasi ikan berukuran jumbo, lebih dari 60 cm,” ujar Budi. Sementara koi produksi peternak di tanahair, sulit mencapai ukuran itu. Selain itu, “Corak warna bisanya pudar dan pertumbuhannya mandek setelah berumur 3 tahun,” ujar Budi.

Penyebabnya, para peternak menggunakan induk yang belum optimal. Budi mengatakan banyak peternak memanfaatkan koi 60 cm sebagai induk. Akibatnya pertumbuhan anakan tidak akan lebih daripada ukuran induk. Itulah sebabnya hobiis yang gemar mengikuti kontes, sebagian besar mengandalkan koi asal Jepang untuk meraih gelar juara.

Dominasi lokal

Sejatinya tak semua hobiis membeli koi impor bertujuan untuk mengikuti kontes. Beberapa hobiis membeli koi dari Jepang sekadar untuk menikmati keindahannya. Tony Tjahjadi hobiis di Serpong, Kotamadya Tangerang Selatan, Provinsi Banten, menikmati kemolekan koi-koi asal Jepang. Ia membuat kolam 60 m2 sedalam  2 m. Di Kelapadua, kota Depok, Jawa Barat, Tatag Pujiono, mengoleksi 25 koi impor.

“Saya tertarik memelihara koi impor karena memiliki corak indah dan rata-rata berukuran jumbo,” ujar Tatag. Kerabat ikan mas itu menjadi pelepas penat Tatag usai bekerja. “Walau pun saya pulang kerja pukul 00.00, saya tetap meluangkan waktu untuk sekadar memberi pakan sambil bercengkerama dengan ikan,” katanya. Ia menempatkan koleksinya di sebuah kolam berukuran 1,25 m x 2,75 m x 1,5 m.

Seolah-olah koi impor begitu mendominasi. Padahal, menurut Budi Widjaja jumlah koi impor hanya 10% dari total populasi koi di tanahair. Sisanya produksi para peternak di beberapa sentra seperti Blitar, Jawa Timur, Sukabumi (Jawa Barat), Yogyakarta, dan Purwokerto (Jawa Tengah). Menurut Arif Wicaksono dari Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Dinas Perikanan Kabupaten Blitar, produksi koi di Blitar pada 2009 mencapai 141.492.500 ekor senilai Rp707.462.500.000. Pada 2010 produksi meningkat menjadi 142.300.000 ekor senilai Rp711.500.000.

Menurut peternak senior koi di Blitar, Moerdoko, pemintaan koi pada 2011 naik 15% ketimbang 2010. Peternak lain di Blitar, Agus Riyanto menuturkan sejak Oktober 2011 permintaan koi terus merangkak hingga 30%. Agus rata-rata menjual 1.000 ekor per bulan, semula cuma 800 ekor. Ukuran ikan bervariasi, 15-20 cm hingga 25-35 cm. Sayangnya, peternak yang kerap menjadi juri kontes itu enggan menyebutkan jumlah omzet.

Di sentra lain, Yogyakarta, Santosa juga mengalami lonjakan permintaan, menjadi 500 ekor, sebelumnya hanya 200-300 ekor per bulan. Ketua Surabaya Koi Club, Sugeng Cahyono, mengatakan maraknya kontes turut berperan mendongkrak permintaan koi produksi para peternak. Apalagi kualitas koi lokal juga kian meningkat. Buktinya beberapa koi koleksi Sugeng hasil tangkaran sendiri, meraih juara di kelas ukuran di bawah 50 cm. Malahan koleksi Fauzia Keller, hobiis di Bekasi, Jawa Barat, menyabet 2 gelar juara saat kontes di Swiss. Pada kontes itu Fauzia juga mengikutkan 2 koi impor, tapi hanya memperoleh 1 penghargaan.

Dalam kontes di tanahair koi lokal hanya mampu berjaya pada kelas berukuran di bawah 40 cm. “Kalau lebih dari itu sulit bersaing dengan koi impor,” ujar Sugeng. Kini kesempatan koi lokal unjuk gigi di arena kontes semakin terbuka setelah APKI menyelenggarakan Breeder Koi Show perdana di Bandung pada 2011. Peserta kontes itu hanya koi produksi peternak lokal, bukan impor.

Hobiis tumbuh

Menurut Budi Widjaja, permintaan koi semakin kencang karena bertambahnya hobiis baru. Itu terlihat dari jumlah klub yang menjadi anggota APKI terus bertambah. Saat berdiri pada 2003, jumlah anggota hanya 7 klub, pada 2011 menjadi 25 klub. Jumlah anggota klub di berbagai daerah juga terus bertambah. Anggota Surabaya Koi Club pada 2007 hanya 25-30 orang,  meningkat menjadi 60-70 orang pada 2011.

Penambahan hobiis tentu saja potensi pasar yang amat besar. Heri Hartono di Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, mengendus potensi itu. Heri yang semula hobi merawat koi, serius membudidayakan dengan menyewa satu kolam tanah berukuran 10 m x 20 m dua tahun lalu.  Kini karyawan salah satu badan usaha milik negara itu memiliki 17 kolam ternak berbagai ukuran.

Dari kolam itu Heri menjual rata-rata 50 ekor berukuran 20-25 cm per bulan. Harga rata-rata Rp100.000-Rp150.000 per ekor. Belum lagi hasil penjualan koi berkualitas kontes. “Harga koi kualitas kontes relatif, tergantung kesepakatan harga dengan si pembeli,” ujar ayah 2 anak itu. Oh ya, pria yang gemar bermain gitar itu bukan hanya menjual koi-koi terbaik, bahkan koi apkir pun terserap pasar.

Koi apkir laku untuk mengisi kolam di taman rumah, perkantoran, pusat perbelanjaan, atau penginapan. Ciri koi apkir adalah ikan yang bentuk tubuhnya kurang proporsional dan berwarna kurang tegas. “Para pedagang ikan hias di Cibinong rutin minta pasokan 1.500 ekor koi apkir per pekan,” katanya. Harga jual koi apkir Rp1.000-Rp2.000 per ekor ukuran 10-15 cm.

Budi mengatakan masyarakat butuh suasana asri di halaman rumah atau tempat rekreasi sehingga membuat pasar koi terdongkrak. Salah satu cara menghadirkan suasana asri dengan membuat kolam sebagai elemen taman. Jadul Village, penyedia jasa penginapan dan spa di Kota Bandung, membangun kolam seluas 150 m2 terdiri atas 400 koi di bagian lobi vila. “Saat ini koi menjadi pilihan pengisi kolam karena keindahannya dilihat dari atas,” ujar Budi.

Itulah sebabnya permintaan membangun kolam mengalir deras ke tangan Christian S AB peternak koi di Bandung. Saat ini ia sudah menerima 10-15 order pembuatan kolam rata-rata berkapasitas 20 m3. Salah satunya factory outlet ternama di kawasan Setiabudi, Bandung. Itu menjadi bukti bahwa koi bukan hanya bergairah di kalangan hobiis penggemar kontes, tapi juga dirasakan para peternak. (Imam Wiguna/Peliput: Andari Titisari, Bondan Setyawan, Desi Sayyidati, Pranawita Karina, Riefza Vebriansyah, Rosy Nur Apriyanti, Susirani Kusumaputri)

Kenali Koi

1. Kohaku

Tubuh putih dengan pola warna merah

2. Sanke

Memiliki tiga warna: merah, putih, dan hitam

3. Koromo

Pola warna merah dengan keliling berwarna gelap

4. Kawarimono

Nonmetalik yang tidak termasuk dalam kelompok lainnya

5. Kage

Terlihat memiliki bayangan

6. Asagi

Biru keabu-abuan dengan warna merah di sisi badan, sisi kepala, dan sirip

7. Doitsu

Sisik hanya dibagian punggung atau sisi saja

8. Showa

Hitam dengan pola warna merah dan putih

9. Hikari utsuri

Utsuri berwarna metalik

10. Chagoi

Berwarna cokelat

11. Hikarimoyo

Berwarna metalik dengan 2 atau 3 warna

12. Goshiki

Asagi yang mempunyai pattern warna merah

13. Gin rin

Sisik keemasan atau keperakan

14. Hikarimuji mono

Berwarna tunggal metalik

15. Usturi

Belang warna hitam

16. Tancho

Bulatan merah di kepala

17. Bekko

Warna dasar solid dihiasi titik hitam yang menyebar

 

Koi Jagat Maya

Banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar komputer untuk bermain-main. Muhamad Cakra Buana juga kerap memelototi peranti itu, tetapi bukan untuk bermain. Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Perikanan Blitar, Jawa Timur, mengais rezeki hingga Rp500.000 per hari dari hasil penjualan koi. Itu termasuk Sabtu dan Ahad. Cakra mengantongi rata-rata Rp15-juta dari penjualan koi secara online itu.

Padahal, Cakra tak mempunyai kolam sendiri. Kolam milik ayahnya kini dikelola sang kakak, Muhamad Maha Whisnu. Modal anak kedua dari 3 bersaudara itu hanya komputer yang tersambung ke jaringan internet. Dengan komputer itulah Cakra mengunggah foto-foto aneka jenis koi di situs penjualan online. Yang menjadi “model” foto adalah koi pilihan dari para peternak di sekitar rumah.

Ia memilih koi grade B berukuran lebih dari 25 cm. Dalam pelelangan itu Cakra hanya punya waktu 3 hari. Setelah tenggat lelang berakhir, maka penawar tertinggi yang akan mendapatkan ikan itu. Bila sang penawar sepakat, maka Cakra pun mengemas ikan dan mengirimnya melalui jasa pengiriman kereta api. Sebagian besar penawar berasal dari Jakarta, Surakarta (Jawa Tengah), Yogyakarta, Semarang (Jawa Tengah), dan Surabaya (Jawa Timur). Dalam sehari Cakra bisa menjual rata-rata 10 ekor.

Menurut ketua Asosiasi Pecinta Koi Indonesia (APKI), Budi Widjaja, kehadiran para pedagang perantara seperti Cakra tak dapat dihindari dalam rantai tataniaga koi di tanahair. “Kehadiran mereka justru dapat membantu mendongkrak pemasaran koi produksi peternak,” tuturnya. Asalkan seluruh proses transaksi dilakukan secara jujur, maka penjualan secara online dapat menjadi salah satu alternatif meningkatkan penjualan. (Imam Wiguna/Peliput: Bondan Setyawan)

Muhammad Cakra Buana peroleh omzet Rp500.000 per hari dari penjualan koi secara online

Terbesar

Michio Maeda, Presiden dari The Okayama Nishikigoi Center, Jepang, punya kolam koi terbesar di dunia. Demi mendapatkan koi berkualitas super-ukuran di atas 100 cm-ia membuat kolam empat persegi panjang berukuran 480 m2 sedalam 3,5 m. Kolam menampung 1.500.000 liter air, kapasitas filter 159.000 liter-10,6% volume air kolam. Ada 4 pompa berkapasitas 150.000 liter/jam. Di kolam itu ia hanya memelihara 20 koi.***

Tertua

Tertua yang tercatat milik Dr.Komei Koshihara di Nagoya, Jepang. Ia memperoleh Hanako-nama koi itu-dari neneknya kelahiran 1895. Neneknya mendapatkan Hanako dari mertuanya secara turun-temurun. Berdasarkan hasil pengujian Prof Masayoshi Hiro, peneliti Laboratory of Domestic Science, Nagoya Women’s College, usia Hanako saat itu 215 tahun. Pengujian dilakukan dengan melihat foto nano dari setiap sisiknya. Sayang, Hanako mati saat berumur 226 tahun pada 17 Juli 1977. ***

Termahal

Koi termahal yang tercatat dalam buku rekor dunia ialah ginrin showa berukuran 76 cm, pemenang tertinggi kejuaraan nasinal koi di Jepang pada 1976, 1977, 1979, dan 1980. Koi itu terjual seharga 17-juta yen setara Rp1,7-miliar-kurs saat ini-pada Maret 1986 oleh Derry Evans asal Inggris. Namun, sayang koi berumur 15 tahun itu mati 5 bulan kemudian.***

 

 

“Sebanyak 60% ekspor koi Jepang terserap pasar Indonesia,” kata Budi Widjaja.

 

^ Peraih superior champion 80 cm, milik Felix Denanta

<  Peraih superior champion male 85 cm, milik Felix Denanta

Kolam koi untuk penghias taman turut mendongkrak pasar koi tanahair

^ Indonesia peringkat ke-2 setelah Jepang paling antusias ikuti kontes

> Kolam koi milik Felix Denanta di Jakarta untuk menyimpan koi juara

^ Koi hasil ternakan peternak Blitar siap dikirim ke berbagai kota

^^ Peraihkokugyo 90 cm Bu milik Yohanes Jusuf

 

 

 

 

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img