Friday, December 2, 2022

H Uu Saeful Bahri: Beras Organiknya Terbang ke Amerika

Rekomendasi

 

Melalui rekan bisnis di Jakarta pada 20 Agustus 2009 Uu kali pertama mengirim 18 ton beras organik. Beras itu untuk memasok Lotus Foods, distributor beras organik, di California, Amerika Serikat. Beras organik asal Tasikmalaya dijual bersama beras organik dari Kamboja, Bhutan, Vietnam, dan China yang lebih dulu dipasarkan Lotus Foods.

Keberhasilan menembus pasar Amerika pantas membuat Uu bangga. Maklum pasar negara adidaya itu sangat ketat meloloskan produk berlabel organik. Seabrek persyaratan mengikuti silabus yang tercantum dalam National Organic Program (NOP) yang dikeluarkan The United States Department of Agriculture (USDA) – Departemen Pertaniannya Amerika Serikat – mesti dipenuhi. Syarat itu antara lain mencakup detail proses produksi, pengolahan, distribusi, hingga pemasaran. Produsen tak bisa sembarangan mengklaim produknya organik tanpa disertai bukti dari lembaga sertifikasi yang diakui.

Uu memperoleh sertifikasi dari Institute for Marketecology di Swiss, satu dari 100 lembaga sertifikasi dunia. Pun sertifikat dari NOP yang kerap dianggap sebagai pemberi sertifikasi urusan pangan organik nomor wahid serta sertifikasi organik dari Japan’s Agricultural Standards (JAS), Jepang dan European Union Organic dari Uni Eropa. Dengan sertifikasi itu beras organik dari Gapoktan Simpatik berpeluang dijual ke seluruh dunia.

Gila

Keberhasilan ekspor itu buah manis setelah Uu bersusah payah mengembangkan beras organik di Tasikmalaya. Pada 2002 bersama Ir Alik Sutaryat – penganjur SRI organik – Uu gencar mempromosikan System of Rice Intensification (SRI) secara organik. Upaya itu tak mulus-mulus amat. “Paling sulit mengubah pola pikir petani dari konvensional ke SRI organik,” ujar alumnus Sekolah Pendidikan Guru Agama di Tasikmalaya itu.

Dengan SRI satu lubang ditanam satu bibit. Jadi untuk lahan seluas 1 ha cukup 5 kg bibit, budidaya konvensional 35 – 40 kg bibit. SRI juga hemat air. Cara bertanam ini sempat mendapat cibiran dari sesama petani. “Jika kurang bibit, ambil saja dari tempat saya,” ungkap ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan Tasikmala periode 2003 – 2008 itu menirukan sindiran yang kerap mampir ke telinga.

Toh, banyak petani yang diam-diam penasaran. Mereka ingin melihat mampukah satu butir padi menghasilkan banyak rumpun anakan. Pada cara konvensional untuk memperoleh 20 rumpun padi perlu 4 – 5 bibit per lubang tanam. Toh keraguan para petani itu mencair setelah 30 hari masa tanam. Saat itu dari setiap lubang keluar 20 – 25 rumpun anakan.

Kebutuhan 200 kg Urea, 100 kg TSP, dan 50 kg KCl per ha pada budidaya konvensional digantikan pupuk mol – mikroorganisme lokal. Pupuk itu terdiri dari campuran keong mas Pomacea canaliculata, air beras, air kelapa, dan gula. Untuk menanggulangi hama Uu mengandalkan pestisida nabati dari campuran daun mimba Azadirachta indica, serai wangi Cymbopogon citrates, bawang putih Allium sativum, daun srikaya Annona squamosa, sabun colek, dan abu dapur sebagai pengganti pestisida kimia. Uu pun membenamkan 5 ton/ha kompos untuk membenahi struktur kimia, fisika, dan biologi tanah.

Panen perdana beras organik pada 2003 sebanyak 5 ton gabah kering giling (GKG) belum mengundang minat petani lain berpindah ke padi organik. Volume itu sama dengan budidaya konvensional. Baru setelah panen kedua dan ketiga yang produksinya mencapai 5,5 ton GKG dan 6 ton GKG itu petani yang semula mencibir tertarik mencoba.

Susah tembus

Pasar lokal yang semua dianggap menjanjikan ternyata sulit ditembus Uu. Pria yang pernah bekerja sebagai mekanik di Arab Saudi itu menjual gabah kepada tengkulak lokal dengan harga Rp2.300 – 2.400/kg, sama dengan gabah konvensional. Panen berikut pada 2004, harga masih setara gabah konvensional, Rp2.500/kg.

Kelahiran Tasikmalaya 24 Desember 1960 itu pun melakukan terobosan. Ia membeli sebuah penggilingan beras pada 2005. Uu menampung gabah produksi petani organik dengan harga Rp500/kg lebih mahal dibandingkan gabah biasa. Di saat bersamaan Uu merintis pasar keluar Tasikmalaya. Tak ketinggalan berbagai pameran diikuti untuk mengenalkan produk beras organiknya.

Pada 2006 pasar lokal mulai bergairah seiring dengan munculnya kesadaran pentingnya pangan sehat. “Harga jual beras organik saat itu naik sampai Rp8.000/kg dari semula Rp6.000/kg,” ujar Uu. Imbasnya harga gabah organik pun terdongkrak naik dan stabil hingga kini. Pada 2009 harga gabah organik di petani mencapai Rp3.400 – Rp3.700/kg, lebih tinggi Rp1.000/kg dibanding gabah budidaya konvensional.

Sukses menguasai pasar lokal, Uu melebarkan sayap ke mancanegara. Untuk itu sertifikasi organik internasional mutlak dimiliki. Secercah harapan muncul pada 2008 saat seorang rekanan mau membantu mengurus sertifikasi internasional. “Mereka juga yang memasarkan produk kami ke pasar mancanegara,” katanya.

Ekspor perdana pada 20 Agustus 2009 ke Amerika Serikat menjadi pintu ekspor ke negara lain. Pada Desember 2009 Gapoktan Simpatik yang terdiri dari 28 kelompok tani di 8 kecamatan melakukan pengiriman 19 ton beras organik ke Malaysia. “Semoga ini menjadi jalan ekspor-ekspor selanjutnya,” harap Uu yang bersama kelompoknya mengelola 329,33 ha lahan itu. (Faiz Yajri)

 

Beras organik Tasikmalaya tembus pasar Amerika Serikat dan Malaysia

Hamparan padi organik di Tasikmalaya

Foto-foto: Faiz Yajri

H Uu Saeful Bahri, buktikan menanam padi organik menguntungkan dan pasar terbuka lebar

Previous articleKumpulan e-book
Next articlePohon Pusaka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Terluka dan Tidak Bisa Terbang, Petugas Mengevakuasi Burung Rangkong

Trubus.id — Petugas Balai Besar KSDA Sumatra Utara, mengevakuasi burung rangkong yang ditemukan terluka di kawasan konservasi Suaka Margasatwa...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img