Trubus.id — Tidak hanya di Indonesia, operasi koi biasa dilakukan oleh peternak negeri asalnya Jepang. Sudah menjadi rahasia umum, koi-koi berkaliber grand champion adalah second hand.
Sebutan itu populer di kalangan peternak dan hobiis koi. Artinya, ikan pernah mengalami perbaikan-perbaikan secara sengaja. Di Jepang, 90% grand champion pernah dioperasi.
Kalau pada manusia, rekayasa corak koi ibarat operasi plastik. Operasi bisa mencabut sisik atau memotong kulit jika yang diubah corak di kepala. Koi yang pernah dioperasi penampilannya lebih bagus dibanding aslinya.
Corak “liar” seperti bintik atau tahi lalat yang mengganggu penampilan bisa dibuang. Namun, bukan berarti koi hasil operasi asalnya koi berkualitas rendah. Koi yang dioperasi berpotensi bagus, tetapi ada cacat sedikit.
Anggapan yang keliru itu ketika menilai operasi dilakukan untuk mengubah koi jelek menjadi bagus. Kalau seperti itu, banyak sisik yang harus dipreteli. Risikonya bukan saja corak amburadul, malah ikan bisa mati karena luka yang terlalu parah. Oleh karena itu, perlu diluruskan.
Lagi pula tidak semua ikan bisa dioperasi. Koi asal farm tertentu di Jepang pattern-nya sangat kuat. Setelah dioperasi, corak akan timbul kembali. Corak yang bisa direkayasa hanya hi (merah). Warna dasar hitam tidak bisa dihilangkan karena muncul dari daging.
Walaupun sisiknya diangkat, ia akan muncul lagi. Ikan yang sudah besar sebaiknya tidak usah diutak-atik lagi. Kalau punya masa depan bagus, pasti peternak sudah mengoperasi sejak kecil. Tidak semua koi bisa dioperasi. Oleh karena itu, peternak yang merekayasa koi sembarangan akan merugikan orang lain.
Operasi yang baik tidak menimbulkan bekas. Karena membutuhkan waktu penyembuhan lama, operasi dilakukan saat koi kecil usia 6–9 bulan dengan ukuran 10–15 cm. Diharapkan, setelah 7 tahun tidak akan tampak lagi bekas-bekas operasi.
Operasi kecil minimal membutuhkan waktu 6 bulan. Setelah sembuh, tidak ada bedanya lagi antara second hand dan asli. Walaupun tidak menutup kemungkinan, pakar koi mungkin bisa melihat.
Memang, cara-cara operasi seperti ini ada yang setuju ada yang tidak setuju, dengan alasan kasihan. Apalagi, penilaian dalam kontes koi, kesehatan dan bentuk tubuh juga jadi pertimbangan, tidak hanya warna.
