Thursday, August 18, 2022

Hama pun Mabuk Kepayang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Biji tuanya menjadi bumbu pelezat rawon. Biji mudanya pembunuh hama yang ampuh.

Itulah kluwak Pangium edule yang begitu populer di Jawa Timur. Pohon tinggi dan menghasilkan biji bertempurung keras. Inti biji berwarna hitam menyebabkan kuah rawon menjadi gelap. Hanya segelintir yang tahu, kluwak begitu beracun saat masih muda dengan inti biji putih. Ia mengandung asam sianida dan piretrin konsentrasi tinggi pembunuh serangga. Hewan tingkat tinggi seperti mamalia-begitu juga manusia-bakal mabuk bila menghirup aroma yang muncul dari buah, daun, dan kulit kayu.

 

Semua bagian tanaman kepayang-sebutan kluwak di masyarakat Melayu-itu  beracun dan memabukkan. Istilah mabuk kepayang lahir dari tanaman yang tumbuh lurus itu. Dahulu masyarakat suku Dayak dan Banjar di Kalimantan kerap meremas-remas kulit kayu kepayang lalu menyebarkannya di sungai atau rawa sebagai racun. Dalam hitungan menit, ikan lemas sehingga mudah ditangkap. Remasan buah, daun, dan kulit batang juga menjadi pengawet ikan yang membentenginya dari gempuran mikrob perombak.

Riset Yuningsih dari Balai Penelitian Veteriner, Bogor, Jawa Barat, menyebut biji kluwak mengandung 1.000-2.000 ppm asam sianida tergantung kondisi biji. Biji yang keras mengandung 2.000 ppm, biji lunak 1000 ppm, dan biji berair 500 ppm. Yang disebut terakhir setara asam sianida pada daun kepayang. Menurut Yuningsih asam sianida dalam jumlah kecil saja, 2,5-5 ppm, dapat mematikan hampir semua spesies hewan dalam beberapa menit pascakonsumsi. Sementara kadar piretrin pada kepayang mencapai 5,89%.

Pada rawon biji kluwak aman karena sebelumnya mengalami proses fermentasi alami. Masyarakat di hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan dan Sidoarjo, Jawa Timur mengumpulkan buah kepayang matang yang jatuh dari pohon dalam karung dan membiarkan basah oleh air hujan selama lebih sebulan. Terkadang merendam karung dalam air mengalir selama 10-14 hari. Mirip cara menghilangkan asam sianida pada gadung Dioscorea hispida yang dicuci air mengalir.Tanpa pencucian dalam air mengalir, gadung memabukkan karena mengandung 1.300 ppm asam sianida.

Gunakan daun

Beragam bukti empiris itulah yang membuat tim peneliti Hama dan Penyakit dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Banjarbaru, Kalimantan Selatan, menduga kluwak berpotensi menjadi bahan baku pestisida nabati. Para periset melakukan penelitian di laboratorium dan lapangan sejak 2005-2011. Mereka mengekstrak daun, kulit kayu, kulit buah, biji, dan daging buah kepayang dengan pelarut etanol. Dalam penggunaan mereka mengencerkan 1 gram hasil ekstrak dalam satu liter air.

Daun sawi, batang padi, dan buah pare dicelupkan dalam larutan ekstrak. Para peneliti menyimpan semua bahan pada stoples berpori ukuran 20 cm x 10 cm dan memasukkan hama di semua bahan uji berturut-turut ulat grayak Spodoptera litura, penggerek batang padi Scirpophaga innotata, dan ulat buah Diaphania indica masing-masing 20 ekor. Perlakuan diulang 3 kali. Tingkat kematian mereka lantas diamati selama 36 jam. Dari uji laboratorium itu diperoleh fakta menarik. Terbukti ekstrak semua bagian tanaman kluwak mampu membunuh hama dengan kisaran 60-85%.

Itu kabar baik karena mustahil hanya mengandalkan buah dan kulit kayu semata untuk bahan baku pestisida. Mengandalkan buah bakal berkompetisi dengan penggunaannya sebagai bumbu. Sementara memakai kulit kayu dalam jangka panjang merusak pohon. Satu-satunya yang dapat diharapkan menggunakan daun picung-sebutan kluwak oleh Masyarakat Sunda-yang berlimpah. Daun kluwak besar, panjang dan lebar 40-44 cm. Daun dapat dipanen sekaligus memangkas daun tua. Asal belum menguning daun tua pun dapat digunakan sebagai bahan baku pestisida.

Kluwak juga memiliki daya adaptasi yang tinggi dari dataran rendah berawa hingga daerah berketinggian 1.500 m di atas permukaan laut. Biasanya ia tumbuh di tepi sungai. Makanya kluwak banyak dipakai sebagai tanaman pelindung erosi di daerah bantaran sungai. Sementara di dataran tinggi, picung banyak tumbuh di daerah lembah yang cukup air.

Racun saraf

Periset melanjutkan penelitian di sentra bayam dan sawi di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, yang tengah mengalami serangan belalang, ulat grayak Spodoptera litura, dan ulat kubis Plutella xylostella. Di sentra seluas 30 ha itu areal yang tidak dikendalikan pesitisida mengalami kerusakan hingga 80%. Dengan menyemprotkan 500 l ekstrak daun kepayang 1 kali seminggu areal tanam rusak hanya 10-15%. Itu setara dengan pengendalian pestisida sintetis berbahan aktif deltametrin atau pestisida nabati mimba Azachdirata indica.

Dari berbagai percobaan itu senyawa aktif kepayang-asam sianida dan piretrin mematikan hama dengan menyerang pusat saraf bila terhirup dan tertelan. Piretrin bekerja cepat membuat pingsan serangga. Namun, sebagian besar serangga biasanya bangun kembali setelah sempoyongan beberapa saat. Sebab, banyak serangga mampu menguraikan dan menetralisir piretrin dengan cepat melalui proses metabolisme dalam tubuhnya. Toh, serangga takluk karena tak mampu mengurai asam sianida yang lebih kuat.

Daya bunuh kepayang melonjak setelah berpadu dengan kirinyu Chromolaena odorata dan bintaro Cerbera odollam. Pencampuran membuat pestisida nabati itu mematikan serangga seperti belalang, ulat grayak, dan ulat jengkal hingga 95%. Campuran ketiganya kini sudah dipatenkan Indonesia atas nama Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bila sudah diproduksi massal, kelak kluwak bukan hanya sekadar pelezat bumbu rawon tapi juga benteng bagi lahan pertanian Indonesia. (Ir Syaiful Asikin, Destika Cahyana SP, dan Ir Muhammad Thamrin, peneliti di Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Banjarbaru, Kalimantan Selatan)

Keterangan foto

  1. Semua bagian tanaman dari biji, buah, daun, dan kulit batang mengandung asam sianida dan piretrin
  2. Biji aman dikonsumsi setelah mengalami fermentasi alami berupa perendaman dalam air mengalir 10-14 hari
  3. Remasan kulit batang kepayang juga bermanfaat sebagai pengawet ikan
  4. Daun berukuran besar 40 cm x 40 cm dan berlimpah di daerah dataran rendah hingga dataran tinggi

 

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img