Monday, August 8, 2022

Padi Top Rakitan Tentara

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Padi unggul berproduksi tinggi hasil silangan tentara.

Syairih senang bukan kepalang memboyong 5,1 ton gabah kering panen dari sawah 0,5 ha. Bertahun-tahun menanam padi, baru kali ini petani di Desa Tegalpanjang, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, itu menikmati lonjakan produksi amat signifikan. Biasanya, ia hanya menuai paling pol 2,5 ton gabah kering panen dari sawah itu. Peningkatan produksi itu setelah ia menanam padi galur siliwangi parikesit dewi sri agung pada akhir 2011.

 

Ia agak mengubah cara budidaya padi. Bibit yang ia tanam berumur 10-15 hari dengan jarak 20 cm x 20 cm. Syairih memanfaatkan kotoran kambing sebagai pupuk. Selama budidaya, ia hanya membutuhkan 75 kg Urea dan 75 kg ponska 15 hari setelah tanam. Selain itu Syairih memberikan pupuk organik cair berbahan umbi-umbian dan rempah, saat tanaman berumur 5 hari, 20 hari, dan 35 hari. Dosisnya hanya 125-350 cc per tangki berkapasitas 14 liter.

Padahal, sebelumnya ia membutuhkan 200 kg Urea, 100 kg SP36, 100 kg KCl, dan 100 kg ZA untuk penanaman 1 ha padi ciherang. Meski dosis pupuk kimia berkurang, dewi sri agung tumbuh baik. Selama menanam dewi sri agung, tak sekali pun ia memberikan pestisida. Sebab, serangan organisme pengganggu seperti wereng,  keong, dan ulat rendah, di bawah ambang batas. Syairih menuai padi saat tanaman berumur 90 hari.

Semula pera

Produksi 5 ton per 0,5 ha itu amat tinggi, terutama dibanding produksi sebelumnya atau produksi rata-rata nasional yang hanya 4 ton per ha. Padi yang ia tanam siliwangi parikesit dewi sri agung memang masih asing. Galur itu lahir dari tangan dingin seorang anggota Satuan Pengamanan dan Pengawalan Detasemen Markas (Satpamwal Denma) Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur,  Sersan Kepala Sucipto.

Kisah itu bermula saat Sucipto membawa benih padi hasil silangan alami antara padi lokal dengan padi ciherang ke Cilangkap pada akhir 2006 milik sang ayah di Desa Jiken, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah. Menurut Sucipto kekurangan padi hasil silangan alami itu pada cita rasa. “Meski tanamannya tinggi, bermalai dan berbulir banyak, tetapi tekstur nasinya pera,” tutur Sucipto.

Oleh karena itu pada awal 2007, anak kedua dari empat bersaudara pasangan Mardi dan Mukini itu menyilangkannya dengan ketan putih. Logikanya sederhana, tekstur nasi ketan yang lengket bila dikawinkan dengan padi bertekstur nasi pera diharapkan menghasilkan tekstur pulen. Ia membagi lahan seluas 10 m2 menjadi dua bagian, masing-masing 5 m2 yang ditanami padi lokal dan ketan putih.

Saat malai mulai bermunculan, Sucipto mendekatkan malai dari kedua tanaman itu. Ia mengambil malai terbaik di setiap tanaman saat panen lalu ditanam kembali di lahan seluas 800 m2. Namun, saat itu ia belum menuai hasil yang memuaskan. “Meski panen mencapai 1 ton, tetapi teksturnya masih pera,” tuturnya.

Unggul

Sucipto kembali menanam hasil silangannya itu. Pada akhir 2007 Sucipto akhirnya panen padi generasi keempat yang ia tanam di lahan yang sama dan hasilnya bertekstur pulen. Tanaman dengan tinggi 160 cm itu memiliki 10-15 anakan produktif. Ukuran malai sangat panjang 25-35 cm dengan jumlah bulir 400-500 per malai. Jumlah bulir padi varietas ciherang yang berproduksi hingga 8 ton per ha, mencapai 300 bulir.

Padi baru berbulir bulat itu pun tahan serangan hama seperti wereng, keong, dan ulat. Selain itu, sri agung juga tahan rontok dan rebah. Yang istimewa, produksinya tetap sama pada kisaran 1 ton, seperti generasi yang kedua. “Bila ditanam di 1 lahan ha maka potensi produksinya mencapai lebih dari 10 ton,” tutur Sucipto.

Menurut ahli tanaman pangan dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Heni Purnamawati MScAgr, karakter padi baru hasil silangan Sucipto itu tergolong unggul. “Salah satu karakter unggul padi adalah produksinya yang mampu mencapai 10 ton per ha. Oleh karena itu, dalam menghasilkan varietas unggul baru, karakter tersebut menjadi tujuan para peneliti,” tuturnya.

Pantas bila Markas Besar TNI menyambut baik keberhasilan Sucipto menghadirkan dewi sri agung. Paguyuban Penyayang Alam Umat Semesta (PAUS) yang didirikan oleh Denma Mabes TNI pada 2011 membantu pengembangan padi baru itu kepada para petani. “PAUS telah mengembangkan dewi sri agung di beberapa wilayah tanahair antara lain, Blora, Tulungagung, Rembang, Karawang, Bogor, Kuningan, Madura, Medan, dan Lampung,” tutur Letkol Arm Iwan Bambang SIP, pembina PAUS.

Saat ini, total jenderal terdapat 34 ha lahan ditanami dewi sri agung. Iwan Bambang menuturkan awalnya benih dikembangkan dalam lingkup KBT (Keluarga Besar TNI) saja, rata-rata ditanam pada lahan seluas 1.000-2.000 m2. Mulai dari sanalah dewi sri agung diperkenalkan pada petani sekitar.

Peneliti padi dari Balai Penelitian Tanaman Padi, Subang, Provinsi Jawa Barat, Dr Sarlan Abdulrachman, mengatakan dewi sri agung dapat dikembangkan dan dilepas sebagai varietas. Namun, harus melewati beberapa tahap uji antara lain uji multilokasi. “Saat ini dewi sri agung masih disebut sebagai galur,” tutur Sarlan.  (Andari Titisari).

Keterangan foto

  1. Potensi produksi galur siliwangi parikesit dewi sri agung mencapai 10 ton gabah kering per ha
  2. Testur nasi pulen lebih disukai masyarakat Indonesia
  3. Serka Sucipto hasilkan siliwangi parikesit dewi sri agung dari persilangan antara padi lokal dengan ketan putih
  4. Bulir padi siliwangi parikesit dewi sri agung, jumlahnya mencapai 400-500 per malai

 

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img