Friday, December 2, 2022

Selubung Ganda, Hemat Biaya

Rekomendasi

Isi tabung gas elpiji ukuran 12 kg itu tersisa separuh. Biasanya untuk pasteurisasi 5 tingkat rak jamur merang berukuran 1,5 m x 6 m setinggi 3 m, Suluh Nugroho meng-habiskan seluruh isi tabung ukuran sama.

 

Pasteurisasi perlakuan wajib sebelum petani menebar bibit. Pasteurisasi mematikan hama, patogen, dan berbagai spora jamur liar di media. Bila kumbung dan media tanam tidak steril hampir pasti pekebun gagal panen. “Media jamur merang kadang masih mengandung residu pestisida, cendawan, atau telur serangga,” kata Dr Iwan Saskiawan, peneliti jamur di Puslit Biologi LIPI, Cibinong, Bogor.

Umumnya petani jamur merang mempasteurisasi dengan menyemburkan uap panas ke rak, media jamur, dan seluruh bagian dalam kumbung. Sahim, petani jamur merang di Karawang, Jawa Barat, misalnya, menghabiskan 2 m3 kayu bakar untuk menguapi kumbungberukuran 4,3 m x 8 m setinggi 4 magar suhu media jamur dan ruangan dalam kumbung minimal 700C. Dengan harga kayu Rp150.000/m3, Sahim mengeluarkan biaya Rp300.000 untuk sekali pasteurisasi.

Teknik serupa juga dilakukan Nugroho setengah tahun silam. Bedanya, ia menggunakan bahan bakar gas elpiji. Untuk menyemburkan uap panas ke kumbungukuran 3,5 m x 6,5 m setinggi 3,5 m berisi 2 rak bertingkatia memerlukan 2,53 tabung gas elpiji ukuran 12 kg selama 89 jam. “Jika cuaca mendung dan malam sebelumnya hujan turun, prosesnya bisa molor sampai 10 jam,” kata Gogosapaannya. Pasalnya, perlu waktu lebih lama untuk mencapai suhu 700C. Total jenderal untuk sekali proses pasteurisasi ia menghabiskan Rp100.000Rp150.000.

Dua lapis

Kini Gogo cukup mengeluarkan Rp50.000 untuk proses sama. Penghematan itu lantaran ia menerapkan pasteurisasi sistem kerudung. Ia mengadopsi cara petani di Eropa membudidayakan jamur merang di rak yang tertutup selubung.. Ia hanya mempasteurisasi rak dan media jamur, tidak perlu seluruh kumbung. “Semakin kecil ruangan, uap yang diperlukan semakin sedikit,” kata Gogo. Dengan demikian bahan bakar yang dibutuhkan juga lebih sedikit.

Mula-mula Gogo menebar media di rak dan meratakannya hingga ketebalan 20 cm. Ia menggunakan media campuran 75% limbah kapas dari pabrik tekstil, 15% dedak halus, dan 10% dolomit. Limbah kapas yang menggumpal dirapikan, diangin-anginkan semalaman, ditambah dedak dan dolomit, diaduk rata, dipadatkan, dan ditutup rapat agar terfermentasi. Selang 5 hari, media siap digunakan.

Penggemar olahraga alam bebas itu memilih limbah kapas karena di lokasi kumbungnya lebih mudah diperoleh ketimbang jerami. Ketersediaannya setiap saat, jerami hanya ada saat musim panen padi. Kekurangannya, limbah kapas lebih “dingin” daripada jerami sehingga waktu pasteurisasi menjadi lebih lama. “Dengan media jerami waktu pasteurisasi hanya 78 jam sementara limbah kapas, bisa 10 jam,” tutur Dewi Aryani, pembudidaya jamur di Bekasi, Jawa Barat.

Gogo menyelubungi rak dengan plastik bening setebal 0,3 mm. Kemudian ia menyemprotkan air hangat bersuhu 50600C ke seluruh rak dan media sehingga tercipta kondisi lingkungan berkelembapan 90%. Keesokan hari, saat pasteurisasi, ia menggandakan selubung dengan plastik berukuran sama.

Ia meletakkan selang uap tepat di kolong rak sehingga uap panas langsung mengenai rak media jamur. Hasilnya, media jamur lebih cepat panas ketimbang ruangan kumbung. Dalam 5 jam, media sudah mencapai suhu 630C. Dalam waktu sama, suhu ruangan 600C. Petani jamur lain biasanya meletakkan selang uap di sudut atau di sela rak dalam kumbung sehingga suhu kumbung naik lebih dulu ketimbang media jamur.

Dengan cara itu proses pasteurisasi lebih singkat, 6 jam. Sebelumnya 89 jam. Selubung plastik kedua dilepas usai pasteurisasi. Dengan teknik itu Gogo menghemat 50% bahan bakar.

Suhu stabil

Sehari setelah pasteurisasi, suhu turun menjadi 350C, ia menebar 1,5 baglog bibit jamur/m2 media. Selanjutnya kumbung ditutup rapat agar miselium terbentuk. Selang 78 hari pascatebar bibit, Gogo mulai memanen jamur 2 kali sehari hingga 15 hari kemudian. Hasil panen harian berfluktuasi antara 315 kg/rak/hari. Total jenderal Gogo memetik 6075 kg jamur merang dari setiap rak.

Penggunaan plastik transparan membuat petani lebih mudah memantau pertumbuhan dan memanen jamur. Tidak hanya itu, pasokan oksigen pun lancar. “Udara bisa mengalir lewat celah plastik di dasar rak,” kata Haryo Suryo Gumilar, rekan Gogo. Saat kemarau, suhu rak pun lebih stabil tanpa perlu repot membuka-tutup jendela.

Menurut Iwan, penggunaan tiraidemikian ia menyebut selubung plastikefektif untuk mengendalikan suhu. “Lebih mudah mengatur ruangan kecil ketimbang besar,” tutur periset kelahiran 46 tahun lalu itu. Toh, ruangan kecil pun punya kekurangan: kehilangan kelembapan lantaran mengalir terbawa udara keluar lewat celah di kolong rak. Pengalaman Gogo, saat hujan, kelembapan justru anjlok menjadi 65%. Padahal jamur tumbuh optimal pada kelembapan  85%90%. Alhasil, jamur mengecil dan membuka. Agar itu tidak terjadi, Iwan menyarankan untuk merapatkan dan merapikan persambungan antarbagian pada plastik, terutama di bagian atas atau samping. (Argohartono Arie Raharjo)

Keterangan foto

  1. Kumbung luar Suluh Nugroho, menaungi 13 rak
  2. Pertumbuhan jamur merang perlu lingkungan basah dan lembap
  3. Pasteurisasi vital untuk menekan hama penyakit dan meningkatkan kelembapan.
  4. Fermentasi media jerami menghasilkan lebih banyak panas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img