Sunday, November 27, 2022

Kacang Jagoan Antilodoh

Rekomendasi

Varietas baru tahan penyakit layu bakteri, berproduksi tinggi, dan toleran di tanah masam.

 

Srikam, petani kacangtanah di Kecamatan Rumbia, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung, resah. Serangan Ralstonia solanacearum pada 2011 membuat 20% dari total populasi tanaman di lahan 0,5 ha gagal panen. “Gejalanya tanaman seperti meleleh kepanasan,” katanya.

Prof Dr Nasir Saleh, ahli hama dan penyakit di Balai Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi), Malang, Jawa Timur, menuturkan Ralstonia solanacearum dapat menyerang pada seluruh fase pertumbuhan tanaman. Serangan ketika tanaman kacangtanah sudah membentuk polong pada umur 40-45 hari pascatanam, menyebabkan gagal panen hingga 50%.  “Jika serangan terjadi pada tanaman muda, sebelum membentuk polong, tingkat kerugian petani bisa mencapai 100%,” tutur Nasir. Gejala utama tanaman lodoh seperti tersiram air panas.

Hingga sekarang Srikam dan petani lain di daerah itu belum punya cara untuk mengatasi penyakit layu bakteri itu. “Penanganan masih bersifat pencegahan dengan penyemprotan pestisida berbahan aktif propineb 70%,” ujar petani kacangtanah sejak 5 tahun silam itu. Srikam mengencerkan 100 cc racun bakteri itu ke dalam 4 liter air sebelum aplikasi. “Dosis sangat tinggi itu juga belum mampu mengatasinya,” kata Srikam.

Uji coba

Pada musim tanam Februari 2012 Srikam mengenal talam 1 dari Prof Dr Astanto Kasno, pemulia kacangtanah di Balitkabi. Hasil riset Astanto, talam 1 tahan penyakit layu bakteri. Srikam menanam varietas itu di lahan seluas 900 m2 berdampingan dengan varietas kancil yang selama ini ditanam. Total jenderal populasi sekitar 20.000 tanaman.

Sampai sebulan pascatanam tidak terlihat gejala serangan layu bakteri pada talam 1. “Pada varietas kancil sudah terjadi serangan sebanyak 25%,” tutur Srikam. Serangan akibat bakteri itu umum terjadi bila lahan tempat penanaman dan benih terkontaminasi.

Ketangguhan talam 1 menghadapi penyakit layu bakteri sejalan dengan hasil riset Astanto. Doktor bidang pemuliaan alumnus Institut Pertanian Bogor itu menguji daya tahan talam 1 terhadap penyakit layu bakteri saat tanaman berumur 14-49 hari setelah tanam (hst). Pengujian dilakukan dengan menghitung jumlah tanaman terserang (cirinya layu) dan tanaman sehat dengan menggunakan skor.

Berdasar skor itu, jika persentase tanaman layu kurang dari 18% total populasi maka jenis itu dianggap tahan penyakit layu bakteri. Jika 18-25% populasi tanaman layu dianggap agak tahan, sedangkan tanaman layu lebih dari 25% dianggap rentan. Hasilnya, persentase tanaman layu pada talam 1 hanya 13,3% dari total populasi. Artinya, talam 1 termasuk kategori tahan terhadap penyakit layu bakteri.

Anak jerapah

Talam 1 merupakan hasil persilangan antara varietas jerapah dengan klon ICGV 91283. Astanto memilih jerapah sebagai tetua betina karena varietas itu memiliki adaptasi dan toleransi yang baik di lahan kering masam. Astanto menuturkan luas lahan kering masam hampir 25% dari total daratan Indonesia. “Ke depan persaingan lahan semakin ketat, maka penanaman di lahan masam bisa jadi solusi,” tutur ahli pemuliaan tanaman itu.

Sayang, jerapah rentan terhadap serangan Aspergillus flavus, cendawan penghasil senyawa aflatoksin. Aflatoksin bersifat karsinogenik pada ruminansia, unggas, dan manusia. Oleh karena itu, Astanto menggunakan tetua jantan tahan serangan Aspergillus flavus, yaitu klon ICGV 91283, introduksi dari India.

Persilangan antara jerapah dengan klon ICGV 91283 menghasilkan 18 galur tanaman. Astanto kemudian menanam 18 galur itu di lahan masam dengan pH kurang dari 5 dan kejenuhan aluminium (Al) lebih dari 30%. Pertumbuhan tanaman dinilai pada umur tiga minggu setelah tanam (mst) berdasarkan skor pertumbuhan. Tanaman yang memiliki skor pertumbuhan 1 dan 2 dianggap toleran pH rendah dan Al tinggi. “Talam 1 mendapat skor 1. Artinya pertumbuhan tanaman normal tanpa gejala keracunan Al dan tumbuh dengan subur,” kata Astanto. Dari situ muncul nama talam, akronim dari toleran lahan masam. Polong talam 1 tahan serangan Aspergillus flavus hingga 3 bulan pascapanen.

Tanaman talam 1 agak tahan penyakit karat dan bercak daun seperti hasil uji Astanto. Menurut Nasir, ada dua jenis serangan penyakit bercak daun pada kacangtanah. Pertama, serangan terjadi pada fase awal tanam ketika tanaman berumur 3-4 mst. Gejalanya ada lingkaran kuning di daun, bagian tengah lingkaran berwarna hitam kecokelatan.

Serangan kedua pada saat tanaman berumur 2 bulan. Gejalanya muncul bulatan hitam tanpa batas kuning. “Serangan akibat penyakit ini bisa mencapai 40-50% dari total populasi,” tutur doktor alumnus Universitas Gajah Mada itu.

Kacang garing

Keunggulan lain produktivitas talam 1 tinggi, 2,5 ton polong kering/ha. “Bahkan potensi hasilnya bisa mencapai 3,2 ton polong kering/ha,” kata Astanto. Bandingkan dengan jerapah, hanya 2,3 ton polong kering/ha. Potensi produksi rata-rata nasional 1,3 ton polong kering/ha.

Dari segi karakter, talam 1 merupakan kacangtanah tipe spanish, yaitu terdapat 2 biji dalam satu polong. Biji kacang berwarna merah muda dan berukuran sedang. ”Sangat sesuai untuk pasar domestik, sebagai kacang garing,” kata Astanto.

Setelah melalui rangkaian pengujian, talam 1 pun dilepas sebagai varietas baru pada 13 Juli 2010. Varietas yang mulai disilangkan sejak 1999 itu pun siap menjadi andalan para petani kacangtanah karena produktif, toleran lahan masam, tahan penyakit layu, dan sesuai untuk pasar domestik. (Bondan Setyawan)

Keterangan foto

  1. Prof Dr Astanto Kasno, “Talam 1 produktif, toleran di lahan masam, tahan penyakit, dan sesuai untuk pasar domestik”
  2. Selama ini budidaya kacangtanah di lahan subur
  3. Kacang bebas Aspergillus flavus menjadi persyaratan kacang aman konsumsi
  4. Talam 1 lebih tahan terhadap Aspergillus flavus dibanding jerapah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img