Saturday, January 17, 2026

Handry Chuhairy : 2021 Tahunnya Aroid

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus — Setahun terakhir tanaman hias aroid—sebutan untuk tanaman anggota keluarga Araceae seperti aglaonema, anthurium, monstera, dan philodendron—naik daun. Bahkan, permintaan tanaman hias itu mendunia. Corak variegata yang semula dianggap penyakit oleh dunia barat kini mencuri hati pencinta tanaman hias di Amerika dan Eropa. Pasar Asia Timur seperti Jepang dan Korea pun menggandrungi aroid sebagai penghias balkon dan ruangan.

Pehobi tanaman hias senior di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Handry Chuhairy. (Dok. Trubus)

Permintaan makin meningkat terutama saat banyak negara di berbagai belahan dunia memberlakukan kuncitara atau lockdown. Saat industri lain turun, tidak demikian dengan tanaman hias. Indonesia justru kerepotan memenuhi permintaan tanaman hias dunia terutama aroid. Wartawan Trubus, Muhamad Fajar Ramadhan, mewawancarai pehobi senior tanaman hias, Handry Chuhairy, tentang perkembangan tren tanaman aroid di tanah air. Berikut petikannya.

Aroid kembali tren. Permintaan meningkat dan harga aroid pun melambung. Apa pemicunya?

Sejak lima tahun lalu tren mengarah pada tanaman pot. Itu karena kondisi lahan makin kecil dan gedung makin tinggi, kemudian berkembang tren vertikal garden atau taman dinding. Berikutnya mulai tren tanaman airplant seperti fern atau paku-pakuan dan tillandsia. Kemudian pada 2018 mengarah ke petiogarden atau taman teras.
Teras atau balkon pasti menggunakan tanaman pot. Keluarga aroid cocok untuk tanaman pot, sehingga pada 2019 aroid dikenal lebih luas di seluruh dunia. Philodendron dan monstera menjadi lokomotif mengangkat keluarga aroid lainnya dan tanaman hias nonaroid secara umum. Harga melambung sesuai hukum ekonomi. Makin tinggi permintaan sementara barang terbatas tentu menyebabkan harga melambung.

Bagaimana tren aroid berkaitan dengan pandemi korona?

Pandemi justru menjadikan permintaan tanaman hias terutama aroid meningkat signifikan. Penyebabnya di seluruh dunia banyak yang berkegiatan di rumah sehingga mengalihkan diri ke hobi. Salah satunya mengoleksi tanaman hias. Saat pandemi korona ternyata kargo tetap berjalan, sehingga pengiriman barang ke luar negeri masih memungkinkan.

Penyebab lain peningkatan permintaan tinggi di tanah air, karena Thailand melakukan lockdown. Sementara negeri Gajah Putih belum bisa mengirim produk ke luar negeri. Oleh karena itu, permintaan “lari” ke Indonesia. Peningkatan permintaan minimal 100%. Imbas dari permintaan tinggi itu harga aroid melambung. Contohnya Monstera obliqua saat akhir 2019 terdiri atas 3—4 daun di acara lelang Trubus Agro Expo terjual Rp30 juta, kini harganya mencapai Rp30 juta per daun.

Baca juga : Banyak Aral Bisnis Aroid

Indonesia negara produsen aroid. Apa yang perlu dilakukan pelaku tanaman hias menyikapi permintaan yang terus naik?

Permintaan tinggi ibarat dua sisi mata uang. Satu sisi sangat membantu dari segi penjualan. Namun, di sisi lain perlu dikaji lagi kapasitas produksi dalam negeri. Sumber aroid di dalam negeri berasal dari hutan atau perbanyakan petani tanaman hias. Saat harga tinggi seperti sekarang petani pun tergiur menjual tanaman. Bisa dibilang sedikit yang murni menjadi petani.

Imbasnya bisa jadi ketersediaan indukan di dalam negeri terbatas. Sebab, lebih banyak penjual dibandingkan dengan petani. Mengambil bahan dari alam terus-menerus pun bukan menjadi solusi. Idealnya perlu setahun untuk aklimatisasi tanaman yang berasal dari hutan sebelum diperbanyak atau dijual komersil. Tujuan aklimatisasi memahami perawatan, media yang cocok, hingga budidaya tanaman.

Ragam varian scindapsus, tanaman lokal potensial diminati pasar tanaman hias global.

Sampai kapan bisnis aroid akan terus ramai?

Setiap tahun saya rutin minimal dua kali ke Thailand pada Agustus dan Oktober. Tujuannya studi banding juga sebagai barometer tren tanaman hias Indonesia dan Thailand. Dari kunjungan itu pun kerap membuat pandangan atau perencanaan setiap tahun. Misal terakhir pada Oktober 2019 untuk membuat outlook 2020—2021. Ternyata tren aroid bagus, masyarakat di luar sudah menjadikan aroid sebagai tanaman pengisi ruangan dan dekorasi.

Tren di 2020 sebetulnya tidak bisa terprediksi karena pandemi korona. Namun, tahun 2021 pasti tahunnya aroid. Setelah itu pun tren akan tetap aroid. Sebab, keluarga aroid banyak. Philodendron dan monstera mungkin masih digemari. Namun, jenis lain seperti bromelia atau scindapsus potensial naik daun. Biasanya jika sudah punya satu jenis aroid akan tertarik mengoleksi tanaman lainnya.

Bagaimana jika Thailand kembali membuka jendela ekspor aroid?

Thailand pun sebetulnya kewalahan memenuhi permintaan aroid. Pengembangan dengan teknologi kultur jaringan pun masih sulit memenuhi permintaan. Contohnya monstera thai constelation yang sudah kultur jaringan pun tidak menerima permintaan lagi sejak Desember 2019. Satu tempat kultur jaringan di Bangkok tidak menerima layananan kultur hingga 2021 karena fokus membuat thai constelation untuk memasok pasar Australia. Artinya permintaan dunia sebetulnya sangat besar pada aroid. Apalagi baru sedikit tanaman aroid yang dibudidayakan secara kultur jaringan.

Apa yang perlu dilakukan pebisnis tanaman hias agar tren tetap langgeng?

Di Indonesia tanaman hias kerap dianggap saham atau eksklusif. Belum memandang tanaman hias sebagai produk masal. Padahal, pasar internasioanl mengehendaki harga US$10—US$20 sebagai harga rata-rata. Itu yang mesti kita kejar. Boleh saja kini sebagian barang eksklusif. Namun, suatu saat akan jadi produk masal. Inovasi teknologi seperti perbanyakan masal kultur jaringan tidak bisa dibendung. Tinggal kita yang menyesuaikan dengan zaman.

Jika sudah ada produk US$10—US$20 dan disenangi akan ada kepercayaan dari konsumen. Mengenalkan jenis aroid asli Indonesia pun bukan lagi suatu kendala. Misalnya scindapsus, kini sudah mulai ada permintaan dari Eropa dan Amerika. Harga per daun pun sudah puluhan juta. Berikutnya yang juga potensial dari tanaman keluarga marantaceae atau kalatea. Sebab, petani dan ketersediaan barang cukup banyak di tanah air.***

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img