
Para peternak membudidayakan ikan dewa yang harganya fantastis, hingga Rp1 juta per kg. Mereka menyiasati masa budidaya yang lama dengan segmentasi. Pasar ekspor pun terbuka.

Tawar Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (Dok. Trubus)
Trubus — Endang Mumuh hanya menjual 6 ikan air tawar berbobot 1—2 kg, tapi omzetnya minimal Rp6,6 juta pada Februari 2019. Ongkos produksi 50% dari omzet sehingga laba Endang Rp3,3 juta. Profit warga Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, itu fantastis. Harga jual ikan pun spektakuler yakni Rp1,1 juta per kg. Bandingkan dengan harga ikan air tawar lainnya seperti gurami yang hanya Rp42.500 per kg.
Apa ikan yang berharga selangit itu? “Saya menjual ikan dewa. Harga itu termasuk ongkos kirim,” kata Endang yang membesarkan ikan dewa di lahan 1.500 m². Endang menjual ikan dewa ke sebuah restoran di Bali sebagai hidangan spesial bagi tamu istimewa. Penjualan 6 ikan dewa ke Pulau Dewata rutin setiap 2 bulan sejak 2018. Selain restoran di Bali, Endang pun rutin menjual 5—10 ekor berbobot 0,7—1 kg kepada masyarakat Batak.
Lima segmen
Lazimnya pembeli dari etnis Batak mensyaratkan ikan berdasarkan panjang tergantung keperluan seperti 35 cm untuk upacara adat. Harga jual ikan Rp800.000 per ekor sehingga omzet Endang minimal Rp4 juta. Ikan dewa terjual itu bukan tangkapan alam, tapi hasil pembesaran.
Peternak itu membesarkan ikan dewa berukuran 5—8 cm hingga berbobot 1 kg. Makin lama dipelihara bobot kian bertambah dan harga pun lebih mahal. Endang membeli bibit dari para pembudidaya ikan dewa di Sumedang. Ia lalu memelihara bibit di kolam semen berarus sedang hingga deras. Pemberian pakan 3—5% dari total biomassa dalam kolam. Menurut Endang feed convertion ratio (FCR) atau rasio konversi pakan mencapai 5.

Itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ikan mas yakni 1,5. Artinya untuk mendapatkan ikan dewa berbobot 1 kg diperlukan 5 kg pakan, sedangkan ikan mas berbobot sama hanya menghabiskan pakan 1,5 kg. Meski boros pakan Endang tetap untung karena tertutup dengan harga jual yang premium. Selain etnis Batak, masyarakat Tionghoa pun menggemari ikan dewa terutama saat perayaan Imlek.

Dua tahun terakhir makin banyak peternak yang membesarkan ikan dewa. Selain Endang, peternak lain adalah Bing Urip Hartoyo. Pembudidaya ikan dewa di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, itu kewalahan memenuhi permintaan ikan dewa berbobot lebih dari 7 ons per ekor pada Imlek 2018. Padahal, ia menjual sekitar 100 kg ikan saat itu seharga Rp1 juta per kg. Penjualan terbatas karena stok pun tidak banyak.
Nun di Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Karmad Faturohman melego ikan dewa seharga Rp700.000 untuk ikan berbobot 0,5—1 kg. Sementara harga ikan berbobot 2—3 kg mencapai Rp1 juta per kg dan ikan dewa berbobot 5 kg hingga Rp1,5 juta per kg. Karmad menjual 10—20 kg ikan dewa per bulan dengan omzet minimal Rp7 juta. Ongkos produksi 50% sehingga labanya Rp3,5 juta.
Pasar ekspor
Sejatinya permintaan ikan dewa bukan hanya di pasar domestik. Bahkan, pasar mancanegara pun menanti pasokan kerabat ikan mas itu. Ir. Setra Yuhana, M.M sebagai Ketua Perkumpulan Pengusaha Ikan Mahseer Indonesia (PPIMI) tengah menyiapkan permintaan pasar Hongkong melalui eksportir warga negara Malaysia sebanyak 1 ton per bulan. Mahseer nama lain ikan dewa di dunia internasional.

Ia pun menjajaki pasar Singapura. Di sana ada sekitar 4.000 gerai penyedia hidangan laut (seafood) yang berpotensi menjadi target pemasaran. Bahkan harga ikan dewa berbobot 2 kg mencapai Rp9 juta di salah satu restoran di negeri jiran itu. Intinya ceruk pasar ikan yang menjadi favorit pemancing karena agresif itu besar karena belum terpasok.

“Saat ini waktu tepat memelihara ikan dewa karena kami tengah bekerja sama dengan pembeli dari mancanegara. Kita tidak bisa sendiri jika mereka meminta puluhan ton per bulan,” kata Setra. Saat ini anggota PPIMI sekitar 200 orang di berbagai wilayah Indonesia seperti Jawa Barat dan Sumatera Barat. Setiap anggota punya peran masing-masing meliputi pembenihan, pendederan, dan pembesaran sesuai kondisi daerah.
Eskportir ikan dewa di Padang, Sumatera Barat, Efrizon, menghitung kebutuhan ikan dewa beku di Malaysia mencapai 500 kg per bulan. Saat ini Efrizon hanya mampu memasok 70 kg ikan dewa beku setiap bulan sejak 2018. Artinya masih ada ceruk pasar yang belum tergarap. Itu menjadi peluang para pembudidaya untuk memenuhi kekosongan itu. Efrizon masih mengandalkan tangkapan alam untuk mengisi pasar Malaysia.
Meski begitu ia membekali para nelayan pemasok untuk menangkap ikan tanpa merusak habitat. Ia mendukung penuh teknologi budidaya ikan dewa yang dikembangkan Balai Riset Penelitian Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP) Bogor. Menurut periset di BRPBATPP Bogor, Otong Zenal Arifin M.Si. saat ini babak baru ikan dewa. Ia mengatakan,”Ikan dewa bernilai ekonomis tinggi dan strategis untuk dikembangkan”.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Prof. Sjarief Widjaja, Ph.D., FRINA mengatakan, Indonesia berpeluang menjadi eksportir terbesar ikan dewa di dunia. Syaratnya melalui pengembangan sentra-sentra usaha budidaya di masyarakat sehingga kontinuitas produksi terpenuhi. Selain itu mesti ada standardisasi usaha budidaya sehingga menghasilkan ikan berkualitas daging standar serta regulasi budidaya dan eskpor dari pemerintah.
Syarat lain menjadi eksportir terbesar yakni dukungan segmentasi usaha budidaya dari para pembudidaya untuk pemenuhan segmentasi pasar. Masyarakat perkotaan seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) pun bisa membudidayakan ikan dewa melalui segmen pendederan yang tidak memerlukan aliran air terbatas. Caranya menggunakan resirkulasi dan teknologi lainnya untuk mengurangi amonia dan sejenisnya serta mempertahankan kandungan oksigen agar tetap tinggi.
Siasat lebih cepat
Menurut peneliti ikan dewa di BRPBATPP Bogor, Drs. Jojo Subagja, M.Si, pertumbuhan lambat salah satu pemicu mahalnya harga ikan dewa. Sebagai pembanding ikan mas memerlukan 1 tahun untuk mencapai bobot 1 kg, sedangkan ikan dewa 3 tahun. Meski budidaya lama, masyarakat tetap dapat “menyingkat waktu” karena terdapat segmentasi budidaya.

Masyarakat dapat memilih salah satu di antara lima segmen, yakni pembenihan, pendederen 1 dan 2, serta pembesaran 1 dan 2 (baca: “Siasat Panen Lebih Cepat” halaman 18—20). Sebagai gambaran peternak yang menekuni pendederan 1, misalnya, hanya memerlukan waktu 3 bulan. Keruan saja adanya segmentasi itu mempercepat pengusahaan ikan dewa. Artinya durasi budidaya yang panjang itu dapat dipersingkat.
Apalagi setiap segmen juga menjanjikan laba besar. Peternak yang menggeluti segmen pendederan 1 dengan populasi 20.000 ekor benih berukuran 2—3 cm bakal meraup laba bersih Rp14 juta per bulan (baca: “Waktu Singkat Laba Memikat” halaman 14—15). Meski begitu tidak mudah membudidayakan ikan dewa. Selain masa budidaya lama, serangan hama dan fekunditas yang rendah menjadi tantangan pembudidaya (baca boks “Aral Besarkan Ikan Dewa”).
Harga ikan dewa selangit lantaran mengandung nilai sejarah, budaya, dan nutrisi. Lihat saja relief Candi Borobudur menggambarkan masyarakat membawa ikan dewa sebagai upeti kepada raja. Dari segi budaya, masyarakat Batak menggunakan ikan dewa pada upacara adat tertentu. Kandungan nutrisi ikan bersisik besar itu pun mumpuni. Kandungan albumin dalam ikan dewa hampir setara gabus hingga 1,13 gram per 100 ml.
Semula masyarakat memperoleh ikan dewa dengan menangkap di alam. Namun, dua tahun terakhir masyarakat mulai membudidayakan ikan anggota famili Cyprinidae itu. Peneliti ikan dewa di Pusat Penelitian Biologi, Bidang Zoologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Haryono M.Si., menuturkan tren budidaya ikan dewa lebih baik daripada beberapa tahun sebelumnya.

Tidak hanya masyarakat yang merespons positif perkembangan ikan dewa. Perwakilan pabrik pakan pernah mendatangi Otong dan bertanya seputar ikan yang hidup di air berarus deras dan berair jernih itu. Otong menduga pengelola pabrik pakan itu berpikir masyarakat Indonesia bakal membudidayakan ikan dewa di masa depan. Oleh karena itu, mereka berencana membuat pakan ikan dewa.
Dugaan lainnya pengelola pabrik pakan juga bakal mengembangkan ikan dewa sebagai bagian dari paket pakan buatan mereka. Pendek kata para pebisnis pun mulai melirik ikan konsumsi bernilai ekonomis tinggi itu. Otong mengatakan sayang jika bisnis ikan dewa tidak digarap serius karena Indonesia memiliki potensi jenis ikan dan menguasai teknologi budidaya.
Yang paling penting budidaya ikan dewa bakal menggerakkan ekonomi kerakyatan karena padat karya. Untuk menghasilkan 50 ton ikan dewa setiap tahun diperlukan 160 kolam (pembenihan, pendederan, dan pembesaran). Jika berjalan lancar, maka mimpi menjadi eksportir ikan dewa terbesar sejagat terwujud. (Riefza Vebriansyah)
