Thursday, February 2, 2023

Indonesia Pengekspor Kaki Katak dan Swike Terbesar di Dunia

Rekomendasi

Trubus.id — Indonesia menjadi negara pengekspor kaki katak beku atau swike terbesar di dunia. Angka ekspor yang besar ini membuat Indonesia banyak mendapatkan kritik dari pemerhati satwa liar.

Hal itu dikatakan oleh Dr. Mirza Dikari Kusrini, Pakar Ekologi Satwa Liar Herpetofauna Institut Pertanian Bogor (IPB). Menurutnya, jumlah yang banyak ini selalu menjadi pertanyaan dari pihak luar karena dikhawatirkan akan memengaruhi populasi katak sawah.

“Bahkan ada keinginan dari beberapa pihak di luar negeri agar katak sawah yang diekspor masuk ke dalam appendix 2 CITES yang berarti akan ada pembatasan ekspor,” kata Mirza seperti dilansir dari laman IPB University.

Mirza melakukan penelitian menyeluruh mengenai dampak perdagangan kaki katak beku pada periode 2001–2005. Hasil penelitiannya yang sudah berusia 15 tahun ini menunjukkan angka ekspor hingga puluhan juta ekor ini masih dinilai aman karena jenis yang dipanen adalah katak sawah.

Data penelitian, katak sawah ini, yang dulu dianggap tidak diperlukan, kini sangat berguna sebagai argumen bahwa pemanenan katak sawah di Indonesia masih aman.

“Saat itu saya melakukan pemodelan untuk melihat populasi katak sawah dengan menggunakan data jumlah telur, kemampuan bertahan hidup, dan bagaimana pemanenan dilakukan,” terang Mirza.

Lebih lanjut, Mirza menambahkan, spesies yang biasanya dipanen seringkali diabaikan. Namun, bila keberadaannya hilang tanpa disadari akan menyebabkan ketidakstabilan ekosistem. Bahkan, tanpa disadari, jenis satwa yang dulunya dianggap biasa seiring berjalannya waktu punah.

Sebagai contoh, Mirza menyebut adanya perubahan yang terjadi di kampus membuat keberadaan kodok buduk kini semakin sulit ditemui. Ia menegaskan mahasiswa harus turut didorong untuk berfokus pada topik penelitian herpetofauna, bukan sekadar melihat keanekaragaman jenis.

Menurutnya, mahasiswa harus sering diajak untuk melihat kerentanan konflik antara manusia dan herpetofauna sehingga dapat memberikan rekomendasi mitigasi saat menghadapi herpetofauna berbahaya seperti ular berbisa atau buaya.  

“Saya juga mendorong gerakan citizen science untuk mengajak masyarakat umum melaporkan keberadaan amfibi dan reptil melalui aplikasi i-Naturalist di bawah proyek Go-ARK (Gerakan Observasi Amfibi Reptil Kita),” tuturnya.

Caranya terbilang sederhana dan mudah dipahami. Penggunaannya mirip media sosial dengan tambahan data lokasi GPS. Data ini dapat dipakai untuk menunjukkan keberadaan dan status spesies herpetofauna di alam. Proyek ini bahkan berhasil menemukan jenis baru katak pohon di Cagar Alam Leuweung Sancang. 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Terbukti Ilmiah! Daun-Daun Ini Jadi Musuh Berbagai Penyakit

Trubus.id — Seringkali bagian tanaman seperti daun yang kita anggap tak berguna malah menyimpan manfaat yang luar biasa. Berikut...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img