Monday, January 26, 2026

Inovasi Kolagen dari Sisik Ikan

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id-Senyum menghias wajah Siti Nur Seha setelah sukses menjual 1.000 produk minuman kolagen dan kolagen murni pada Januari 2025. Sebelumnya, Siti hanya menjual sekitar 250 produk setiap bulan.

Peningkatan produksi karena ada mesin baru sehingga kapasitas produksi bertambah. Harga minuman kolagen berbobot 80 gram per kemasan mulai dari Rp65.000.

Sementara, “Harga satu botol berisi 120 gram kolagen murni Rp150.000—Rp180.000 tergantung jumlah pembelian,” kata produsen kolagen di Desa Bucor Wetan, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur, itu.

Menurut dietisien di Rumah Sakit Umum Daerah Sleman, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Dian Wijayanti, S.Tr.Gz., R.D., kolagen merupakan salah satu jenis protein penting dalam kulit manusia. Kolagen bekerja sama dengan protein lain seperti elastin dan asam hialuronat berperan memberikan struktur dan kekuatan pada berbagai bagian tubuh.

Sebut saja tendon, kulit, dan gigi. Selama ini pemasaran produk kolagen milik Siti dari media sosial.

“Banyak konsumen yang terkena nyeri sendi tidak lagi mengonsumsi obatnya setelah meminum kolagen kami,” kata direktur CV Shaany Inovasi Berkah itu.

Perluasan Pasar dan Peningkatan Produksi

Konsumen Siti berasal dari berbagai daerah di Indonesia kecuali Provinsi Aceh dan Papua. Saat ini penjualan produk kolagen berdasarkan pemesanan terlebih dahulu (pre-order).

Pembeli tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari mancanegara. Ia mengirimkan ratusan kemasan produk kolagen ke Thailand dan Malaysia pada medio 2024.

Sebetulnya ada permintaan lagi dari konsumen di mancanegara, tetapi mereka meminta Siti melengkapi legalitas usaha. Oleh karena itu, ia mengurus sertifikasi hazard analysis and critical control points (HACCP) pada Desember 2024 demi melengkapi legalitas usaha.

Siti berencana meningkatkan kapasitas produksi hingga 5 ton sisik ikan per bulan pada 2025, sebelumnya hanya 1—2 ton sisik/bulan. Terjualnya 1.000 kemasan menunjukkan jaminan kualitas produk kreasi Siti sehingga konsumen merasakan khasiat kesehatannya.

Dari perniagaan kedua produk kolagen itu, Siti mendapatkan laba sekitar Rp20 juta sebulan. Penghasilan itu lebih tinggi 21 kali lipat dibandingkan dengan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Probolinggo pada 2025 yakni sekitar Rp2,9 juta.

Selain menjadi sumber penghasilan, yang paling istimewa dari produk kolagen bikinan Siti yakni pemanfaatan sisik ikan yang tidak terpakai sebagai sumber kolagen. Kebetulan terdapat pabrik pengolahan ikan di sekitar kediaman Siti.

Pabrik itu hanya menggunakan daging dan beberapa bagian ikan sebagai produk akhir. Sementara bagian lain seperti sisik, tulang, jeroan, dan kulit terbuang.

Lazimnya limbah hasil pengolahan ikan itu dibuang dekat pabrik. Dampaknya muncul bau tak sedap sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan.

Pembuangan limbah perikanan itu juga menyebabkan eutrofikasi sehingga perairan tercemar dan nutrisi berlebih. Jika hal itu dibiarkan, bisa terjadi kematian massal organisme perairan setempat.

Inovasi dari Limbah Perikanan

Jadi, Siti berinovasi mengolah limbah perikanan itu menjadi produk yang lebih berharga. Mengapa ia memilih sisik bukan bagian ikan lain yang terbuang?

“Saya pilih sisik karena studi literatur dan riset sejak 2017. Selain itu, higienitas sisik lebih terjaga dan bagus juga penampilannya,” kata alumnus Program Studi Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, itu.

foto: Siti Nur Seha

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img