Trubus.id—Menurut peneliti light trap alias lampu perangkap hama pada tanaman bawang merah di Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ir. Tonny K. Moekasan penggunaan lampu perangkap efektif untuk menurunkan biaya produksi. Penggunaan lampu perangkap untuk budi daya bawang merah menguntungkan petani karena biaya produksi menurun.
Produsen dan penangkar bibit bawang merah di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Yuliana Rosmalawati mengalami lonjakan biaya produksi. Musababnya hama seperti ulat grayak kerap menyerang tanaman. “Ulat itu berasal dari telur kupu-kupu putih yang hinggap pada daun bawang merah,” ujar Yuliana.
Setiap kupu-kupu putih yang hinggap pada daun meninggalkan jejak berupa telur. Tanaman yang dibiarkan terkena serangan hama menyebabkan penurunan produksi. Ia pernah mengalami penurunan hasil panen akibat lonjakan hama. Yulianan hanya memanen kurang dari 10 ton bawang merah kering simpan dalam lahan seluas 1 hektare.
Padahal biasanya dalam 1 hektare lahan mampe menghasilkan 15 bawang merah kering simpan. Untuk mempertahankan hasil produksi itu ia perlu menambah frekuensi penyemprotan pestisida. Biaya yang perlu dikeluarkan untuk kebutuhan pestisida sekali aplikasi sebesar Rp800.000 hingga Rp 1 juta per ha.
Lampu Perangkap
Yuliana menanam bawang merah varietas bima brebes, trisula, dan ambassador. Ia menanam pada lahan seluas 4 hektare. Untuk mencapai hasil panen maksimal ia perlu melakukan penyemprotan pestisida 3—4 kali dalam sepekan. Penyemprotan pestisida dilakukan dari umur 15 hari setelah tanam (hst) hingga panen, 60 hst.
Dalam satu periode budi daya Yuliana menyemprotkan pestisida sebanyak 18—24 kali. Berarti biaya penyemprotan pestisida yang harus dikeluarkan dalam satu periode budi daya sebanyak Rp 18 juta hingga Rp 24 juta per satu hektare. Biaya itu hanya untuk satu hektare, jika luas lahan 4 ha berarti Rp72 juta hingga Rp 96 juta.
Namun, itu cerita lama. Mulai 2017 Yuliana memasang alat perangkap hama. Alat itu berupa bohlam berwarna ungu yang menarik hama pada malam hari. Ia memasang 30—40 unit lampu perangkap hama per 1 ha lahan. Ia juga tidak perlu repot menyalakan alat itu. Lampu perangkap otomatis menyala saat matahari terbenam dan akan mati saat matahari terbit.
Sumber tenaga lampu perangkap berasal dari sinar matahari, sehingga instalasinya sangat sederhana. Menurut Yuliana keberadaan lampu perangkap hama sangat membantu dalam proses budi daya. Saat ini ia hanya melakukan penyemprotan pestisida sebanyak 12—18 kali dalam satu periode budi daya.
Otomatis biaya operasional untuk pestisida juga menurun. Dalam satu periode budi daya hanya mengeluarkan Rp48 juta hingga Rp72 juta. Yuliana mampu menekan biaya produksi hingga 33,3% atau setara dengan Rp 24 juta. Produksi tanaman juga lebih maksimal.
Yuliana mampu menuai 15 ton per ha. Tanaman sentosa karena hama yang mengganggu berkurang. Modal yang perlu dikeluarkan untuk membeli lampu perangkap hama itu sebesar Rp450.000 per unit. Yulianan hanya perlu menyiapkan modal untuk pembelian unit sebesar Rp 13,5 juta per ha, jika dikalikan 4 ha lahan berarti Rp54 juta.
Ketahanan alat
Ketahanan lampu perangkap juga cukup lama. Alat itu mampu bertahan lebih dari 4 tahun. Jika dalam satu tahun terdapat 4 kali masa produksi, berarti total jenderal mampu menghemat biaya produksi Rp96 juta per tahun. Harga untuk pembelian unit lampu perangkap hama tidak seberapa dibandingkan dengan biaya penyemprotan pestisida.
Tonny juga menambahkan beberapa hama pengganggu seperti Spodoptera exigua dan Spodoptera litura sangat merugikan petani. Kedua spesies itu sering disebut sebagai ulat grayak yang sering menyerang tanaman bawang merah. Hama itu tergolong serangga fototaktif positif, artinya bergerak mengikuti cahaya.

Setiap lampu perangkap dilengkapi ember penampung yang berisi air sabun. (Dok. Tonny K. Moekasan)
Hama akan bergerak memutari bohlam pada lampu perangkap. Lama kelamaan serangga akan terjatuh. Setiap lampu perangkap dilengkapi pemasangan ember berdiameter 25 cm tepat di bawah bohlam. Tujuannya untuk menampung serangga. Ember itu berisi air sabun.
“Saat serangga terjatuh di dalam air sabun maka langsung tenggelam,” ujar Tonny. Ia juga menambahkan, bahwa lapisan sayap serangga mengandung minyak, akibatnya akan kalah dengan air sabun. Berbeda jika diisi dengan air biasa. Serangga bisa berenang untuk menuju ke tepi.
Menurut Tonny penggunaan lampu perangkap hama mampu mengurangi lebih dari 50% populasi hama. Bayangkan saja, satu hama jenis S. exigua sekali bertelur mengelurkan 400 butir. Jika populasi hama dalam kawasan ratusan, maka jumlah telur yang akan jadi ulat bisa mencapai puluhan ribu.
Panjang gelombang pada lampu perangkap yakni 365—400 nanometer. Pancaran cahaya mampu menarik hama sejauh 15 meter dengan arah memutar. Tonny menyarankan pemasangan pada jarak 15 meter dari bagian tepi. Tujuannya supaya hama dari lahan lain tidak ikut tertarik. Sementara pemasangan di bagian tengah menggunakan jarak 30 m x 30 m antarperangkap. Rata-rata tiap unit mampu menangkap sekitar 30 hama selama semalam. (Intan Dwi Novitasari)
