Trubus.id–Kesulitan mencari pakan ternak menjadi salah satu tantangan yang dihadapi Kelompok Ternak Simpay Tampomas di Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Alasannya lahan berisi hijauan pakan ternak beralih fungsi menjadi penambangan pasir, perumahan, dan kawasan industri.
Dampaknya ketersediaan dan kelimpahan pakan ternak berkurang sehingga populasi ternak pun menurun. Semula Kelompok Ternak Simpay Tampomas memiliki 500 kambing perah pada 2012, kini total kambing laktasi, cempe, dan dara tersisa 40–50 ekor.
Beruntung sejak awal 2024 masalah pakan ternak yang berkurang teratasi berkat inovasi teknologi hijauan pakan bernama hydroponic fodder with temperature sensor and automatic sprayer (hydertetoyer). Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Tahun 2024 itu merupakan pengembangan sistem tanam hidroponik fodder.
Alat itu memiliki keistimewaan seperti bekerja secara otomatis mengontrol keadaan lingkungan (suhu, kelembapan, dan cahaya). Pengontrolan lingkungan itu bertujuan mencegah pertumbuhan jamur berkembang saat penyemaian biji-bijian sereal.
Penanaman melalui hidroponik fodder sangat mudah dan dapat dilakukan kapan saja. Tidak bergantung pada musim karena tanaman yang ditumbuhkan dengan sistem hidroponik dalam kondisi tertutup.

Hydertetoyer terdiri dari enam tingkat yang dilengkapi dengan sensor suhu untuk mengetahui suhu di sekitar hidroponik fodder. Alarm berguna memberi peringatan jika suhu di luar ambang batas yang ditentukan. Perangkat itu juga dilengkapi pompa air untuk mengalirkan air ke sprayer.
Sementara fungsi sprayer untuk menyemprotkan air ke tanaman hidroponik fodder. Kerangka alat dari galvalum sehingga mudah dijaga kebersihannya.
Sistem irigasi alat itu menggunakan pompa air dan selang yang terhubung dengan sprayer. Sensor suhu DHT 11 yang digunakan dihubungkan ke mikrokontroler Arduino Italy untuk mengontrol alarm yang berbunyi jika suhu di luar mencapai 25°C—28°C.
Sprayer berfungsi menjaga kelembapan dan menurunkan suhu tanaman. Penanaman hijauan menggunakan biji jagung karena mudah didapat karena terdapat kelompok yang menanam tanaman itu dan tergabung pada kelompok Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Simpay Tampomas.
Selain mudah didapat, keuntungan lain jagung karena memiliki gizi yang baik seperti karbohidrat, protein, dan beta karoten yang tergabung dalam lemak baik untuk kualitas susu.
Fodder jagung yang diterapkan dari penanaman 3 kg benih jagung menghasilkan rata-rata 15 kg per luasan galvalum 1 m x 2 m selama 11—12 hari. Oleh karena itu, setiap 1 kg benih jagung yang ditanam dapat menghasilkan sekitar 5 kg fodder jagung siap pakai untuk pakan kambing perah.
Produksi susu kambing perah di peternak P4S Simpay Tampomas mengalami peningkatan setelah diterapkannya inovasi teknologi hydertetoyer. Peningkatan produksi susu terlihat di hari keempat setelah pemberian fodder jagung yaitu sebesar 600—750 ml, semula 500—600 ml per ekor per hari.
Kemudian sampai hari ke-14 produksi susu lebih tinggi dan konsisten pada hari berikutnya. Selain produksi susu meningkat, kualitas susu pun lebih baik. Hasil analisis ekonomi sebelum dan sesudah penerapan teknologi hydertetoyer memberikan keuntungan sebesar 87% bagi peternak (mitra).
Potensi hasil yang menguntungkan ketika peternak mengombinasikan pakan dengan fodder jagung. Dengan perlakuan itu selisih penghasilan mencapai Rp880.000 per bulan.
Melihat kondisi demikian program yang dijalankan dapat bermanfaat untuk peternak (mitra) dan mampu memberikan dampak perubahan nyata pada sisi keuntungan yang dilihat secara ekonomi dan sampai sekarang tetap dijalankan oleh peternak yang tergabung pada P4S Simpay Tampomas. (Ir. Raden Febrianto Christi, S.Pt., M.S., IPM., Dosen Ternak Perah, Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran)
Foto: Dok. Raden Febrianto Christi.
