Trubus.id—Lazimnya andaliman menjadi bumbu dapur masakan Batak. Kini tanaman hutan itu dapat dinikmati dalam cangkir. Itulah inovasi dari warga di Kelurahan Sei Putih Barat, Kota Medan, Provinsi Sumatra Utara, Intan Damanik. Ia mengolah andaliman menjadi teh celup artisan sejak 2020.
Intan memastikan betul bahan baku olahan teh itu berkualitas. Ia memperoleh andaliman segar dari para petani di Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatra Utara.
Syaratnya petani harus langsung memasukkan andaliman dalam karung setelah pemetikan. Tujuannya agar tidak terkontaminasi kotoran lain. Setelah melalui quality control Intan melakukan pengayakan pertama untuk memisahkan daun dan tangkai dari buah andaliman.
Pengayakan kedua untuk menghilangkan debu dalam bahan baku. Selanjutnya ia mencuci andaliman dengan air bersih sebanyak 3 kali. Lantas Intan mengeringkan andaliman dengan sinar matahari.
“Pengeringan pada alas berbahan stainless selama 4 hari setiap pagi,” kata pemilik UD Intan itu.

Setelah kering, bagian luar yang menutupi biji (perikarp) terkelupas. Itulah yang menjadi bahan baku teh. Selanjutnya ia menghaluskan andaliman kering menggunakan mesin pelumat (blender). Ia menyaring kembali hingga 6 kali untuk memisahkan teh dan abu sekitar 40%.
Produk teh andaliman itu mengantongi sertifikat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Good Manufacturing Practice (GMP). Teh andaliman merupakan diversifikasi olahan tanaman ikonik Danau Toba.
Sepanjang 2023 Intan mengolah 2,5 ton andaliman segar. Intan menuturkan setiap 5 kg segar menghasilkan 1 kg andaliman kering. Total jenderal sekitar 5.000 kemasan yang terjual pada 2023.
Ia memasarkan teh andaliman pada loka pasar ke seluruh Indonesia dan secara perorangan ke Australia, Inggris, dan Jerman. Sekali pengiriman sekitar 100 kemasan.
