Friday, January 16, 2026

Intip Strategi Pemasaran Jamu Skala Rumahan

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Memproduksi jamu skala rumahan menjadi sumber pendapatan bagi  Oci Yonita Marhari di sela  aktivitas menjalani bisnis di bidang digital marketing.  Oci memasok jamu ke dua toko di Pekanbaru, Provinsi Riau.

Ia menuturkan, penjualan di toko mitra itu cukup memuaskan. Ia harus memasok ulang produk sebanyak 2—3 kali setiap toko per pekan. Total penjualan di toko pertama mencapai 120—210 botol setiap pekan, sedangkan di toko kedua 80—120 botol per pekan.

Oci menjual 5 varian jamu yakni kunyit asam, kunyit resik, beras kencur, temulawak, dan jahe rempah. Kelima varian itu dijual dalam botol kaca berukuran 250 ml.

Harga jamu menyesuaikan varian yakni Rp19.000 untuk kunyit asam, Rp20.000 (kunyit resik dan beras kencur), Rp21.000 (temulawak), dan Rp22.000 (jahe rempah). Pemilik Naira Herb itu enggan menyebutkan secara pasti omzet yang didapat.

Strategi pemasaran jamu lewat toko mitra cukup jitu karena jamu dikemas dalam botol kaca siap minum. Pemilihan botol kaca sebagai wadah bukan tanpa alasan. Tujuannya mempertahankan kualitas dan khasiat jamu. Selain itu penggunaan botol kaca menjadi bentuk partisipasi dalam menjaga lingkungan.

Konsumen bisa mengembalikan botol kaca sekaligus isi ulang. “Kalau pun konsumen tidak mengembalikan botol, mereka dapat memanfaatkan botol itu untuk kebutuhan lain,” kata perempuan berusia 38 tahun itu.

Ia memproduksi jamu dari bahan-bahan alami tanpa bahan pengawet. Oleh sebab itu, ketahanan produk hanya 7—10 hari. Oci memanfaatkan gula kelapa organik sebagai pemanis. Sementara rimpang sebagai bahan baku diolah secara manual.

Oci mencuci, membersihkan, dan memarut rimpang. Ia menggunakan wadah dari bahan stainless steel untuk mengolah rimpang menjadi jamu. Oci mulai memproduksi jamu pada November 2019.

Semula ia hanya menjual jamu kepada kerabat dan teman dekat. Lantaran cita rasa jamu bikinan Oci yang nikmat, lambat laun ia memiliki pelanggan.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img