Trubus.id—Budi daya burung walet menjadi pilihan bagi warga di Pasar Meeto, Kecamatan Kodeoha, Kabupaten Kolaka Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara, H. Sabar.
Pada Februari 2024, ia berhasil menjual sarang walet perdana sebanyak 0,5 kg. “Hasil perniagaan sekitar Rp7 juta,” kata Sabar. Padahal hasil panen berasal dari rumah walet berukuran 2,5 m x 4 m.
“Lokasi rumah walet di lantai 2, dan di bawahnya toko,” kata Sabar.
Ia mengubah lantai 2 ruko miliknya menjadi rumah walet sejak 2019. Ia tertarik budidaya walet karena info dari kolega yang juga membudidayakan walet terlebih dahulu di Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat.
“Kini di Kecamatan Kodeoha, Kabupaten Kolaka Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara, sudah kian bermunculan gedung walet,” kata Sabar.
Pertumbuhan rumah walet makin ramai sejak 2019. “Kalau rumah walet terlama mungkin sejak 2014 atau 10 tahun lalu,” kata pria yang juga pekebun kakao itu.
Seiring bertambahnya rumah walet di daerah setempat, menjual sarang burung pun kian mudah. “Pengepul pun kian banyak untuk menyerap hasil panen petani,” kata Sabar. Harga jual di daerah setempat Rp5—Rp10 juta per kg tergantung kualitas sarang.
