Wednesday, August 10, 2022

Istana Maskoki di Rumah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Si empunya rumah memang sengaja mendesain kolam itu untuk menciptakan nuansa lain. ‘Bosan kalau di akuarium saja,’ ujar Cuncun yang mendapat inspirasi dari akuarium meja untuk kolam koi. Nah, ruang yang bersebelahan dengan dapur itu disulap menjadi kolam maskoki sekaligus tempat kongkow-kongkow dan minum kopi.

Kolam yang dibangun 1,5 tahun lalu itu berukuran 1,2 m x 1,8 m, berkedalaman 50 cm. Kolam terbuat dari beton dilapisi keramik bercorak keemasan. Untuk menutupi permukaan kolam, 2 lapis kaca setebal 16 mm dipasang. Kaca-kaca itu direkatkan satu sama lain dengan lem-laminating temper. ‘Dengan kaca tebal itu, di atas kolam dapat digunakan untuk duduk-duduk 4 orang dewasa,’ kata Cuncun.

Mewah

Sejatinya kolam yang menyedot biaya pembangunan Rp20-juta itu berhubungan dengan kolam lain yang letaknya agak menjorok dari ruang santai. Selain lebih besar, 1,3 m x 1,8 m, kolam kedua itu tanpa penutup kaca. Namun, perannya sangat vital. Kolam itu menjadi pemasok oksigen terlarut kolam pertama. Sumber oksigen adalah aerator yang bersatu dengan sistem filter.

Trubus menyaksikan kedua kolam bersatu membentuk huruf L. Tak tampak kesan sempit karena tembok yang menjadi sandaran dinding kolam dipasang cermin setinggi 3 m. Total jenderal di kedua kolam itu terdapat 15 maskoki dari jenis ranchu, lionchu, dan tosakin yang harganya sekitar Rp3-juta/ekor.

Kapasitas kolam ini dibatasi supaya kenyamanan ikan terjaga. Makanya untuk menampung koleksi-koleksi baru seperti oranda merah-putih, oranda merah, dan ranchu merah, Cuncun membuat akuarium khusus berukuran 1,7 m x 1,5 m di samping kolam. ‘Akuarium ini juga diperuntukan bagi ikan yang dilihat secara top view,’ ujar pengusaha mainan anak-anak itu.

Kolam bulat

Tak hanya kolam ruang santai yang berlapis kaca, Cuncun juga membangun kolam serupa di dekat tangga utama ruang tamu berbentuk bulat dengan garis tengah 4,5 m2 menggunakan 2 lapis kaca berketebalan 20 mm. Menurut Cuncun kolam itu dibagi dalam 4 partisi yang masing-masing diberi celah selebar 40 cm di tengah-tengahnya. Itu pintu keluar-masuk ikan. Di sini ditaruh sekitar 40 maskoki yang didominasi jenis-jenis top view seperti tosakin hijau, merah-putih, dan merah.

Kolam bulat itu sengaja ditutup kaca, ‘Supaya anak-anak saya yang masih kecil tidak kecemplung saat melihat ikan,’ ucap penghobi olahraga tenis itu. Kolam itu sering menjadi pusat perhatian tamu karena posisinya dekat pintu masuk. ‘Tamu yang datang senang bisa menginjak di atasnya,’ kata pria 33 tahun itu yang menambahkan patung wanita memegang lampu di tengah-tengah kolam. Saat lampu menyala, cahaya bertaburan menambah keindahan maskoki. Nah, agar maskoki itu tak kekurangan oksigen terlarut, di pojok belakang kolam dipasang pipa berdiameter 17,5 cm untuk sirkulasi udara.

Kolam itu dilengkapi timer, pengatur waktu makan. Saat siang dan sore pelet secara otomatis terlempar dari wadah ke kolam,’ kata Cuncun. Timer itu diletakkan di belakang kolam dekat pipa udara. Sebagai pakan tambahan, setiap hari Cuncun memberi cacing beku.

Standar koi

Maskoki-maskoki di dalam kolam itu dirawat standar koi. Kualitas air betul-betul dijaga. Cuncun menggunakan filter dengan 3 chamber berisi mate dan bioball. Air keluar-masuk melalui chamber yang ditutupi rumput plastik hijau, lalu kembali ke kolam. Untuk air kotor yang terperangkap dibuang melalui back wash. Filter serupa dipakai pada akuarium persegi panjang yang menggunakan 8 chamber berisi bioball dan mate.

Filter yang dipakai pada kolam bulat sedikit berbeda. Kolam itu menggunakan 3 tabung filter berkapasitas 1.000 l yang diletakkan di dak lantai 3. Tabung pertama berisi filter vortex. Pompa berkekuatan 400 watt mendorong air naik ke vortex. Setelah itu masuk ke tabung kedua yang berisi mate dan bioball. Terakhir ke tabung ketiga yang juga berisi filter mate dan bioball. Dengan ketiga tabung itu Cuncun cukup menguras kolam sebulan sekali. ‘Air biasa diganti 50% setiap minggu,’ katanya.

Untuk dapat menikmati keindahan maskoki itu Cuncun merogoh kocek sekitar Rp200.000/bulan sebagai biaya operasional. Namun, laki-laki bertubuh tinggi itu tak mempermasalahkannya. Apalagi ranchu top view berukuran 10 cm koleksinya ditabalkan menjadi kampiun pada kontes maskoki di Bandung awal 2008. Sayang, 2 hari setelah kontes sebanyak 6 maskoki mati. ‘Termasuk ikan juara I yang susah didapat penggantinya,’ ujar Cuncun yang menduga penyebab kematian itu stres akibat perubahan cuaca. (Lastioro Anmi Tambunan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img