Wednesday, January 7, 2026

Itik Pedaging Dicari Itik Bongsor

Rekomendasi
- Advertisement -

Beragam itik hibrida beredar di pasar demi memenuhi kebutuhan daging itik.

Itik hasil persilangan pejantan peking dengan itik lokal betina milik Afied yang berbobot minimal 1,5 kg ketika berumur 40—45 hari.

Trubus — Entong Gunawan semringah lantaran memanen 2.320 itik berumur 35 hari pada Januari 2019. Peternak lain lazim menjual itik ketika berumur 40—60 hari. “Saat itu itik berumur 35 hari milik saya berbobot sekitar 1,5 kg sehingga sudah layak dijual,” kata peternak itik dari Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu. Itik lain mencapai bobot 1,4—1,5 kg ketika berumur 45—60 hari.

Artinya itik peliharaan Entong lebih cepat besar. Harga jual saat itu Rp34.000 per ekor sehingga beromzet Rp78,8 juta. Setelah dikurangi ongkos produksi, Entong mengantongi laba Rp9,8 juta. Sejatinya Entong memelihara 2.400 itik. Sebanyak 48 itik mati dan 32 tidak terjual karena berukuran lebih kecil. Dengan kata lain mortalitas itik 2%. Angka itu lebih bagus daripada itik lain yang mencapai minimal 5%.

Jenis beragam

Kunci keberhasilan Entong lainnya memanen itik pada umur 35 hari yaitu pakan bermutu. Ayah 2 anak itu mengandalkan pakan buatan pabrik meski berharga relatif tinggi. Dengan begitu pemberian pakan praktis dan efisien. Semua keunggulan itu—cepat besar dan mortalitas rendah—terdapat pada itik hibrida bernama gunsi 888. Gunsi akronim dari Gunungsindur, daerah asal itik itu, sebuah kecamatan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Itik peking (berbulu putih) kerap dijadikan induk untuk menghasilkan itik hibrida karena tumbuh cepat.

Gunsi 888 andalan Entong menuai laba. Menurut Direktur PT Putra Perkasa Genetika, Dicky Loase, gunsi 888 hasil persilangan antara pejantan peking mojosari dengan induk khaki campbell. PT Putra Perkasa Genetika perusahaan produsen day old duck (DOD) gunsi 888. Peking mojosari menurunkan sifat tahan penyakit dan pertumbuhan cepat. Sementara postur tubuh tegak, aktif, dan adaptif menitis dari induk khaki campbell.

Meningkatnya permintaan daging itik mendorong masyarakat menyilangkan sendiri itik miliknya. Harapannya mendapatkan itik yang bongsor. Nun di Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur, Munasrib, menyilangkan pejantan peking dengan itik lokal betina. Itik hibrida berbobot minimal 1,5 kg ketika berumur 40—45 hari. Bandingkan dengan bobot itik lokal 1,1—1,2 kg pada umur sama.

Pilih day old duck (DOD) berkualitas dari pembibit terpercaya agar budidaya itik pedaging sukses. (Dok. Trubus)

Menurut Munasrib itik kreasinya itu juga bisa dipanen pada umur 35 hari dengan bobot 1,3—1,5 kg. “Tujuan saya menyilangkan agar pertumbuhan itik lebih cepat dan bobotnya lebih berat,” kata pria berumur 61 tahun itu. Afied—sapaan akrab Munasrib—rutin membarui indukan agar kualitas DOD terjaga. Ia memproduksi sekitar 15.000 DOD saban bulan dengan harga Rp7.000 per ekor.

Meski harganya lebih mahal ketimbang peternak lain, sekitar 50 konsumen setia mengandalkan itik hibrida milik Afied. Konsumen berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur seperti Jombang, Lamongan, dan Gresik. Yang paling istimewa pencapaian bobot itik hibrida Afied tidak melulu mengandalkan pakan pabrik. Ia memanfaatkan bahan baku lokal seperti bekatul, jagung, nasi aking, dan bungkil kedelai.

Ukuran seragam

Entong Gunawan mengandalkan itik gunsi 888 sebagai sumber penghasilan sejak medio 2016.

Selain PT Putra Perkasa Genetika dan Afied, Kusman pun menyilangkan pejantan peking dengan itik hibrida betina. Menurut penyedia DOD di Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur, itu itik hasil persilangan keduanya berbobot 1,5—1,7 kg pada umur 40 hari. Kusman memproduksi 2.000—2.500 DOD itik hibrida.

Sekitar 40% dari jumlah itu berasal dari kandang sendiri. Sisanya berasal dari telur yang dibeli dari peternak lain lalu ditetaskan. Penjualan DOD milik Kusman ke berbagai daerah karena ia menjual secara daring. Selain itu, ia memiliki langganan tetap di Kediri dan Malang, keduanya di Jawa Timur. Konsultan dari PT Putra Perkasa Genetika, Dr. Hardi Prasetyo, MAgr.Sc., menyarankan peternak membeli DOD dari pembibit yang bagus.

Jika terpaksa membeli dari berbagai sumber, “Maka pilihlah DOD sehat, segar, dan seragam ukurannya,” kata mantan peneliti itik di Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu. Bibit yang baik “modal” penggemukan itik yang permintaannya terus meningkat. (Riefza Vebriansyah)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Aksi Yayasan Bina Trubus Swadaya (YBTS) untuk Korban Banjir dan Longsor di Sumatra

Hujan deras yang mengguyur wilayah Sumatra pada akhir 2025 bukan sekadar angka curah hujan di laporan cuaca. Di lapangan,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img