Tuesday, August 9, 2022

Jagoan Nomor Enam

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Klon ICCRI 06H tahan penyakit VSDSosok mungil itu adalah Oncobasidium theobromae. Cendawan itu mengganggu transportasi unsur hara dari akar ke seluruh jaringan tanaman kakao. Dampaknya perkembangan vegetatif tanaman pun terganggu: ranting dan cabang mengering serta daun menguning, lalu rontok. Itulah penyakit pembuluh kayu alias vascular streak dieback (VSD). Celakanya spora cendawan itu mudah menyebar dengan menunggang angin dan melayang sejauh 10 meter.

Oleh karena itu satu kebun kakao mudah luluh lantak begitu cendawan datang. Gara-gara kehadiran Oncobasidium theobromae itulah produksi kakao di Desa Mattiroada, Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan, anjlok sejak 2008. Semula produksi kakao 960 kg per ha per tahun, tetapi sejak cendawan itu berulah, produksi anjlok menjadi 150 kg per ha per tahun.

Daun muda

Cendawan anggota famili Basidiomycetes itu mengincar daun muda. Tiga bulan setelah infeksi cendawan, daun kakao tampak menguning dengan bercak hijau. Daun-daun itu akan gugur, ranting mengering, dan pohon anggota famili Sterculiaceae itu pun meregang nyawa. Noktah cokelat yang tak lain adalah spora cendawan itu tampak di bekas dudukan daun yang sakit. Isyarat kehadiran cendawan di batang tanaman itu berupa garis cokelat di inti batang. Garis cokelat itu adalah spora.

Penyakit pembuluh kayu tergolong berbahaya karena membuat tanaman mati. Itu berbeda dibandingkan efek akibat hama penggerek buah kakao dan penyakit busuk buah. Kedua pengganggu tanaman itu hanya menyerang buah, tetapi tidak menyebabkan tanaman mati. Menurut Dr Philip Keane, peneliti dari La Trobe University di Australia, penyakit pembuluh kayu dapat menyerang sejak bibit. Bahkan tingkat kematian bibit pascatanam di lapangan mencapai di atas 50%.

Saat ini bukan hanya pekebun kakao di Sulawesi Selatan yang menghadapi serangan VSD. Penyakit itu meluas ke berbagai sentra seperti di Jawa Barat dan Sulawesi Tengah. Di Provinsi Sulawesi Tengah, misalnya, dari total 224.113 ha kebun kakao, sekitar 75% terserang penyakit yang diduga pendatang dari Malaysia itu. Dinas Perkebunan Sulawesi Selatan menyebutkan penyakit pembuluh kayu menyerang 1,3-juta hektar kakao di Indonesia yang membuat produksi nasional kakao turun sampai 40%.

Itulah sebabnya pengendalian penyakit pada tanaman dewasa sangat penting. Salah satu caranya dengan pemangkasan. Potong ranting yang sakit setiap bulan sekali untuk serangan sedang dan berat. Cirinya batang pohon mengering. Untuk serangan ringan – dengan ujung pohon yang menyerupai ranting – lakukan pemangkasan 3 bulan sekali. Bila batang pohon sudah terinfeksi, langkah terakhir adalah membongkar tanaman.

Cara lain untuk menanggulangi penyakit pembuluh kayu dengan memberi fungisida berbahan aktif azocystrobin dan difenoconazole berdosis 0,1%. Pekebun silakan menyemprot fungisida pada daun muda dengan interval setiap 2 pekan. Pada serangan VSD berat, pengendalian efektif dengan menanam klon atau varietas tahan VSD. Beberapa jenis klon tahan VSD adalah Sulawesi 1, Sulawesi 2, Sca 6, dan ICCRI 05. Sayangnya, tidak semua pekebun mampu mengadopsi perbanyakan kakao klonal untuk memperoleh kakao tahan VSD.

Perbanyakan secara klonal dengan menyambung pucuk atau sambung mata tunas. Untuk melakukan itu pekebun mengalami kesulitan secara teknis dan keterbatasan sumber entres. Di samping itu memerlukan biaya pembelian entres dan upah penyambungan. Oleh karena itu pemerintah mengembangkan hibrida ICCRI 06H yang tahan VSD sehingga pekebun lebih mudah memperoleh bibit dengan biaya rendah.

Tahan banting

Riset selama 10 tahun akhirnya melahirkan hibrida ICCRI 06H. Mula-mula para periset menyeleksi klon-klon tetua persilangan pada koleksi plasma nutfah kakao di Kebun Percobaan Kaliwining, Jember, Jawa Timur. Mereka menyeleksi tetua berdasarkan keunggulan sifat produksi, ketahanan penyakit pembuluh kayu, dan kompatibilitas persilangan. Klon-klon yang terpilih sebagai tetua persilangan adalah TSH 858, KW 162, KW 163, KW 165, KEE 2, ICS 13, dan NIC 7.

Hasil silangan TSH 858 dan KW 162 menunjukkan hasil terbaik dengan produksi 2.183,7 kg per hektar. Varietas hibrida unggul yang kemudian diberi nama ICCRI 06H itu memiliki kualifikasi mutu biji A berdasarkan standar SNI (1,07 g) dan kadar lemak biji kategori sedang (54,3%). Hasil evaluasi setelah tanaman berumur 7 tahun menunjukkan 9% dari populasi ICCRI 06H mati akibat VSD, sedangkan hibrida lain mati lebih dari 50%. Salah satu induk yakni KW 162 termasuk klon tahan VSD.

Uji multilokasi dilakukan untuk mengulas stabilitas dan adaptasi berlangsung selama 7 tahun. Tempat uji multilokasi di empat sentra dengan kondisi topografi yang beragam seperti Malang, Jember, dan Banyuwangi – semua di Provinsi Jawa Timur. Hasilnya ICRRI 06H memiliki sifat stabil dan adaptif di semua lingkungan uji. Hasil multilokasi dijadikan sebagai sumber perbanyakan klonal.

Gen sudah terseleksi sehingga kecil kemungkinan munculnya gen inferior pada saat perbanyakan melalui benih. Itu penting karena perbanyakan dengan benih lebih murah, mudah, dan gampang didistribusikan ke daerah-daerah pengembangan kakao. (Dr Agung Wahyu Susilo, pemulia tanaman kakao di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img