Thursday, August 18, 2022

Jambu Biji Berpotensi Antivirus

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Jambu biji berdaging buah merah berpotensi antivirus korona.

Jambu biji berdaging buah merah muda mengandung myricetin, quercetin, luteolin, kaempferol, isorhamnetin, dan hesperidin yang berpotensi sebagai antivirus SARSCoV- 2. (Dok. Derrickdanbeni123/Flickr)

Trubus — Kebiasaan Da’wah mengonsumsi jus jambu biji merupakan hal positif. Warga Kota Tangerang, Provinsi Banten, itu menggemari buah Psidium guajava karena rasanya enak dan berkhasiat bagi kesehatan. Guru besar pangan dan gizi dari Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, M.S., mengatakan jambu biji mengandung 87 mg/100 g vitamin C. Bandingkan dengan vitamin C dalam jeruk yang hanya 49 mg/100 g.

Menurut Ali Khomsan sangat penting mengonsumsi lebih banyak sayuran dan buah sebagai sumber vitamin C untuk kekebalan tubuh. Terutama pada masa pandemi Corona virus disease 2019 (Covid-19). Apalagi belum ada obat spesifik sebagai terapi penanganan virus korona. Oleh karena itu, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mencari kandidat potensial senyawa dalam tanaman Indonesia sebagai antivirus SARS-CoV-2, penyebab virus Covid-19.

Potensi antivirus

Periset di FK UI bekerja sama dengan Klaster Bioinformatics Core Facilities IMERI-FKUI, Klaster Drug Development Research Center IMERI-FKUI, Laboratorium Komputasi Biomedik dan Rancangan Obat Fakultas Farmasi UI, Rumah Sakit UI (RSUI), Pusat Studi Biofarmaka Tropika (Trop BRC) Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Departemen Ilmu Komputer IPB.

Kulit jeruk pun memiliki senyawa potensial antivirus SARS-CoV-2 yang jumlahnya lebih sedikit daripada jambu biji berdaging buah merah muda. (Dok. Judi/Flickr)

Para periset berharap hasil penelitian dapat digunakan sebagai upaya preventif serangan Covid-19, tapi tidak menutup peluang sebagai tindakan kuratif. Salah satu peneliti, Dr. Wisnu Ananta Kusuma dari Pusat Studi Biofarmaka Tropika (Trop BRC) IPB, mengatakan, penelitian itu menggunakan analisis big data dan machine learning (SVM, random forest, dan MLP neural network) untuk mengetahui model prediksi interaksi senyawa-protein.

Setelah itu, hasil uji kedua analisis itu dikonfirmasi dengan pemodelan farmakofor berbasis struktur dan ligan memakai virtual screening dengan 1.377 senyawa dari database HerbalDB. Selanjutnya hasil senyawa hit dari machine learning dan pemodelan farmakofor dikonfirmasi menggunakan penambatan molekuler (molecular docking). Riset itu juga menganalisis interaksi antara senyawa bahan alam dengan protein SARS-CoV-2 dan manusia.

Hasil penelitian juga menunjukkan daun jambu biji berkhasiat imunostimulan. (Dok. Gabriel Gonzalez/Flickr)

Hasil penelitian itu mengungkapkan terdapat 13 senyawa hit yang berpotensi sebagai antivirus SARS-CoV-2. “Senyawa seperti myricetin, quercetin, luteolin, kaempferol, isorhamnetin, dan hesperidin lebih banyak terdapat dalam jambu biji berdaging buah merah muda,” kata doktor Bioinformatika alumnus Tokyo Institute of Technology, Jepang, itu. Senyawa potensial lainnya juga ada dalam kulit jeruk (hesperidin) dan daun kelor (rhamnetin 3-mannosyl-(1-2)-alloside dan myricetin-3), tapi jumlahnya sedikit.

Dalam laporan hasil penelitian yang diterima Trubus, peneliti dari Unit Departemen Kimia Kedokteran, FKUI, Aryo Tedjo, menyatakan luteolin berperan sebagai inhibitor protein furin yang diduga menjadi salah satu enzim yang memecah protein spike virus korona seperti pada MERS menjadi unit S-1 dan S-2. Receptor binding domain (RDB) dalam unit S-1 menjadi tempat berikatannya peptidase angiotensin coverting enzyme 2 (ACE-2) sehingga virus berikatan pada sel inang.

Hindari stres

Mengonsumsi jus jambu biji memudahkan kerja sistem pencernaan mekanis dalam mulut. (Dok. Trubus)

Hesperidin dalam kajian insilico menghambat ikatan domain RBD dengan reseptor ACE-2 pada manusia. Dengan kata lain hesperidin berpotensi menghambat masuknya SARS-CoV-2. Hesperitin yang berbentuk aglikon hesperidin dan quercitin pun berperan sebagai penghambat protein virus 3Clpro. Adapun myricetin diketahui berguna sebagai inhibitor helicase SARS coronavirus.

Menurut Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, M.S., seseorang mesti memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik untuk menangkal serangan infeksi virus atau bakteri. Hal itu antara lain dipengaruhi oleh asupan vitamin C yang memadai. “Kekebalan tubuh merupakan fungsi dari asupan gizi yang dikonsumsi seseorang,” kata doktor alumnus Family and Consumer Sciences Education, Iowa State University, Amerika Serikat, itu.

Selain itu, stres memengaruhi imunitas tubuh. Hasil penelitian menunjukkan 27% orang yang mengalami stres ringan segera terjangkit flu ketika diekspos dengan virus flu. Sementara 47% orang terserang flu ketika mereka tengah stres berat. Jadi, makin tinggi tingkat stres, kian mudah terserang penyakit. Lalu bagaimana cara mengonsumsi buah agar mendapatkan faedah kesehatannya?

Ali Khomsan mengatakan, membuat jus atau mengonsumsi buah utuh bergantian baik untuk menghindari kebosanan. Jus buah memudahkan kerja sistem pencernaan mekanis ketika buah dikunyah dalam mulut. “Mengonsumsi buah juga tidak terkesan bulky sehingga lebih nyaman,” kata pria kelahiran Ambarawa, Jawa Tengah, itu. Yang paling penting, konsumsilah jus bersama ampasnya yang merupakan sumber serat larut dan baik untuk pengendalian kolesterol. (Riefza Vebriansyah)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img