Monday, August 8, 2022

Janji Porang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Olahan porang menjadi konnyaku
Olahan porang menjadi konnyaku

Dengan porang kita bisa mengusir kemiskinan.  Itulah pikiran menteri negara BUMN, Dahlan Iskan. Sekarang, siapa suka makan porang? Amorphopallus onchophyllus itu bukan tanaman baru. Sejak zaman Jepang, kakek dan nenek saya mengenal bermacam varietas porang, yang disebut iles-iles dan suweg.  Terutama suweg–dengan batang loreng-loreng hijau dan tangkai daun yang indah, sering tampil sebagai tanaman hias di pekarangan.

Buahnya bagaimana? Bukan buah tapi umbi–semacam akar yang membesar di dalam tanah.  Itulah yang nikmat direbus atau dikukus, dimakan dengan urap parutan kelapa. Itulah suweg yang saya kenal dari pekarangan kami di Malang, Provinsi Jawa Timur, pada awal 1960-an. Gurih mengenyangkan. Namun, suweg berbeda dengan porang maupun iles-iles. “Suweg adalah sejenis porang yang bisa dikonsumsi langsung. Sedangkan porang perlu diolah, dibuat keripik atau chips–dikeringkan dan diambil serat atau fibernya.  Serat itulah yang bisa dijadikan jeli, bahan makanan yang banyak kita dapati dalam masakan Jepang,” kata sobat saya, Floribertus, seorang konsultan agribisnis.

Ia banyak menanam porang di halaman rumahnya, di kawasan Cimanggis, Kotamadya Depok, Provinsi Jawa Barat.  Bibit porang bisa berupa “katak”–tunas-tunas kecil, bisa berupa pecahan umbi yang sudah tua. Bisa juga biji yang harus disemaikan. Biji-biji itu berasal dari bunga yang muncul sekali dalam empat tahun.

 

Saudara bunga bangkai

Seperti lazimnya keluarga Amorpophallus—berarti sekerabat dengan bunga bangkai Amorpophallus titanum, porang hanya tampak di permukaan mulai awal musim hujan sampai awal musim kemarau. Pada saat kemarau umbinya bertahan di bawah tanah.  Setelah tumbuh berulang selama tiga tahun umbinya cukup besar untuk dipanen.

Umbinya biasa dijual bersama aneka bangsa umbi-umbian lain termasuk uwi, gembili, gadung, garut, ganyong, singkong, ketela, bahkan aneka keladi, mbote,  talas, bentul. Bagi warga seputar hutan jati maupun hutan cemara, tentu akrab dengan bermacam umbi-umbian itu. Di pasar desa, satu kilogram porang mentah basah paling Rp800—Rp1.000.  Kalau dimasak, sebungkus hanya Rp2.500, maksimal Rp3.000!

Jadi, bagaimana dengan umbi-umbian itu kita bisa kaya?  Tentu ada rahasianya. Kalau porang diiris-iris, dijemur, dijadikan keripik, harganya meningkat menjadi Rp60.000 per kg. Kalau diolah sebagai tepung dan diekspor ke Jepang, bisa menjadi Rp150.000 per kg! Tepung porang bisa menjadi tahu konyaku, mie shirataki, bermacam makanan bahkan pelapis kapsul obat-obatan.

Itulah yang ramai dibahas oleh ratusan Linkers–anggota forum millis (surat elektronik–surel) yang dimotori alumni Institut Pertanian Bogor, hampir sepanjang Februari 2013.  Inti masalahnya sederhana.  Sebetulnya semua produk hutan dan pertanian bisa membuat kita sehat dan kaya.  Namun, kita sering “memble”–hanya kuat di hulu, hancur di hilirnya.

Lihat saja cokelat atau kakao.  Di setiap sudut tanahair Indonesia, kita bisa menanam kakao.  Bijinya kita ekspor dengan harga murah ke luar negeri.  Lantas setelah diolah di sana, kita impor lagi dengan harga luar biasa mahalnya.  Itulah yang harus dijaga, jangan sampai terjadi dengan porang.

 

Ekspor perdana

Awalnya, sepuluh tahun silam, pada 2003, Perhutani mulai mendorong budidaya porang di seputar Nganjuk, Jawa Timur.  Hasilnya baru terasa pada Juli 2007. Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Argomulyo, Desa Cabean, Kelurahan Sugihwaras, Kecamatan Ngluyu, Kabupaten Nganjuk, melakukan ekspor perdana “chips” (irisan iles-iles) ke Hongkong sebanyak 24 ton. Ekspor perdana itu menghasilkan US$36.000 sekitar Rp300-juta!

Panenan dipetik dari lahan seluas 300 hektar yang digarap oleh 230-an keluarga. Ketika bahan mentahnya kurang, untuk memenuhi pasokan, didatangkan porang basah dari Majalengka, Jawa Barat.

Setelah sepuluh tahun berlalu, sentra produksi porang juga semakin menyebar. Ekspornya tidak lagi puluhan ton, tapi sudah meningkat menjadi ratusan ton, baik ke Jepang, China, maupun Eropa. Hampir setiap wilayah hutan dari Jember di Jawa Timur, Wonogiri di Jawa Tengah, dan Tasikmalaya, Jawa Barat sekarang memperhatikan porang.

Harga porang meningkat jauh lebih bagus. Tepung porang kualitas ekspor mencapai US$15—18  per kilogram. Berbagai daerah lain tidak ketinggalan. Sejak dua tahun terakhir, Perum Perhutani KPH Jember, Jawa Timur, giat membagikan bibit, baik berupa katak, pecahan umbi, maupun semaian biji porang.

Umbi porang, konjac, alias konnyaku dipanen dari tanaman berumur 3 tahunDitegaskan: “Perum Perhutani sebagai pemegang mandat dalam pengelolaan hutan berupaya secara terus-menerus untuk mensukseskan pelaksanaan PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat) guna menumbuhkembangkan rasa memiliki segenap masyarakat.  Di bawah tegakan tanaman pokok kehutanan yang biasanya berupa tanaman tumpangsari, antara lain dengan menanam padi, jagung, jeruk, pepaya, nanas, cabai, temu pepet, belimbing, semangka, vanili, maupun porang.”

Sentra pengolahan tepung porang sudah berkembang di Gempol, Pasuruan, dan Madiun (Jawa Timur), serta di Wonogiri, Jawa Tengah.  Sebuah pabrik olahan porang di Gempol, PT Ambico, bahkan mampu mengolah 2.000 ton bahan mentah porang dalam setahun. Sementara eksportir porang, Agro Alam Raya di Jombang mengaku baru bisa memasok 300 ton ke Australia, dari permintaan yang mencapai 1.000 ton per tahun.

Di kawasan Setrasari, Bandung ada pengolahan porang, yang mampu menghasilkan tepung dengan 60 persen kadar glukomanan. Itulah serat yang diubah menjadi jeli, dan digemari anak-anak muda kalau makan di restoran Jepang.

Jadi, masalahnya adalah penyediaan bahan baku. Maka, setiap perhutani getol mencari peminat yang rajin mengelola tanah di bawah pokok-pokok jati, cemara maupun sonokeling. Di Jawa Timur saja, telah berhasil dikelola lebih dari 1.600-an hektar “kebun ” porang. Yang paling luas masih terdapat di Nganjuk, yaitu 700 ha dengan produksi rata-rata 24 ton per ha.

 

Pusat studi porang

Siapakah pekebun porang?  Ada seorang guru sekolah dasar, Suratman di Desa Sambikerep, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.  Ia membudidayakan porang di lahan 15 ha. Dari lahan itu Suratman memanen 75—150 ton umbi porang segar per tahun. Dengan harga jual Rp1.000 per kg, total omzet yang diraih Suratman Rp75-juta-Rp150-juta.

Pusat studi porang Indonesia juga sudah berdiri di Universitas Brawijaya, Malang.  Secara internasional dikenal sebagai Konjac Research Centre of Indonesia. Konjac memang bahasa Inggris dari konnjaku–sejenis amorpophallus yang tumbuh di daerah sub-tropis dan populer sebagai bahan makanan maupun industri minuman, teristimewa di Jepang. Maka jangan heran kalau anak-anak muda di Indonesia, tidak kenal nama porang, tetapi lebih akrab dengan istilah konyaku.

Bila pasar dalam negeri sudah berkembang, selayaknya industri makanan digarap dengan sungguh-sungguh dari hulu sampai ke hilir. Namun, untuk sementara ini orientasi budidaya porang lebih diarahkan sebagai komoditas ekspor.  Harga jual yang sangat bagus memang diperlukan untuk bisa mengentaskan kemiskinan kalangan warga di tepi hutan. Semoga di masa mendatang porang digemari dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Baik sebagai makanan sederhana di rumah, maupun masakan kelas tinggi di restoran mewah. (Eka Budianta, kolumnis Trubus sejak 2001, konsultan Jababeka Botanic Gardens, pengurus Tirto Utomo Foundation)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img