Thursday, August 11, 2022

Janji Singkong!

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Anak singkong! Ungkapan untuk menggambarkan kemiskinan itu kini sudah pasti tidak tepat lagi. Adagium itu sekarang justru menjadi kebanggaan. Fakta lapangan berbicara, banyak yang menjadi kaya gara-gara singkong!

 

Hari itu betapa melelahkan Amih Mihardja setelah bekerja di ladang. Begitu sampai di rumah, tubuh Amih Mihardja yang masih berpeluh langsung rebah di atas kursi rotan di selasar rumah. Ia lalu menarik napas panjang. Setelah terdiam sejenak, tangan kanannya mencomot sepotong singkong rebus yang tersaji di atas meja. Ayah enam anak itu lantas mencocolkan singkong ke irisian gula kelapa sebelum akhirnya menyeruput secangkir teh hangat.

Kudapan singkong rebus menjelang petang itu sekaligus menjadi makan malam hari itu. Maklum, peresediaan beras menipis. Beruntung singkong di halaman rumah baru saja panen. “Setidaknya beras masih bisa cukup sampai gajian minggu depan,” ujar guru Sekolah Dasar  di Kota Cimahi, Jawa Barat, itu. Dahulu, singkong menjadi andalan ketika masa paceklik tiba. Amih menanam kerabat karet itu di halaman rumah seluas 70 m2 agar tidak selalu bergantung pada beras.

Naik kelas

Amih Mihardja menanam singkong karena mudah tumbuh. Cukup menancapkan batang, lalu menunggu sampai 10 bulan. “Ketika itu tak pernah dipupuk. Jangankan membeli pupuk, beras saja tidak terbeli,” ujar pria yang kini berusia 72 tahun itu. Bila masa panen tiba, singkong rebus menjadi makanan pengganti nasi. Itu cerita singkong 40 tahun lalu. Pada 1960-an singkong ditanam sekadar pengganti beras yang ketika itu harganya membubung tinggi. Sekarang kondisinya berubah.

Beberapa pekebun justru membudidayakan tanaman anggota famili Euphorbiaceae itu dalam skala luas.  Idawati, pekebun di Kabupaten Malang, Jawa Timur, misalnya, mengebunkan hingga 80 ha. Ia tidak asal tanam, tapi membudidayakan secara intensif. Alumnus Universitas Brawijaya itu memberikan pupuk lengkap seperti pupuk kandang dan pupuk anorganik. Dari areal tanam 80 ha itulah anak muda berusia 42 tahun itu rutin panen 15 ton singkong per hari.

Nun di Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, Andi Bunyamin juga mengebunkan singkong hingga 200 ha. Ketua Kelompok Tani Singkong Manggu itu memanen 50 ton singkong segar per hari. Alasan Idawati dan Andi menanam singkong bukan seperti Amih empat dekade silam. Keduanya dikejar permintaan industri keripik.

Sejak dua tahun terakhir, singkong memang “naik kelas”. Bila sebelumnya kerabat jarak pagar itu cuma diolah dalam bentuk rebusan atau gorengan, kini ia hadir dalam berbagai produk seperti keripik dengan aneka racikan bumbu. Kemasannya juga mewah: plastik yang diberi merek atau aluminium foil. Harganya? Fantastis! Harga sekantong isi 180 gram keripik pedas Karuhun produksi Yana Hawi Arifin asal Bandung, Jawa Barat, mencapai Rp14.000. Itu setara 2 kg beras. Padahal, dahulu singkong pengganti beras justru karena berharga murah.

Meski relatif mahal, para pembeli tetap menyerbu beragam olahan Manihot esculenta. Pada Desember 2011, keripik Karuhun terjual  hingga 400.000 bungkus masing-masing berbobot 180 gram. Penjualan keripik singkong Maicih produksi Reza Nurhilman, yang juga asal Bandung, lebih fantastis lagi. Pada Maret 2012 saja terjual hingga 1-juta bungkus. Maraknya penjualan keripik pedas itu membuat permintaan singkong segar melonjak tajam.

Lihat saja permintaan Yana yang memerlukan hingga 10 ton umbi singkong segar setiap hari sebagai bahan baku keripik. PT Maicih Inti Sinergi yang memproduksi keripik Maicih, membutuhkan pasokan rata-rata 7,5-9 ton singkong segar untuk memproduksi 3 ton keripik per hari.  Sebuah perusahaan makanan ternama di Semarang, Jawa Tengah, membutuhkan pasokan minimal 15 ton per hari.

 

“Industri keripik memang sedang naik daun. Namun, sebetulnya ada permintaan yang jumlahnya jauh lebih besar, yakni mocaf yang mencapai 1-juta ton/tahun”

H Suharyo Husen BSc, SE MBA, ketua Masyarakat Singkong Indonesia (MSI)

Permintaan menggila

Hingga saat ini Idawati masih kewalahan melayani permintaan singkong yang terus meningkat. Pada 2006, saat pertama kali menanam singkong, Ida sanggup memasok ke dua pengepul di Magelang, Jawa Tengah, masing-masing 1 truk atau total 14 ton per hari. “Saat itu permintaan industri keripik baru 1 truk (7 ton, red),” ujarnya. Pada 2010 permintaan industri keripik melambung 2 kali lipat menjadi 15 ton per hari.

Lonjakan permintaan industri keripik itu membuat Idawati terpaksa menghentikan pengiriman ke Magelang karena pasokan terbatas. Pada 2010, Idawati mengalihkan jatah pasokan Magelang ke Semarang.  Baru-baru ini permintaan singkong makin deras. Produsen makanan ringan di Magelang minta pasokan 2 truk atau total 14 ton per hari,  pabrikan di Surakarta, Jawa Tengah,  1 truk atau 7 ton. “Jadi yang belum terlayani 21 ton,” tutur perempuan yang juga pemasok tepung garut itu.

Untuk memenuhi permintaan itu Idawati bermitra dengan para petani. Lahan tidak harus luas, minimal 2.000 m2 untuk  populasi 1.000 tanaman. “Yang penting kondisi tanah bagus, subur, dan gembur,” ujar Penny Kusumardani, penanggung jawab lapangan yang membantu Idawati. Andi Bunyamin juga kebanjiran permintaan. Produksi 50 ton per hari baru memenuhi 60% permintaan. “Menjelang Lebaran permintaan meningkat menjadi 80 ton per hari,” ujarnya.

Permintaan tinggi, pasokan kurang, di situlah hukum pasar terjadi. “Sejak 2010 harga singkong mencapai Rp1.500 per kg,” ujar Idawati. Padahal, pada 2006 hanya Rp450 per kg. Harga tinggi itu berlaku untuk singkong yang lolos persyaratan industri keripik: berdiameter 4-9 cm, lurus, dan dipanen pada umur 9-12 bulan. Kadar pati maksimal 23-25%.

Menurut ketua Masyarakat Singkong Indonesia (MSI), H Suharyo Husen BSc SE MBA, mengatakan biaya produksi singkong Rp30-juta per ha. Itu dengan populasi hingga 10.000 tanaman yang memberi hasil minimal 100 ton per ha. Pada periode budidaya berikutnya, biaya produksi berkurang hingga Rp4-juta atau hanya Rp26-juta per ha. Sebab, pekebun dapat memanfaatkan batang tanaman hasil panen sebagai bibit sehingga tak perlu membeli lagi.

Pasar luas

Saat ini para pekebun singkong di tanahair memang tengah berpesta pora. Harga tinggi tidak hanya di sentra-sentra singkong untuk industri keripik. Menurut ketua Gabungan Koperasi Pertanian Sumber Jaya di Bandarlampung, Provinsi Lampung, Niti Soedigdo, sekarang harga singkong di Lampung mencapai angka tertinggi yakni Rp900 per kg. Harga itu dua kali lipat ketimbang setahun silam. “Tingginya harga karena kebutuhan bahan baku tapioka juga meningkat,” ujarnya.

Menurut H Suharyo Husen BSc SE MBA, industri keripik singkong memang tengah naik daun. Namun, sebetulnya masih ada permintaan yang jumlahnya lebih besar. Salah satunya mocaf (modified cassava flour). Karakter mocaf mendekati terigu sehingga dapat menjadi bahan campuran tepung gandum.

Itulah sebabnya pada Februari 2011 PT Indofood Sukses Makmur membuat nota kesepahaman dengan MSI untuk memasok 1-juta ton mocaf per tahun. “Jumlah itu untuk menggantikan 20% kebutuhan tepung terigu,” ujar Suharyo. Untuk menghasilkan 1 kg mocaf  perlu 6 kg singkong segar bila kadar pati 23%. Artinya, kebutuhan singkong segar untuk memenuhi permintaan PT Indofood saja mencapai 6-juta ton per tahun. Bila produkstivitas mencapai 100 ton per ha, perlu penanaman singkong di lahan 60.000 ha untuk memenuhi permintaan 1-juta ton mocaf.

Saat ini produksi mocaf yang kontinu baru di Trenggalek, Provinsi Jawa Timur. Sentra mocaf itu memproduksi rata-rata 100 ton per bulan. “Itu pun sudah habis oleh produsen makanan ringan di Jawa Timur,” ujar Cahyo Handriadi, produsen mocaf di Trenggalek. Selain pasar domestik, pasar manacanegara juga minta pasokan tepung singkong termodifikasi itu dan singkong segar.

Menurut Suharyo, sebuah pabrik di China meminta Masyarakat Singkong Indonesia memasok irisan singkong berketebalan 2-3 mm dan berkadar air maksimal 12-13%. Irisan itu siap olah menjadi berbagai produk turunan seperti mocaf, tapioka, dan bioetanol. Permintaan tak kalah besar juga datang dari Korea dan Taiwan.

Skala kecil

Di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak dunia, banyak kalangan menggadang-gadang singkong sebagai bahan baku bioetanol-pengganti bensin. Produsen memerlukan 6 kg singkong untuk menghasilkan seliter bioetanol. Pada 2010 kebutuhan bensin tanahair mencapai 126,04-juta liter per tahun. Seandainya 5% saja digantikan bioetanol, maka kebutuhan singkong segar mencapai 37-juta-38-juta ton.

Permintaan singkong yang luar biasa tinggi itu tentu saja merupakan peluang usaha menggiurkan.Toh budidaya dalam skala kecil juga menguntungkan. Contohnya Basar, pekebun di Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Meski hanya mengebunkan 1.400 tanaman di lahan 3.500 m2, penghasilannya hampir 2 kali lipat upah minimum kota DKI Jakarta yang hanya Rp1,5-juta.

Pekebun singkong sejak 1982 itu memanen rata-rata 15 kg per tanaman atau total 21 ton pada umur 9 bulan. Basar menjual hasil panen dengan harga Rp1.200 per kg. Ia memperoleh untung berlipat karena biaya produksi hanya Rp700 per tanaman. Dengan fakta itulah, mestinya tak perlu malu bila kelak disebut anak singkong. (Imam Wiguna/Peliput: Argohartono A Raharjo, Bondan Setyawan, dan Riefza Vebriansyah)

 

Keterangan foto

  1. Singkong menjadi komoditas potensial sehingga dijuluki treasure from the ground, harta karun dari bawah tanah
  2. Mocafdibutuhkan industri ini sebagai pengganti terigu. Kebutuhan mencapai 1-juta ton/tahun
  3. Yana Hawi Arifin, pemilik keripik Karuhun, sukses menjual hingga 400.000 bungkus per bulan
  4. Singkong varietas manggu disukai industri keripik
  5. Singkong digadang-gadang sebagai pengganti bensin setelah diolah menjadi bioetanol
  6. Sejak dua tahun silam industri keripik singkong meningkat tajam
  7. H. Suharyo Husen BSc SE MBA, ketua masyarakat Singkong Indonesia (MSI), di masa mendatang permintaan singkong akan lebih besar lagi
  8. Dahulu singkong hanya diolah dalam bentuk rebusan atau gorengan. Kini singkong hadir dalam berbagai produk bernilai ekonomi tinggi
  9. Idawati (kanan) mengebunkan singkong di lahan 80 ha untuk memasok industri keripik
  10. Berbagai produk keripik singkong yang digandrungi konsumen
Previous articleEksportir Terbesar
Next articleBenteng di Sekujur Pohon
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img