Friday, December 9, 2022

Jatuh Cinta pada Ikan Betta

Rekomendasi
Cupang jenis doubletail fancy menjadi salah satu koleksi Daniel. (Dok. Betta Club Indonesia)

Bentuk tubuh beragam dan warna elok menyebabkan sebagian orang jatuh hati pada sosok cupang. Mereka membentuk komunitas.

Daniel Indarta. Salah satu pendiri komunitas Betta Club Indonesia. (Dok. Betta Club Indonesia) 

Trubus — Daniel Indarta memilih ikan cupang sebagai satwa klangenan sejak 2008. Semula pehobi di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, itu memandang cupang hanya sebatas untuk diadu. Namun, setelah memelihara Betta splendens itu ia kian jatuh hati pada sosok mungil itu. Ikan anggota famili Osphronemidae itu bertubuh elok. Varian warna tubuhnya amat beragam seperti halfmoon, crown tail, dan plakat.

Apalagi jenis half moon ketika ngedok atau mengembangkan sirip-siripnya tampak elok. Pehobi-pehobi lain seperti Hermanus Harianto, Hendra W.D., dan Ario Windu Satya mengalami hal serupa. Hermanus Harianto mengubah perkantoran yang sebelumnya untuk berbisnis komputer, menjadi tempat untuk cupang koleksinya. Ia rutin mengekspor cupang ke Inggris, Jepang, Amerika Serikat, dan Australia. Ekspor berlangsung sejak 2009.

Cupang mendunia

Kesamaan hobi mendorong Daniel, Hermanus, Hendra, dan Ario menggagas kelompok Betta Club Indonesia (BCI) pada 2009. “Tujuan komunitas Betta Club Indonesia memajukan percupangan Indonesia,” kata Daniel. Menurut Daniel kegiatan BCI antara lain mengadakan kontes cupang minimal dua kali setahun. Namun, rencana kontes pada 2020 terpaksa dibatalkan akibat pandemi virus korona yang mewabah pada Maret 2020.

Kontes terakhir berskala internasional Nusatic 2019 pada November 2019. Mereka menyelenggarakan Ultimate Betta Championship. Ketika itu 1.400 cupang menjadi peserta. Selain itu para anggota yang tersebar di berbagai kota juga mengadakan transaksi atau jual-beli cupang baik untuk keperluan kontes maupun memasok pasar. Harap mafhum, penangkar cupang, pedagang, dan pehobi cupang pun menjadi anggota komunitas.

Cupang serit red butterfly menarik perhatian pehobi cupang. (Dok. Betta Club Indonesia) 

Profesi lain anggota BCI beragam seperti karyawan swasta, pebisnis, dan kontraktor. Kegiatan lain komunitas BCI rutin mengadakan pertemuan di tempat Daniel. Pada pertemuan itu lazimnya mereka membicarakan hal-ihwal terkait cupang seperti perawatan, penangkaran, dan perencanaan kontes. Lagi-lagi karena pandemi korona, komunitas juga membatalkan pertemuan. Daniel menyiasati dengan pertemuan daring.

Kegiatan lain BCI melestarikan dan mengidentifikasi cupang. Daniel mengatakan, dunia menaruh perhatian pada keragaman cupang Indonesia. Apalagi cupang liar seperti Betta albimarginata atau B. chonnoides yang masih hidup di habitat asli. Selain itu BCI juga mengupayakan kelestarian cupang dengan cara membiakkan cupang alam dan edukasi melalui kontes.

Selama ini BCI menggalakkan penangkaran untuk melindungi cupang di alam. Berkaitan dengan identifikasi cupang, BCI masih kewalahan dalam membuat klasifikasi. Itu karena keragaman warna dan bentuk tubuh cupang. Oleh karena itu, BCI akan menyelenggarakan konferensi untuk membicarakan hal itu.

Juri internasional

BCI membawahi komunitas cupang yang tersebar di Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan, dan Bali. Beberapa komunitas itu antara lain Indo Betta Splendens (InBS) untuk wilayah DKI Jakarta, Bali Beach Betta Club, dan Kediri Betta Club. BCI organisasi resmi yang tergabung dalam chapter 6 organisasi cupang dunia International Betta Congress (IBC) yang terbentuk pada 1966. Pendiri organisasi itu Dr. Gene Lukas di Amerika Serikat.

Kontes cupang menjadi salah satu kegiatan rutin yang diadakan BCI. (Dok. Betta Club Indonesia) 

Daniel mengatakan, para anggota BCI dapat menjadi juri kontes di seluruh dunia. Mereka harus mengikuti pelatihan terlebih dahulu sebelum menjadi juri kontes. Penyelenggara pelatihan atau kursus BCI selama hampir setahun. Calon juri juga mengikuti seminar tentang cupang. Tahap berikutnya mereka akan menjadi asisten juri di kontes lokal atau kontes nasional. BCI memfasilitasi para anggota menjadi juri yang bersertifikat standar.

Setelah itu barulah menjadi juri kontes internasional. Waktu yang diperlukan seseorang sejak pelatihan hingga seseorang menjadi juri internasional membutuhkan waktu sekitar setahun. Menurut Daniel beberapa anggota komunitas kerap menjadi juri internasional seperti dirinya dan Hermanus. Mereka menjadi juri kontes di berbagai negara seperti Singapura, Tiongkok, dan Jerman.

Berkat cupang yang kecil kini Daniel berteman dengan para pehobi di berbagai penjuru dunia. Anggota BCI mampu menjadi juri kontes internasional karena penilaian kontes cupang dunia terstandardisasi. Sistem penilaian kontes relatif sama. Menurut Daniel memelihara atau bergiat di komunitas cupang bukan hanya soal uang. Namun, juga memberikan pengalaman yang amat banyak. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Keunggulan Kapal Canggih Penebar Pakan Ikan

Trubus.id — Kapal penebar pakan ikan bisa menjadi alternatif para pembudidaya yang memelihara ikan di tambak yang luas. Salah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img