Monday, August 15, 2022

Jelajahi Ujung Barat Pulau Jawa

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Itulah sang Aerides odorata (airides=melayang, odorata=berbau, red), salah satu anggrek hutan yang hidup menggantung di cabang-cabang besar pohon.

Anggrek yang menyebar mulai dari Asia Tenggara sampai Asia Selatan itu salah satu jenis anggrek yang dijumpai Trubus dan tim Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Jakarta saat mengunjungi Pulau Peucang, Taman Nasional Ujungkulon, Jawa Barat, pada pertengahan 2008. ‘Banyak anggrek- anggrek di Peucang yang belum terdata,’ ujar Frankie Handoyo, anggota PAI.

Untuk mencapai pulau seluas 472 hektar itu, butuh waktu 2,5 jam berlayar dari dermaga di Desa Tamanjaya. Rombongan yang berjumlah sekitar 20 orang itu tiba di Peucang selepas isya, 19.10 WIB. Beruntung tak banyak wisatawan berkunjung sehingga suasana pulau itu terasa lengang. ‘Nanti kita akan menjelajahi pulau ini dan mendatangi pulau di sekitarnya,’ ujar Andi Widjaya, anggota PAI sekaligus koordinator perjalanan.

Aerides memang jenis anggrek spesies pertama yang tampak saat menyusuri pantai Pulau Peucang. Pantai itu didominasi pepohonan: nyamplung Calophyllum inophyllum, ketapang Terminalia catappa, kampis cina Guettarda speciosa, dan pandan Pandanus sp. Meski demikian tak seperti aerides di Kalimantan yang daunnya panjang-panjang, jenis di Peucang yang menempel di pohon nyamplung itu berdaun pendek, ukuran kurang dari sejengkal tangan orang dewasa. ‘Jenis di dataran rendah ukuran daunnya memang kecil,’ kata Frankie.

Soal asal bau anggrek asam-sebutan di Jawa karena banyak dijumpai menempel di pohon asam-Budi Irawan, MS, peneliti fisiologi tumbuhan dari Universitas Padjadjaran, Bandung, menyebutnya sebagai cara untuk memperpanjang generasi dan bertahan hidup. ‘Tumbuhan yang mengeluarkan bau pastinya mengundang serangga penyerbuk untuk datang,’ kata Budi. Pada aerides, serangga seperti kumbang dan lalat datang membantu memecahkan anthera cap (penutup, red) pada kepala putik atau benang sari yang tidak bisa dilakukan alam: angin dan hujan.

Masih terkait dengan bau, Frankie menjelaskan aerides asal Kalimantan punya bau lebih wangi. ‘Baunya agak harum,’ ujar Frankie. Dalam kelompok Orchidaceae, anggrek dari keluarga bulbophyllum-lah paling mirip aerides, berbau tapi tidak wangi. ‘Malah 60-70% dari sekitar 2.000 jenis bulbophyllum baunya busuk. Tapi yang paling harum dari semuanya adalah jenis Tuberolabium odoratissimum,’ tambah Frankie. Yang disebut terakhir punya bau seperti parfum, semerbak dan menyegarkan.

Selain aerides, di pulau yang pernah dijuluki new singapore oleh peneliti Belanda pada 1890 lantaran konturnya mirip negeri Singa, juga dijumpai Dendrobium indivisum. Jenis epifit itu tumbuh di atas batang besar setinggi 4-5 m. Anggrek yang hidup sampai ketinggian 800 m dpl itu memiliki bunga kuning bergaris-garis. Tampak cantik. ‘Section aporumnya gepeng sebagai ciri khas dendrobium,’ kata Frankie.

Luisia javanica juga dijumpai. Luisia punya bunga kecil dan bibir (labelum, red) jeblek. Namun jangan salah, meski rupanya jauh dari elok, hasil silangannya dengan vanda menelorkan anggrek berbunga besar dengan bibir lebar. Keistimewaan lain, daunnya tebal dan terasa seperti beludru saat dipegang. Meski demikian yang unik selama penjelajahan di Peucang adalah anggrek tanpa daun. Jenis monopodial dari keluarga vanda itu dapat hidup karena akarnya berklorofil. ‘Ada sekitar 20-30 spesies yang tersebar di Indonesia dan Malaysia,’ ujar Frankie.

Menurut Dr Tukirin Padmomiharjo diduga penyebaran anggrek di Peucang berasal dari pulau daratan besar, Ujungkulon. Itu karena, ‘Pulau Peucang tergolong baru terbentuknya,’ ujar ahli etnobotani dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Cibinong, Bogor, yang bereksplorasi di sana pada 2000 itu. Lebih jauh Tukirin menjelaskan anggrek-anggrek itu tiba di Peucang lewat bantuan angin. ‘Biji anggrek itu sangat ringan seperti debu,’ katanya. Biji-biji yang terbang lalu menempel di batang pohon yang kasar atau bercelah. Selanjutnya biji berkecambah dan tumbuh besar.

Pulau Peucang tak hanya didominasi flora saja. Perjalanan menuju Karangcopong di pantai sebelah barat Peucang menjumpai banyak rusa Cervus timorensis. Bahkan bila beruntung dapat berpapasan dengan biawak Varanus salvator. Menurut Syamsudin, petugas jagawana, rusa-rusa dari Ujungkulon itu cukup jinak. ‘Coba saja berjalan mendekat, sampai jarak 2 meter mereka tidak takut,’ katanya. Memang begitu dites dengan mengendap-endap sampai jarak semeter, rusa-rusa liar itu baru bersiap untuk lari.

Sayang tidak ada data terbaru populasi rusa itu. Pendataan terakhir dilakukan 8 tahun lalu oleh Abdulah Syarief Muhtar dari Departemen Kehutanan. Abdulah menyebutkan populasi rusa pada 2001 sekitar 271 ekor: 131 dewasa, 63 remaja, dan 77 anakan. Jumlah itu jauh menurun dibandingkan 2000 yang mencapai 308 ekor. Penurunan populasi itu diduga akibat migrasi rusa yang menyeberang ke Ujungkulon. Di laporan itu pula disebutkan populasi biawak yang punya daya jelajah 0,13 ha/ekor itu mencapai 55 ekor: 46 dewasa dan 7 remaja.

Perburuan anggrek yang didominasi acara hunting foto itu berlanjut ke Tanjunglayar, bagian daratan Ujungkulon yang letaknya paling ujung. Tanjunglayar terkenal karena terdapat mercusuar yang dibangun di atas batu karang. Dari Peucang, Tanjunglayar ditempuh berperahu sekitar 30 menit ke arah Cibom. Cibom tak memiliki dermaga sehingga rombongan perlu berpindah ke perahu lebih kecil untuk mencapai bibir pantai.

Lokasi mercusuar dicapai setelah 30-40 menit berjalan. Menyusuri jalan setapak banyak ditemui Aerides odorata. Begitu pula tumbuhan-tumbuhan langka seperti merbau Intsia bijuga dan cerlang Pterospermum diversifolium. Di tengah jalan Syamsudin menunjukkan beberapa tumbuhan obat. Salah satunya nampong Clibadium surinamense. Daun dan batang muda yang diremas menjadi obat luka seperti betadin atau obat merah. Tumbuhan itu pula yang dipakai saat salah satu rekan PAI, Reza, luka terjatuh.

Jenis tumbuhan obat lain, sulangkar Leea indica. Tanaman perdu dengan daun lanset dan tepi bergerigi itu buahnya mujarab sebagai obat kutil. ‘Buahnya ditumbuk dan dioles pada kutil,’ kata Syamsudin. Dalam Tumbuhan Berguna Indonesia, K Heyne menyebutkan kolotada-sebutan di Ternate, Maluku-dapat menyembuhkan tuli dengan cara meneteskan cairan dari batang pohon yang dibakar terlebih dahulu.

Mercusuar yang menjadi daya tarik utama di Tanjunglayar akhirnya tampak. Sungguh luarbiasa. Rangka besinya mencapai tinggi 50 m. Untuk memanjat mercusuar itu ternyata perlu nyali besar karena semakin tinggi anak tangga dipanjat, hantaman angin ke tubuh semakin kuat. Namun, begitu tiba di atas, semua berubah menjadi kekaguman. Di sana terhampar lautan luas kebiruan.

Sebelum meninggalkan Peucang, rombongan mengunjungi padang penggembalaan banteng di Cidaun. Sayang, di padang savana itu tidak dijumpai Bos javanicus seekor pun. Menurut Syamsudin banteng-banteng itu baru muncul sore hari. ‘Sekaligus dapat melihat burung merak,’ katanya. Sesudah beristirahat 15 menit, perjalanan diakhiri dengan mengitari Peucang dari barat ke timur. Dari sana kemudian perahu menuju Sumur, Ujungkulon, untuk menutup kunjungan selama 3 hari itu. Sampai jumpa Pulau Peucang! (Dian Adijaya S/Peliput: Sardi Duryatmo dan Ari Chaidir)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img