Hendi tak ingin tragedi CVPD pada 1964 yang menghancurkan kejayaan jeruk keprok garut terulang. Ketika itu 2.661 ha areal tanaman jeruk di Garut luluh-lantak. Hampir semua daun jeruk tumbuh tegak dan menguning. Ukuran buah pun mengecil. Diduga masuknya jeruk siem-yang terinfeksi mikroorganisme-dari luar Garut menjadi biang keladi. Nama keprok garut pun tinggal legenda.
Laki-laki itu baru berani kembali menanam keprok garut pada 2003. Ketika itu Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Batu, melepas bibit keprok garut bebas penyakit. Balai yang sebelumnya bernama Loka Penelitian Jeruk dan Buah Subtropika itu berhasil memastikan bibit bebas CVPD dengan metode indeksing. Itu adalah proses identifikasi sel tanaman jeruk untuk mengetahui kemungkinan serangan penyakit. Metode indeksing yang paling akurat ialah uji DNA.
Uji DNA untuk identifikasi CVPD itu membawa dampak besar buat pekebun jeruk. Bibit berumur 6-8 bulan, bahkan baru punya 4-6 daun, sudah dapat diketahui statusnya: sehat atau terinfeksi penyakit-terutama CPVD. Bandingkan dengan identifikasi visual di era 1980-1990-an. Tanaman baru dipastikan terserang bila jaringan kayu kecokelatan. Akibatnya banyak pekebun yang ‘berjudi’: biarlah terserang penyakit asalkan tanaman mati setelah berproduksi 3-4 kali panen. Bila dirawat dengan baik, tanaman yang sudah terinfeksi CVPD, bisa bertahan hingga berumur 5 tahun.
Sambung mikro
Menurut Ir Anang Triwiratno MP, peneliti di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Batu, uji DNA memungkinkan lahirnya pohon induk bebas CVPD dari galur murni. Misal, entres keprok garut diambil dari Garut. Agar entres yang diambil bebas CPVD, dipakai teknik shoot tip grafting alias sambung tunas pucuk. Jaringan meristem di ujung tunas paling pucuk-berdiameter 0,15-0,2 mm-dipakai sebagai batang atas. Harapannya patogen sistemik yang ada pada jaringan tanaman asal belum sampai pada ujung tunas, sehingga diperoleh individu tanaman bebas patogen.
Sebelumnya disiapkan pula batang bawah yang telah dikecambahkan dalam ruang gelap. Batang bawah berumur 2 minggu dipotong dan disisakan 2 cm bagian epikotilnya. Akar dipotong 4 cm. Tunas pucuk lalu diletakkan pada sayatan batang bawah. Sambungan in vitro itu ditumbuhkan dalam media cair dengan bantuan kertas saring pada tingkat cahaya 1.000 lux selama 16 jam setiap hari. Sambungan yang tumbuh itulah yang dijadikan sebagai mata entres. Ia kembali disambung sisip pada batang bawah setinggi 40-50 cm dalam polibag. Jeruk dalam polibag itu ditumbuhkan dalam rumah kasa guna memacu pertumbuhan.
Setelah bibit memunculkan 4-6 daun, indeksing siap dilakukan. Sampel tulang daun sebanyak 0,3-0,5 g dihancurkan, ditambah buffer, lalu diinkubasi pada suhu 65oC. DNA hasil ekstraksi dilarutkan dan diukur dengan alat bernama PCR alias polymerase chain reaction. Hasilnya spektrum cahaya yang menunjukkan DNA sehat atau terkena penyakit. Spektrum cahaya seperti terbakar berarti bibit jeruk sudah terinfeksi. Bila demikian, tahapan membuat pohon induk mesti dimulai dari awal hingga didapat bibit yang betul-betul sehat.
Pohon induk
Bibit sehat lalu ditumbuhkan menjadi pohon induk. Tanaman itulah sumber entres calon bibit yang bakal disebarluaskan ke pekebun. Untuk keprok garut, bibit disebarkan melalui Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Kabupaten Garut. Tujuannya untuk memudahkan pengawasan. Menurut Dede Rustandi, ketua Paguyuban Penangkar Bibit Jeruk Garut, perbanyakan diserahkan pada penangkar dengan sumber entres dari BPSB. Bibit yang dihasilkan mereka itulah yang ditanam oleh pekebun seperti Hendi Munawar.
Toh, bibit bebas penyakit belum menjamin tanaman sehat seumur hidup. Apalagi penyakit semacam CVPD ditularkan melalui inang kutu loncat Diaphorina citri. Selain menyerang jeruk, kutu itu juga menyukai tanaman anggota famili Rutaceae lain. Misalnya kemuning. Artinya, pada areal penanaman keprok mesti bebas tanaman satu keluarga untuk mencegah penularan. Sanitasi kebun pun mutlak dilakukan secara berkala. Itu supaya keprok garut tidak sekadar legenda. (A. Sarjana dan Munawaroh Na’imatun Dafikah, peneliti di Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura, Depok).
