Sunday, November 27, 2022

Kisah Pencekik

Rekomendasi

 

Mereka menemukan ara pencekik Ficus annulata tinggi besar setelah sejam berjalan kaki dari penginapan di tepi dermaga Pulau Peucang. Sepanjang perjalanan di hutan Peucang memang melewati beragam pohon seperti putat Planchonia valida, kileho Saurauia pendula, kimaja Micromelum pubescens, dan kisampang Evodia latifolia. Namun, ukuran pohon-pohon itu relatif kecil ketimbang ara pencekik setinggi 30 meter. Oleh karena itu mereka pun berhenti di dekat ara pencekik untuk mengamati kegagahan pohon kerabat beringin itu.

Pada awal hidupnya ara pencekik merupakan tumbuhan epifit. Ia menumpang pada ranting atau cabang pohon yang ada di hutan. Biji ara pencekik berada di atas pohon karena diterbangkan burung atau jatuh ketika kera ekor panjang menyantap buah ara pencekik. Biji itu kemudian berkecambah dan terus tumbuh. Sumber nutrisi untuk kelangsungan hidupnya berasal dari pohon inang. Selain itu pohon yang dalam bahasa Sunda disebut kiara koneng itu juga mempunyai akar gantung yang tumbuh di batang atau cabang.

Selama indekos, akar gantung hanya berfungsi menyerap air dan gas dari udara. Akar-akar itu terus tumbuh ke bawah untuk mendapatkan unsur hara secara langsung dari tanah. Caranya merambat dan membelit pohon inang. Setelah mencapai tanah, ukuran akar pun semakin besar dan cengkeramannya kian luas dan kuat. Bagian akar yang masuk ke dalam tanah berfungsi menyerap air dan nutrisi serta memperkokoh pohon. Sedangkan bagian yang di atas tanah berubah keras membesar seperti batang. Jumlahnya ratusan dan saling tindih.

Lama-kelamaan, pohon inang pun mati setelah seluruh tajuk tertutup oleh belitan akar ara pencekik. Karena sifatnya itu, ahli botani menjuluki Ficus annulata sebagai strangler fig alias ara pencekik. Belitan akarnya mencekik pohon inang. Selain ara koneng, anggota famili Moraceae lain yang juga pencekik adalah ara florida Ficus aurea, ara barbados Ficus citrifolia, ara watkin Ficus watkinsiana, dan kopo Ficus cotinifolia.

Ara menjadi tumpuan hidup bagi satwa-satwa hutan. Menurut Prof Dr Cecep Kusmana, guru besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, walau ara pencekik bersifat parasit, tapi keberadaannya menjadi lumbung pangan bagi satwa di hutan. Sebab, kerabat beringin itu berbuah sepanjang musim. Buahnya bulat seperti bola, berdiameter 2,5-4 cm, dan berwarna hijau serta kaya kandungan gula dan kalsium. Keduanya dibutuhkan burung untuk pembentukan tulang dan cangkang telur. ‘Buah ara pencekik merupakan makanan utama bagi burung-burung dan satwa pemakan buah yang terdapat di hutan tropis,’ ujar Cecep Kusmana.

Menurut Dr Herman Daryono, periset di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Bogor, ara pencekik juga menjadi tempat berlindung bagi sebagian hewan hutan. Tajuknya rimbun sehingga nyaman bagi burung bersarang. Lubang bekas pohon inang yang mati dan membusuk, tempat strategis untuk berteduh dari hujan dan panas matahari. Trubus melihat rusa Cervus timorensis mengendap-endap di bawah rerimbunan kiara koneng yang nyaris tidak tertembus sinar matahari itu.

Selain itu keragaman jenis ara di suatu hutan berbanding lurus dengan keragaman lebah penyerbuk anggota famili Agaonidae. Sebab, setiap jenis lebah penyerbuk hanya mampu menyerbuki ficus tertentu. Itulah sebabnya bila suatu jenis lebah punah, spesies ficus bakal hilang.

Oleh karena itu perburuan mengakibatkan populasi satwa menipis, memicu kehancuran hutan. Itu karena kelangkaan agen penyerbuk dan penyebar biji. Demikian pula sebuah hutan gundul, diikuti oleh kelangkaan satwa, karena lenyapnya tempat berteduh dan lumbung pangan. Ini menunjukkan betapa tingginya keterkaitan dan ketergantungan antara tumbuhan dan satwa. (Ari Chaidir)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img