Wednesday, January 28, 2026

Joseph Tuhuteru: Setia Pada Dendrobium

Rekomendasi
- Advertisement -
Joseph Tuhuteru membudidayakan dendrobium potong sejak 1993.
Joseph Tuhuteru membudidayakan dendrobium potong sejak 1993.

Selama 22 tahun Joseph Tuhuteru mengembangkan anggrek dendrobium potong. Tak tergiur komoditas lain.

Ribuan anggrek yang terhampar di lahan 2 ha itu bagai lautan dendrobium (berasal dari bahasa Yunani, dendron berarti pohon, bios bermakna hidup karena hidup di pohon-pohon alias epifit). Sebagian tanaman kerabat vanili itu tengah memamerkan bunga beragam warna, merah muda, merah, jingga, kuning, dan putih. Sebagian yang lain masih berupa kenop alias kuncup yang belum mekar.

Di lahan itulah Joseph Tuhuteru mengembangkan beragam jenis anggrek dendrobium seperti sonia, emma white, shavine, dan princess bell. Petani anggrek di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, itu memetik 3.000—4.000 tangkai bunga potong per hari. Itu produksi pada musim kemarau. Saat musim hujan, produksi melonjak signifikan. Saat itu Joseph memetik hingga 6.000—8.000 tangkai per hari.

Dendrobium varietas baru di kebun Joseph Tuhuteru.
Dendrobium varietas baru di kebun Joseph Tuhuteru.

Pangsa pasar
Pasar menghendaki dendrobium mekar 70%. Jika di sebuah tangkai terdapat 10 bunga, maka bunga yang mekar maksimal tujuh kuntum, selebihnya masih berupa kenop. Syarat lain bunga sehat tanpa serangan hama dan penyakit. Joseph memasok pasar domestik dengan tiga kelas bunga potong. Kelas L atau besar jika panjang tangkai 60-80 cm terdiri atas lebih dari 10 kuntum dengan harga Rp5.000 per tangkai, M (maksimal 10 kuntum; Rp4.500), S (maksimal 7 kuntum; Rp4.000).

Joseph mengatakan jenis dan umur tanaman mempengaruhi kelas anggrek potong. Tanaman berumur kurang dari dua tahun cenderung menghasilkan anggrek kelas kecil. Adapun jenis dendrobium tertentu cenderung menghasilkan kelas tertentu. Shavine, misalnya, lebih banyak atau 70% menghasilkan kelas menengah dan besar. Begitu selesai panen pada sore hari, Joseph mengelompokkan anggrek potong berdasarkan kelas tertentu.

Langkah selanjutnya, merendam tangkai bunga beberapa saat dalam bak berisi air untuk memperpanjang kesegaran bunga. Keesokan hari para pengepul mengambil jatah masing-masing. Pria 47 tahun itu memang tak perlu repot membawa hasil panen ke luar kebun. Sebab, tujuh pengepul menjemput hasil panen dan membawa ke beberapa sentra bunga seperti pasar Rawabelong, Jakarta Barat.

Anggrek dendrobium hadir di rangkaian bunga simbol ungkapan suka atau duka.
Anggrek dendrobium hadir di rangkaian bunga simbol ungkapan suka atau duka.

Masyarakat emanfaatkan dendrobium otong ntuk ahan rangkaian unga ebagai ngkapan bahagia atau berduka. Hotel dan restoran juga emanfaatkannya ntuk rnamen ruangan. lumnus gronomi niversitas Kristen atya acana tu mengembangkan endrobium arena pangsa pasar sangat besar. Selain itu merawat dendrobium relatif sederhana dibandingkan kerabatanya, phalaenopsis.

Petani anggrek phalaenopsis perlu pengaturan suhu untuk merangsang pembungaan. “Perawatan phalaenopsis lebih repot karena memerlukan dua tempat berbeda untuk membungakan,” kata Joseph . Petani harus memindahkan phalaenopsis ke dataran tinggi untuk merangsang bunga. Sementara itu lokasi kebun Joseph di dataran rendah berketinggian 100 meter di atas permukaan laut.

Mengganti merah
Untuk mencapai lokasi kebun hanya perlu waktu satu jam bermobil dari Jakarta Selatan. Atas pertimbangan itulah pria kelahiran 29 Maret 1968 itu mengembangkan dendrobium pada 1993. Saat itu jenis dominan yang mengisi pasar adalah sonia. Warna bunganya perpaduan antara putih dan merah keunguan. Joseph menyodorkan jenis lain, berpenampilan seronok. Warna bunganya merah cerah.

Itulah dendrobium renapa. Ia mendatangi langsung nurseri yang mengembangkan renapa di Bangkok dan membawa pulang 100.000 bibit—terdiri atas 35.000 bibit renapa, 20.000 bibit emma white, 35.000 bibit princess bell. Para penganggrek lazimnya mencoba jenis baru hanya 500—1.000 bibit. Namun, Joseph nekat mendatangan 100.000 bibit yang saat itu harganya Rp2.500 per bibit.

Kebun anggrek dendrobium potong.
Kebun anggrek dendrobium potong.

Strategi bisnis Joseph manjur. Enam bulan setelah mendatangkan bibit renapa, ia panen bunga potong. Para pengepul langsung mendatangi kebun Joseph untuk memasarkan dendrobium baru itu. Masyarakat menyukai renapa sehingga produksinya terserap pasar. Membudidayakan anggrek bukan sekadar memanen setiap hari. Yosep menghadapi beragam masalah.

Ia pernah salah pilih jenis dendrobium ketika membeli cossom pink. Dendrobium itu memang produktivitasnya lebih dari 100%. Jika menanam 10.000 cussom pink, Joseph mampu memetik lebih dari 10.000 tangkai per bulan. Sayang ia memiliki kelemahannya tak tahan lama, hanya tiga hari. Adapun dendrobium jenis lain mampu bertahan 7 hari. Cussom pink sejatinya anggrek koleksi bukan anggrek potong.

Ketika membeli cussom pink Joseph tak tahu peruntukannya. Karena telanjur membeli dalam jumlah banyak, ia tetap mempertahankannya. Agar dendrobum “salah pilih” itu sampai di tangan konsumen, ia mewajibkan para pengepul yang mengambil renapa juga membeli cussom pink. Harap mafhum, posisi tawar Joseph lebih tinggi. Apalagi saat itu permintaan renapa sangat besar sehingga pengepul tetap membeli cussom pink.

Sterilisasi pot anggrek dengan cara membakarnya sebelum penggunaan.
Sterilisasi pot anggrek dengan cara membakarnya sebelum penggunaan.

Hambatan lain kerontokan bunga hingga 30%. Sebelum sempat mekar, bunga berubah warna kekuningan kemudian gugur. Ia menduga kerontokan bunga akibat serangan hama. Untuk mengatasi serangan serangga itu, Joseph menggunakan insektisida. Hingga kini ia mencegah serangannya dengan rutin menyemprotkan insektisida sekali sepekan. Demikian juga penyemprotan fungisida.

Nutrisi anggrek
Sementara itu pemberian nutrisi dua kali sepekan. Ia memberikan pupuk NPK dengan rasio 21:21:21 untuk semua fase tanaman. Joseph melarutkan pupuk dengan air bersih di sebuah bak semen. Di dasar bak terdapat pengaduk otomatis bikinannya agar butiran tak mengendap di dasar bak. Larutan pupuk mengalir dari bak ke berbagai lokasi. Joseph memasang 7 titik sprinkel di kebunnya. Dari lokasi itu para karyawan menyemprotkan nutrisi ke setiap tanaman.

Saat memberikan nutrisi, Joseph mengurangi tekanan pompa agar air keluar besar. Sementara itu ketika memberikan insektisida, ia menaikkan tekanan agar menjadi kabut. Selain nutrisi utama, ayah dua anak itu juga rutin menambahkan suplemen yang mengandung beragam asam amino seperti triptofan dan leusin. Konsentrasi 2 ml per liter. Frekuensi pemberian suplemen setiap 2—3 pekan sekali. Efek pemberian suplemen, tanaman lebih vigor, ukuran bunga lebih besar, dan warna lebih cerah.

Enam bulan setelah penanaman dendrobium berbunga perdana.
Enam bulan setelah penanaman dendrobium berbunga perdana.

Salah satu strategi Joseph berbisnis anggrek adalah meremajakan tanaman setiap lima tahun. Ia mengganti tanaman tua dengan tanaman muda. Sesekali ia juga mendatangkan jenis baru untuk memperbarui jenis. Siasat lain, menjaga hubungan baik dengan para pengepul. Saat musim kemarau seperti September 2015, pasokan dendrobium di pasar melorot drastis. Joseph menghadapi banyak pengepul dadakan yang meminta pasokan.

“Kita buka harga selisih Rp1.000—Rp1.500 per tangkai, mereka mau ambil,” kata Joseph . Namun, Joseph tak tergiur dan tetap menjaga hubungan baik dengan pengepul. Para pengepul itu sudah rutin mengambil dendrobium potong sejak Joseph panen perdana pada 1993. Semula Joseph bekerja di sebuah produsen anggrek yang mengembangkan dendrobium di lahan 100 ha. Lokasi lahan tersebar di berbagai lokasi seperti Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Kepulauan Riau.

COVER 1234.pdfKelola lahan sendiri
Di perusahaan itu Joseph menangani produksi bunga potong selama dua tahun. Menjelang berakhirnya perusahaan, Joseph mengundurkan diri dan akhirnya membuka kebun dendrobium. Ia bermaksud mengisi kekosongan pasar setelah penutupan perusahaan rakasasa itu. Menurut Joseph banyak perusahaan raksasa yang menekuni anggrek akhirnya gulung tikar. Padahal, sebelum membuka lahan mereka menganalisis pangsa pasar dan prospek.

Faktanya, menurut Joseph, rata-rata perusahaan itu bertahan 5 tahun. Paling lama 10 tahun. Penyebab kerugian itu amat beragam. Ia mencontohkan sebuah produsen dendrobium raksasa, kebetulan lokasi lahan di dekat sungai besar. Setelah panen karyawan menghanyutkan anggrek potong melalui aliran sungai. Seorang penadah akan mengambil anggrek itu setelah melewati lahan. Ada juga perusahaan yang memberi modal kepada para petani mitra.
Pada mulanya para petani mitra memang rutin menyetorkan hasil panen ke perusahaan. Namun, ketika ada pengepul yang berani membayar anggrek potong lebih mahal, banyak petani tergoda. Pada akhirnya petani mitra tak menyetor hasil panen ke perusahaan yang telah memberi modal. Mengapa Joseph mengikuti jejak para perusahaan besar? “Awalnya saya tak tahu. Saya akhirnya juga mengalami hambatan seperti mereka,” kata penggemar mi rebus itu.

Untuk mengatasi hambatan itu, Joseph tak sembarangan menggunakan pupuk. Kebanyakan pekebun tergoda untuk mengganti pupuk ketika ada sumber nutrisi yang kandungan hara sama dan harganya lebih murah pupuk. “Pupuk menjadi kunci sehingga tak boleh sembarangan menggunakannya. Jangan mengganti pupuk hanya karena alasan harga lebih murah,” kata Joseph.

Perusahaan-perusahaan esar yang mengembangkan anggrek biasanya menerapakan peraturan yang kaku. Karyawan masuk pada pukul 08.00 dan pulang pada pukul 17.00. Padahal, mengelola makhluk hidup tak bisa kaku atau hanya berpatokan pada jam kerja. “Ketika sore pada pukul 17.00 karyawan melihat ada tanaman tererang hama, tetapi karena jam kerja sudah usai, maka penanganannya baru keesokan harinya,” kata Joseph .

Dampaknya serangan lebih cepat meluas. Itulah sebabnya Joseph tak membatasi waktu dalam mengelola anggrek. Kerap kali hingga pukul 19.30 ia masih berkeliling lahan sembari mengecek kesehatan tanaman yang dideskripsikan pertama kali oleh Olof Peter Swartz pada 1799 itu. Joseph membudidayakan anggrek potong dengan segenap cinta. Itulah sebabnya selama 22 tahun ia bergeming, tak tergiur komoditas lain. Cinta mengalahkan segalanya, seperti kata pepatah amor vincit omnia. (Sardi Duryatmo)

 

Jatuh Cinta  di Cecapan Pertama

COVER 1234.pdfMakanan kegemaran Joseph Tuhuteru adalah mi godok alias mi rebus. Ia acap mencicipi masakan khas Jawa itu ketika menempuh pendidikan di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Provinsi Jawa Tengah. Suatu ketika petani anggrek dendrobium potong itu menikmati mi godok di Kota Depok, Provinsi Jawa Barat. Pedagang menjajakan penganan itu dengan angkringan.

Citarasa mi amat lezat di lidah Joseph. Ia jatuh hati pada cecapan pertama. Saat itu juga ia membeli resep mi godok plus angkringan. Nilainya Rp13.5-juta. Pembelian angkringan dan resep itu menjadi cikap-bakal bisnis lain Joseph, yakni restoran Sari Surabi Bandung di Sawangan, Kota Depok. Joseph Tuhuteru lebih fokus pada budidaya dendrobium potong; restoran ditangani istrinya. Joseph lantas membeli mesin khusus untuk memroduksi mi agar lebih lezat dan segar. (Sardi Duryatmo)

 

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img