Ceplukan kerap dianggap gulma. Di tangan Juwita Kuswara buah itu menjadi komoditas berharga.
Trubus — Sembilan belas kali Juwita Kuswara melamar kerja, sebanyak itu pula perusahaan-perusahaan menolak lamaran kerjanya. Kondisi itu tentu saja membuatnya kecewa. Namun, perempuan asal Desa Pamulihan, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, itu kini bahagia lantaran memperoleh pendapatan jauh lebih tinggi ketimbang menjadi karyawan. Kini ia mampu memperoleh pendapatan rata-rata Rp40 juta per bulan.

Pendapatan itu ia peroleh dari hasil penjualan buah cilplukan. Ia menjual rata-rata 300 kg buah ceplukan per bulan dengan harga Rp150.000 per kg. Juwita memasarkan buah ceplukan ke beberapa gerai pasar swalayan seperti Rezeki Market, All Fresh, Total Buah, Jakarta Fruit, dan Koki Mart. Juwita memperoleh pasokan dari 3.000 tanaman ceplukan Physalis peruviana yang ia tanam di lahan 3.400 m².
Dari total populasi itu Juwita memanen rata-rata 300 kg buah setiap bulan. Ia lalu menyortir hasil panen menjadi grade A dan B. Pasar swalayan hanya menerima buah grade A, yakni buah berwarna cerah, mulus, dan tidak retak. Adapun buah kualitas grade B diolah menjadi aneka olahan, seperti sari buah, dodol, kismis, dan selai.
Dikemas
Juwita lalu mengemas buah grade A dalam kemasan kotak berbahan plastik mika sesuai permintaan pasar swalayan. Setiap kemasan berisi 100 g buah ceplukan. Untuk konsumen selain pasar swalayan, Juwita mengemas buah dalam besek anyaman bambu berukuran 15 cm x 15 cm. Isi besek bervariasi, yakni 200 g, 400 g, dan 1 kg buah. “Kemasan besek sebetulnya membuat buah menjadi lebih tahan simpan karena terdapat lubang udara,” ujarnya. Buah kerabat tomat itu tahan simpan hingga 20 hari setelah panen dalam suhu ruang dan 30 hari dalam lemari pendingin.

Oleh sebab itu Juwita bisa mengirim pesanan konsumen ke beberapa daerah yang jauh, seperti Majalengka, Bogor, Jakarta, dan Bali. Bila menggunakan kemasan mika kerap berembun karena tidak ada sirkulasi udara.
Perkenalan Juwita dengan ceplukan bermula saat mengikuti kegiatan program Indonesia Bangun Desa (IBD) 2014 di Yogyakarta. Dalam kegiatan itu ia bertemu dengan M. Gunung Soetopo, pekebun buah naga di daerah Kaliurang, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, yang menjadi salah satu mentor. Selain mengebunkan buah naga, pemilik Sabila Farm itu juga membudidayakan ceplukan. Namun, spesies ceplukan yang dikembangkan Gunung berbeda dengan ceplukan yang banyak tumbuh sebagai gulma. Gunung mengembangkan jenis ceplukan spesies Physalis peruviana yang ia datangkan dari Eropa. Adapun spesies yang banyak dijumpai di tanah air adalah Physalis minima dan Physalis angulata. Perbedaan fisalis—sebutan ceplukan di Italia—peruviana dengan lokal terlihat pada daun dan buah. Daun ceplukan lokal berbulu dan buah berwarna hijau meski sudah matang.
Dari sample

Menurut Juwita ceplukan begitu populer di mancanegara sehingga banyak dibudidayakan. Mereka menyukai golden berry—sebutan ceplukan di luar negeri—karena banyak manfaat. “Ceplukan mengandung serat tinggi. Kandungan kalsiumnya 3 kali lebih tinggi dari buah pisang,” tuturnya. Di Amerika Serikat ada yang memproduksi ceplukan dalam berbagai olahan dengan harga tinggi. Informasi itu membuat Juwita makin mantap mengembangkan ceplukan jenis peruviana.
Sepulang dari acara IBD, Gunung memberinya sampel buah ceplukan. Setibanya di Sumedang, Juwita menyemai biji buah asal Peru dan Chili itu dalam polibag. Ia memindahkan bibit ke lahan setelah tanaman berumur sebulan. Hasilnya memuaskan. Dari lima benih ceplukan kelimanya tumbuh subur. Pada umur 4 bulan tanaman mulai belajar berbuah. Dari setiap tanaman Juwita memperoleh rata-rata 50 g ceplukan per pekan atau 200 g sebulan. Jumlah panen itu relatif rendah karena tanaman baru berbuah perdana. Masa puncak panen saat tanaman berumur 6—12 bulan.
Hasil panen dari kelima tanaman itu ia semai kembali sehingga populasi tanaman terus bertambah menjadi 10 tanaman, 100 tanaman, hingga akhirnya mencapai 800 tanaman pada 2015. Pada 2017 jumlah populasi ceplukan mencapai 3.000 tanaman.

Juwita sempat kesulitan memasarkan buah cecendet—sebutan ceplukan dalam bahasa Sunda—ketika masa awal produksi. Juwita hanya mendapat laba Rp100.000 per bulan. Padahal, harga jual ketika itu sangat murah, yakni hanya Rp5.000 per 100 g. Harap mafhum, masyarakat di tanah air masih menganggap ceplukan sebagai tanaman liar yang tidak pernah dikonsumsi buahnya.
Dongkrak pasar
Kondisi itu tak membuat Juwita patah arang. Ia lalu mempelajari riset ceplukan dari mulai budidaya, tes pasar, karakteristik pengemasan, hingga harga produk untuk menjual ceplukan berkualitas premium. Ia juga getol melakukan edukasi melalui media sosial dengan menyebarkan foto ceplukan serta kandungan gizi dan manfaatnya agar masyarakat mengenal faedah buah keceplokan—sebutan ceplukan di Bali. “Jika masyarakat sudah memahami produk, mereka akan penasaran untuk mencoba dan akhirnya membeli,” tutur alumnus Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Padjajaran, itu.
Itu membuahkan hasil. Dalam tiga bulan permintaan ceplukan terus meningkat. Konsumen semakin banyak yang memesan secara daring atau datang langsung ke kebun. Jumlah omzet pun merangkak naik. Pada Desember 2016 Juwita meraup omzet hingga Rp12,75 juta dari hasil penjualan 85 kg ceplukan. Pada 2017 omzet semakin meroket. Juwita mengantongi omzet rata-rata Rp40 juta per bulan. Dengan omzet sebanyak itu, pantas bila Juwita berencana membuka lahan baru seluas 5.000 m² untuk menanam 5.000 tanaman pada 2018. (Marietta Ramadhani)
