Tuesday, November 29, 2022

Juwana Lahir dari sang Jantan

Rekomendasi

 

Sejatinya telur kuda laut tetap dihasilkan oleh betina. Namun saat kawin, telur itu dipindahkan ke dalam kantong perut jantan untuk dibuahi. Di sanalah sang jantan mengerami telur-telur itu selama 2-4 pekan sampai telur menetas. Juwana-anak kuda laut-dikeluarkan dengan cara didorong seperti disemprot melalui celah di bagian atas perut.

Perilaku unik itu hanya dijumpai pada anggota famili Syngnathidae seperti kuda laut, naga laut dan ikan pipa. Jantan akan mengambil alih peran mengerami telur, bahkan ‘hamil’ karena memiliki kantong untuk mengeram. Pada naga laut dan sebagian ikan pipa, kantong itu tidak terletak di perut, tetapi di ekor. Betina hanya memiliki alat penyalur atau peletak telur alias ovipositor di pangkal ekor.

Generasi ke-3

Kelahiran juwana menjadi pemandangan sehari-hari di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut Lampung (BBPBLL). Lembaga pemerintah itu merintis penangkaran kuda laut sejak 1990-an dan baru sukses pada 2008. Lamanya keberhasilan itu tidak lepas dari sulitnya mendapat induk dari habitat asli.

Harap mahfum, hewan sepanjang 20 cm saat dewasa itu kian langka akibat diburu sebagai klangenan penghias akuarium air laut. Bentuk keringnya diekspor ke China, Hongkong, dan Taiwan sebagai bahan baku obat asma, penyakit kulit, hingga penambah vitalitas kaum adam. Jumlah ekspor diperkirakan mencapai 20-juta ekor per tahun.

Kini BBPBLL menggunakan induk kuda laut generasi ke-3 atau ke-4 untuk pemijahan, sehingga tidak lagi mengandalkan alam. Induk jantan dan betina ditempatkan dalam bak air laut mengalir dengan perbandingan jantan dan betina, 1:1. Kuda laut memang dikenal sebagai satwa monogamous alias setia dengan satu pasangan. Volume bak idealnya 4.000-6.000 liter atau minimal 500 liter. Air laut yang dipakai harus bersih dengan kedalaman mencapai 50 cm atau lebih. Itu supaya kuda laut bebas bergerak terutama saat melakukan ritual kawin dengan cara menari mengitari pasangannya.

Suasana tenang dan kondisi ruang bak yang temaram menjadi kunci sukses lain memijahkan kuda laut. Seekor induk betina Hippocampus kuda berukuran 11-15 cm memproduksi hingga 300-750 telur. Telur jingga berbentuk oval itu mirip buah pir. Induk jantan hasil budidaya mampu mengerami dan melahirkan juwana sekitar 200-700 ekor per induk.

Rentan mati

Juwana yang baru dilahirkan akan beradaptasi dengan lingkungannya hingga dapat berenang tegak. Saat itu ukurannya 0,5-0,7 cm. Esok paginya mereka dipanen memakai serok untuk selanjutnya dirawat di bak pemeliharaan yang telah ditumbuhi zooplankton. Air di bak dijaga agar tidak terlalu keruh. Arus air pun diatur supaya juwana tidak terombang-ambing atau berenang melawan arus.

Setelah berumur 30 hari atau sepanjang 20 cm, bibit dibesarkan di bak fiberglass kapasitas 0,5-1 m3. Kepadatan tebar, 200-400 ekor per m3. Pakan yang diberikan berupa artemia dan Diaphanosoma sp. Pakan berupa udang jambret Mesopodopsis sp beku baru diberikan saat berukuran 6-7 cm berbobot 0,8-2,0 g per ekor.

Pakan beku diberikan 4 kali sehari hingga kuda laut kenyang atau sekitar 10% dari bobot tubuh. Karena terjadi perubahan pola pakan-dari pakan hidup ke mati-kuda laut rentan mati pada fase ini. Tingkat kematiannya mencapai 50%. Untuk mengurangi tingkat kematian, sanitasi air harus dijaga. Caranya, pakan diberikan segar dan tidak boleh berlebihan. Bak disipon sesering mungkin dan 40-60% air diganti setiap pagi dan sore.

Selama 5-6 bulan dalam bak pembesaran, hewan yang berjuluk monster kuda itu diasup pakan hidup zooplankton dan udang rebon beku. Di alam, kuda laut cenderung pasif dalam berburu mangsa. Penghuni karang dan padang lamun ini akan membaur dengan lingkungan saat menunggu udang kecil atau larva ikan yang melintas untuk dimangsa. Mangsa disedot dengan mulutnya yang menyerupai tabung.

Di penangkaran, kuda laut lebih aktif karena terbiasa menyantap pakan beku. Mereka akan bergerombol di permukaan air saat diberi pakan. Jika sudah berukuran 10 cm hewan yang biasa hidup di kedalaman laut 0-8 m itu siap dijual.

Pasar lokal

Satwa pemalas itu kini mulai banyak ditangkarkan oleh peternak di sekitar BBPBL Lampung. Salah satu yang telah berkembang adalah kelompok Panti Benih Puri Windu Mukti (PBPWM) di Desa Maja, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan. Kelompok itu memanfaatkan bak-bak bekas pembenihan udang windu yang terbengkalai untuk menangkarkan kuda laut. Produksinya 30.000 ekor per tahun. PBPWM menjual hasil tangkarannya ke pasar lokal.

Pasar mancanegara pun tengah dijajaki terutama Jerman dan Jepang yang notabene penggila akuarium laut. Sementara permintaan dalam bentuk kering mencapai volume ribuan ekor. Pantas PBPWM kini berupaya memperluas jejaring penangkar dengan membuka kemitraan. Juwana dari jantan kuda laut memang sumber harapan besar di masa depan. (Dra Kadek Ari Wahyuni & Tiya Widi Aditya SPi, perekayasa di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut Lampung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img