
sukun alias berbiji kempis.
Tiga durian terbaik: botak, klemping, dan gasing lahir di Festival Durian Borneo 2019.
Trubus — Nama-nama botak, klemping, dan gasing terdengar asing di telinga. Di Desa Punggur Kecil, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat, nama-nama itu jaminan cita rasa lezat durian lokal. Durian-durian dari Punggur Kecil itu beradu lezat di hadapan lima juri: Dr. Ir. Mohamad Reza Tirtawinata, Anton Kamaruddin, Michael Yan, Anwar Burhan, dan Dr. Panca Jarot.
Hasil penilaian juri Festival Durian Borneo 2019 itu membuktikan 4 juri memilih durian botak, klemping (3 juri), dan gasing (3 juri). Menurut Reza Tirtawinata juri mengunggulkan durian botak karena cita rasa manis dengan tambahan rasa umami yang gurih dan kuat. “Teksturnya juga pulen nan lembut,” kata ketua Yayasan Durian Nusantara itu.
Biji kempis

Daging buah botak menarik karena berwarna jingga muda. Adapun bentuk buah durian botak bulat sempurna sehingga pongge di dalam juring menghasilkan buah berdaging tebal. Satu-satunya kelemahan botak adalah berkulit tebal. Durian botak berasal dari pohon umur 20 tahun milik Hamdani. Setiap musim dapat dipanen 150—200 buah berukuran 1,5—2 kg buah. Pesaingnya, durian klemping juga istimewa: manis dan gurih serta lengket di lidah. Sebab, klemping berbiji sukun alias kempis sehingga nikmat disantap. Lidah yang tengah menikmati pongge hampir tidak terganggu oleh kehadiran biji.
Daging buah klemping juga menarik dengan warna jingga muda kekuningan. “Sayangnya daging buah tidak penuh memenuhi juring sehingga porsi yang dapat dikonsumsi rendah,” kata Reza. Edible portion atau porsi yang dapat dikonsumsi merupakan rasio antara bagian buah yang dapat dimakan dengan bagian buah yang tidak dapat dimakan. Di posisi ketiga gasing yang rasanya manis dan gurih dengan sedikit pahit.
“Rasa seperti ini banyak dicari oleh maniak durian lokal,” kata Reza. Daging buah kering meski saat di lidah terasa lengket. Sebagian biji kempis dengan daging buah tebal. Ia juga menarik karena warna daging buah kuning muda. Kelemahan gasing adalah bentuk buah asimetris sehingga kurang menarik dari luar. Gasing berasal dari pohon berumur 20 tahun milik Rachmad Candra dengan bobot buah1,5—1,7 kg. Menurut Anton Kamaruddin lahirnya 3 jawara itu memudahkan masyarakat setempat untuk mengembangkan durian lokal.
“Juri memenuhi semua unsur yaitu peneliti, pekebun, hingga pedagang dan user sehingga durian yang muncul tak diragukan lagi untuk dikembangkan di wilayah setempat,” kata Anton.

Pemilik pohon raja buah di Kubu Raya antusias mengikuti kontes saat musim berbuah tiba pada pengujung 2018 dan awal tahun 2019. Total jenderal sebanyak 46 varietas durian—milik 26 orang pemilik pohon—bertarung memperebutkan diri sebagai durian terbaik di Kubu Raya pada 12—13 Januari 2019. Juri menilai berdasarkan 5 kriteria yaitu kualitas rasa, daging, buah dan biji, kulit, dan aroma.
“Kualitas rasa terdiri dari manis, lemak, pahit, dan sensasi rasa unik. Total keseluruhan nilainya 35%,” kata ketua dewan juri, Dr. Reza Tirtawinata. Sementara kualitas daging lebih menekankan pada kualitas fisik seperti ketebalan, warna, kadar air, serta tekstur daging buah dengan total nilai 30%. Berikutnya buah dan biji, 20%; kulit, 10%, dan aroma, 5%. Berdasarkan kriteria itu 5 juri menentukan 5 durian terbaik versi masingmasing dari 46 varietas. Setelah direkapitulasi muncul 12 besar yang kemudian diciutkan menjadi 3 besar yaitu botak, klemping, dan gasing.

Aset berharga
Menurut ketua panitia Festival Durian Borneo 2019, Priyono, acara selama 2 hari yang dihadiri pengunjung 5.000 orang per hari dari luar kota itu juga membangkitkan optimisme masyarakat Punggur Kecil. Jalan desa di Kabupaten Kubu Raya yang biasa lengang itu tiba-tiba macet total. Ratusan mobil dengan nomor polisi dari luar kota memadati ruas jalan nan sempit.
Festival itu meliputi acara pesta makan durian; bazar buah, bibit, dan hasil olahan durian, lomba makan durian, lomba makanan olahan durian, sarasehan durian, lelang durian, kunjungan ke sentra durian.
Sebelumnya pohon durian tua mulai ditebang untuk diambil kayunya tanpa pernah menanam bibit baru. Kini pohon durian yang semula banyak tumbuh di hutan-hutan tanpa perawatan mulai diperhatikan perawatannya. Harapannya tentu produktivitas tanaman bakal meningkat dan dapat dipanen setiap tahun. Maklum, selama ini banyak durian berkualitas yang tidak terawat sehingga pascapanen besar lalu merana. (Destika Cahyana)
