Wednesday, August 17, 2022

Kampiun Keturunan Rossii

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Juara pertama kelas hibrida E. rossii X E. waringiae milik Hendick PurwantoEuphorbia hasil silangan Hendick Purwanto meraih gelar juara kontes euphorbia eksotis.

Hendick Purwanto mengisolasi Euphorbia rossii dan Euphorbia waringiae dari euphorbia lain koleksinya di halaman rumah. Pehobi euphorbia di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, itu memindahkan kedua tanaman hias itu ke balkon. “Saya ingin memperoleh euphorbia jenis baru hasil perkawinan secara alami,” kata Hendick yang mengisolasi keduanya pada 2011.

Ia sengaja menempuh jalur perkawinan alami. Sebab mengawinkan euphorbia secara buatan cukup sulit. Musababnya, kedua induk berbeda spesies. “Waktu matang bunga antarspesies berbeda,” kata Hendick. Sebelum mengisolasi, pehobi euphorbia sejak 2005 itu memastikan tidak ada bunga yang matang atau buah yang tidak jelas asal-usulnya. “Bisa jadi bunga matang itu sudah dibuahi bunga lain. Begitu juga buah yang muncul itu bisa juga berasal dari pembuahan bunga lain,” ujarnya.

 

Terbaik

Dua bulan pascaisolasi, ia memanen biji dari kedua tanaman hias kerabat singkong itu. Hendick menyemai puluhan biji itu di media tanam berupa campuran sekam bakar, pasir malang, dan humus dengan perbandingan 2 : 1 : 1. Ia menanam terpisah antara biji dari E. rossii dengan biji dari E. waringiae. Dua pekan berselang, dua daun lembaga tumbuh dan tiga bulan berikutnya muncul daun ketiga. Sayang, hanya tiga tanaman dari biji E. rossii yang bertahan hingga dewasa. Sementara tanaman dari biji E. waringiae semua mati.

Juara pertama kelas daun tipis,  E. primulifolia koleksi Sugita WijayaHendick tak patah arang. Ia terus merawat tanaman yang tersisa hingga dewasa. Ketika tanaman itu berumur setahun, satu di antaranya menarik perhatian. Sosok tanaman baru itu mewarisi 75% “darah” E. rossii. Cirinya ukuran duri besar, bentuk daun lonjong, ramping, tebal, dan berujung meruncing. Sementara “darah” E. waringiae hanya terlihat pada tekstur duri yang lunak dan ukuran bunga yang lebar. Karakter euphorbia hibrida itu membuat Hendick jatuh hati.

Hendick tertarik mengikutkan euphorbia hasil silangannya itu dalam kontes. Ia menurunkan klangenan itu di kelas hibrida. Pada pertengahan September 2013, komunitas Cactus and Succulent Society of Indonesia (CSSI) memang menggelar kontes Indonesia Exotic Euphorbia Online Contest 2013 di sebuah jejaring sosial. Pehobi yang mengikutkan koleksinya dalam kontes, cukup mengunggah foto tanaman dengan dua sudut terbaik, misalnya sisi depan dan belakang atau depan dan samping di akun Indonesia Exotic Euphorbia Online Contest 2013.

Sebelum mengikuti kontes, Hendick membongkar media tanam agar bonggol tanaman terekspos. Penampilan tanaman yang kini berumur 2 tahun itu mencuri perhatian para juri. Kontes perdana itu melibatkan juri dari dalam dan luar negeri. Juri dalam negeri di antaranya Didi Turmudi, Indra Susandi, dan Arief Aliza. Adapun juri dari luar negeri yaitu Volarth Chi dari Taiwan dan Pheerachai Kingphutthapon dari Thailand. Mereka memantau dan menilai setiap tanaman yang diunggah pada 16 September—7 Oktober 2013.

Juara pertama kelas daun tebal, E. tulearensis koleksi Sugita WijayaKriteria penilaian meliputi kesan pertama, kesehatan, kelangkaan, dan ukuran tanaman. Tanpa melewati perdebatan panjang, mereka sepakat memilih tanaman setinggi 18 cm itu sebagai juara. Tanaman milik pria berusia 35 tahun itu melenggang mulus di posisi pertama sebab memenuhi semua kriteria penilaian.

“Keistimewaan lain tanaman itu memiliki bonggol bagus membulat sempurna dari bawah ke atas,” kata juri Arief Aliza. Ia menuturkan euphorbia berbonggol merupakan idaman para kolektor. Yang menggembirakan lagi, euphorbia hibrida lain milik Hendick hasil perkawinan E. razafindratsirae dan E. suzanne marnireae sukses meraih peringkat kedua.

 

Langka

Pada kontes adu cantik euphorbia eksotis itu juga melombakan euphorbia kategori daun tipis dan daun tebal. Di kelas daun tipis E. primulifolia milik Sugita Wijaya, kolektor di Surabaya, sukses menjadi juara. Para juri terpikat pada bentuknya yang unik. Lazimnya, bonggol E. primulifolia hanya satu. Sementara koleksi Sugita memiliki dua bonggol yang menempel secara alami bagai dua kepala yang menyatu. “Tanaman seperti itu tergolong langka sebab hanya muncul karena adanya mutasi,” kata Arief Aliza.

Sementara E. guillauminiana milik kolektor asal Surabaya, Andy Chandra, meraih posisi kedua. Andy mendatangkan tanaman setinggi 33 cm dan berdiameter tajuk 40 cm itu pada 2009 dari Amerika Serikat. E. guillauminiana harus mengalah dari sang juara dengan selisih nilai sangat tipis. Ia kalah dari segi kelangkaan. Sementara koleksi Sugita yang lain E. pachypodioides hanya mampu bertengger di peringkat ketiga.

Koleksi Sugita Wijaya kembali teruji kualitasnya di kelas daun tebal. Duet  E. tulearensis meraih juara pertama dan ketiga.  Menurut Arief Aliza, E. tulearensis tergolong langka. “Perawatannya juga susah. Apalagi itu diperoleh dari habitat aslinya di alam,” kata Arief. Ia menuturkan euphorbia hasil perburuan di alam pasti sudah berakar. “Kalau tidak hati-hati memelihara bisa stres sebab tanaman harus beradaptasi dengan media tanam dan lingkungan baru,” katanya. Pada kontes yang diikuti 88 tanaman itu,  Sugita Wijaya meraih juara umum sebab empat koleksinya masuk daftar juara.  (Andari Titisari/Peliput: Bondan Setyawan)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img