Friday, December 2, 2022

Nusantara di Rangkaian Bunga

Rekomendasi

Rangkaian futuristik bergaya elektrik karya Sandra Taslim, perangkai bunga di Jakarta BaratWarisan budaya dan alam Nusantara menjadi inspirasi merangkai bunga.

Kenangan saat remaja di ranah Minang, Sumatera Barat, begitu berkesan bagi Sandra Taslim. Perangkai  bunga di Jakarta Barat itu menuangkan kenangan itu dalam rangkaian bunga kontemporer. Ia menggunakan potongan kaca berbentuk segitiga  menyerupai begonjong rumah adat Minangkabau. Pemilik toko bunga Alexandra itu menggantung potongan-potongan kaca menggunakan senar pada bingkai besi berbentuk bujursangkar.

Hasilnya potongan kaca itu terlihat seperti melayang di tengah-tengah bingkai. Sandra lantas menghias potongan-potongan kaca itu dengan mawar biru, anggrek oncidium kuning, craspedia kuning, krisan bola kuning, statis ungu, gomprena ungu, silver dust, dan tilainsia. Ia sengaja menonjolkan warna kuning dan biru keunguan pada rangkaian bergaya elektrik itu. “Menurut saya rangkaian futuristik itu tidak butuh banyak bunga atau warna tapi sarat teknik dan imajinasi,” katanya.

 

Akarwangi

Sandra Taslim memamerkan rangkaian bunga itu di Simposium Nasional Ikatan Perangkai Bunga Indonesia (IPBI) pada 31 Oktober 2013 di gedung Titan Centre, Bintaro, Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Pada acara yang bertajuk The Past, Present, and Future itu, rangkaian karya perangkai bunga di Jakarta Selatan, Lily Sastra, juga tak kalah apik. Lily membuat rangkaian berbentuk gelas setinggi 2 meter. Bila dipandang dari kejauhan, warna cokelat yang menyelimuti rangka sekilas mirip batang bambu kering.

Kipas kreasi Amanda Iskandar, perangkai bunga di Jakarta Pusat, terbuat dari alang-alangNamun, bila dilihat lebih dekat sebetulnya itu akar wangi. “Bumi Nusantara kaya materi flora. Akar wangi salah satunya,” kata Lily Sastra. Akar wangi sohor  sebagai penghasil minyak asiri karena beraroma harum. Para perajin di Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengolah akar wangi menjadi produk kerajinan tangan. Di tangan Lily Sastra, akar wangi tampil elegan. Ia mengerat helaian akar wangi menggunakan kawat tembaga, menempelkan biji lamtoro, lantas mengikatkan pada rangka gelas.

Dalam rangkaian itu Lily menonjolkan kelir hijau dan biru. Ia meletakkan krisan jarum hijau, hydrangea biru, dan agapanthus biru. Rangkaian menjadi semakin manis dengan hadirnya juntaian anggrek bulan putih yang muncul dari bibir gelas. Ketua panitia, Andy Djati Utomo, SSn, AIFD, CFD, menuturkan tujuan simposium kali ini untuk memperkenalkan budaya Nusantara serta memupuk rasa nasionalisme lewat sebuah rangkaian bunga. “Melalui rangkaian bunga kami ingin menggali, melestarikan, serta mengembangkan kekayaaan alam Nusantara,” kata Andy.

Bila Sandra dan Lily menampilkan rangkaian futuristik, perangkai bunga di Jakarta Pusat, Amanda Iskandar, justru mengajak 154 orang peserta simposium itu bernostalgia ke era 1980-an. “Pada masa itu tren mode yang sedang digandrungi adalah bulu-bulu binatang,” kata Amanda. Terinspirasi oleh mode pada zaman itu, Amanda membuat rangkaian berbentuk kipas. Ia tidak menggunakan bulu binatang, tapi menggantinya dengan alang-alang kering.

Rangkaian sirih khas Aceh karya Fachriati, perangkai bunga di AcehAmanda menyematkan alang-alang kering yang dapat berdiri tegak pada rangka kipas yang terbuat dari stik es krim yang dibungkus janur kering. “Agar alang-alang dapat berdiri tegak, saya menindihnya dengan tumpukan buku,” ujar Amanda. Setelah kipas terbentuk, gadis 24 tahun itu lantas mengikatkan anggrek cattleya, mawar baby rose pink, mawar ceribrendi, dan daun walisongo sebagai pusat rangkaian.

 

Sirih

Sementara itu perangkai bunga asal Aceh, Fachriati, lebih memilih menampilkan rangkaian bunga dari daun sirih bergaya masa kini. Ranub alias sirih dalam bahasa Aceh merupakan peninggalan budaya masa silam yang tidak terpisahkan dari kehidupan warga Tanah Rencong. “Dengan sedikit kreasi, sirih juga dapat dibentuk menjadi sebuah rangkaian masa kini yang menawan,” kata Fachriati.

Perangkai bunga asal Yogyakarta, Boedhi Santoso Purbo Kusumo, menyajikan tiga rangkaian bunga apik bernuansa khas keraton. Boedhi membuat miniatur tugu, gunungan lanang, dan gunungan wadon. “Tugu adalah simbol kota sedangkan gunungan lanang dan wadon merupakan tradisi masyarakat saat merayakan Maulid Nabi,” kata Boedhi. Ia mampu mengemas tradisi itu menjadi rangkaian yang menarik. “Gaya rangkaian masa kini, tapi kental unsur tradisi,” katanya.

Miniatur tugu, gunungan lanang, dan gunungan wadon karya Boedhi Santoso Purbo Kusumo, perangkai bunga di YogyakartaPada acara yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IPBI itu, peserta juga dapat melihat rangkaian bunga khas Jepang yakni ikebana ikenobo karya Lusy Wahyudi. Perempuan anggota Perhimpunan Ikebana Ikenobo Indonesia (PIII) itu mengusung tema Harmony of Nature. Ia memadukan bunga yang sedang mekar, bunga yang masih kuncup, daun-daun muda yang segar, dan ranting-ranting kering menjadi sebuah pemandangan alam nan elok.

Pada akhir acara, para peserta semakin dimanjakan dengan rangkaian tiga dimensi karya perangkai bunga dari Singapura, Bernard Song. “Kemajuan teknologi, ragam pilihan materi, dan keterampilan para desainer bunga melahirkan banyak desain yang terkesan transparan atau tembus pandang,” katanya. Material seperti senar, akrilik, lampu LED (light emiting diode), kristal, dan manik-manik kini banyak dijumpai dan mulai diperkenalkan oleh para perangkai (Andari Titisari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tips Mengatur Pola Pakan Tepat untuk Kuda

Trubus.id — Berbeda dengan sapi, kuda termasuk hewan herbivora yang hanya mempunyai satu lambung (monogastrik) sehingga kuda sangat membutuhkan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img