Wednesday, August 17, 2022

Karantina Selamatkan Belut

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Tak semua orang mafhum nama Monopterus albus. Namun, kalau belut, semua orang tahu. Meski pembudidayaan ramai, pasokan bibit tidak serta-merta turut ramai. Maklum, pasokan bibit masih sepenuhnya mengandalkan kemurahan alam. Pencari belut di sawah menyetorkan perolehannya kepada pengepul, yang lantas mengirim bibit-bibit muda dan lemah itu kepada pembesar.

Perjalanan jauh dan pengemasan rapat membuat belut-belut “bayi” itu menggelepar. Pengalaman Ir Johny Siahaan, pembudidaya di Bogor, Jawa Barat, 30 kg bibit menemui ajal dalam 14 hari. Untung, Johny tak habis akal. Ia mengarantina bibit yang baru datang dalam wadah khusus. Setiap 1 bagian air dari tempat asal bibit ditambah 2 bagian air baru. Ia lantas memisahkan bibit yang berenang dari yang berdiri diam.

Setelah beberapa waktu, sebagian bibit yang diam berdiri ikut berenang, sebagian tidak. Bibit yang berenang dipelihara, yang diam berdiri dianggap apkir. Dengan cara itu, kelulusan hidup bibit sampai dewasa mencapai 99%, padahal pembesar lain maksimal cuma 90%. Dengan harga bibit Rp22.000—Rp30.000, cara karantina itu setidaknya mengamankan pundi Johny Rp59.400 setiap periode budidaya.***

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img