Tuesday, March 10, 2026

Karena Magot Panen Naik 25%

Rekomendasi
- Advertisement -

Pupuk hayati cair dari magot terbukti meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas padi.

Kombinasi pupuk cair magot dan kimia mempercepat pertumbuhan dan perkembangan padi. (Dok. Trubus)

Trubus — Umur padi inpari 32 di sawah Ruskim itu baru 26 hari, tetapi memiliki 40 anakan. Ruskim menanam Oryza sativa pada 14 Desember 2018. Padahal, padi varietas sama di sawah tetangga hanya memiliki 20 anakan. Pada penanaman sebelumnya pun sama, jumlah anakan padi di sawah Ruskim lebih banyak. “Waktu panen pun lebih singkat. Selisih 5 hari dibandingkan dengan sawah tetangga,” kata Ruskim.

H Ruskim menggunakan pupuk cair magot sejak
Desember 2017. (Dok. Trubus)

Jika lancar petani di Desa Jatibaru, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, itu memanen minimal 7 ton gabah kering panen (GKP) per hektare pada medio Maret 2019. Volume itu sama dengan panen pada penanaman sebelumnya. Hasil panen itu lebih banyak daripada panen di sawah tetangga.

Pupuk magot

Menurut Ruskim pemilik sawah lain memperoleh 5,6 ton per hektare. Peningkatan hasil panen mencapai 25%. Bahkan panen sebelumnya pada Oktober 2018 Ruskim mendapatkan 8,4 ton GKP per hektare, sedangkan petani lain 1,7—4,2 ton di lahan sama. Banyak petani yang gagal panen juga saat itu lantaran serangan wereng. Ruskim bersyukur bisa memanen padi saat itu karena kesehatan tanaman relatif bagus.

Tanaman bisa bertahan pada cuaca tidak bersahabat dan serangan hama. Apa rahasia Ruskim sehingga padi miliknya tumbuh lebih cepat, produktivitas lebih tinggi, dan relatif tahan serangan hama? Pria yang bertani mandiri sejak 1979 itu mengatakan, “Saya mengombinasikan pupuk cair magot dan kimia serta perawatan rutin.” Terutama setelah penggunaan pupuk cair magot terjadi perubahan signifikan di sawah milik Ruskim.

Produktivitas padi meningkat berkat pupuk cair magot. (Dok. Trubus)

Pupuk cair magot termasuk pupuk hayati lantaran mengandung beberapa mikrob yang baik untuk tanaman. Pupuk cair hayati itu hasil penguraian sampah organik oleh magot alias larva lalat hitam atau black soldier fly (BSF). Peneliti BSF sejak 2012, Prof. Dr. Ir. Agus Pakpahan, menuturkan pupuk cair magot berisi mikrob baik untuk tanaman antara lain Azotobacter yang berfungsi membuat nitrogen dari udara tersedia untuk tanaman.

Padi inpari 32 memiliki 40 anakan ketika berumur 26 hari setelah tanam, lazimnya hanya 20 anakan. (Dok. Trubus)

Bacillus sp. juga terdapat dalam pupuk cair magot yang berperan sebagai biopestisida. Menurut Agus kehadiran mikrob dalam pupuk penting karena membantu menyediakan nutrisi bagi tanaman. Berkat makhluk kecil itu nitrogen di udara serta fosfat dan potasium dalam tanah menjadi bahan tersedia dan bisa diserap tanaman. “Tanpa mikrob tanaman tidak tumbuh,” kata doktor bidang Agricultural Economics alumnus Michigan State University, Amerika Serikat, itu. Pupuk cair magot juga berisi hormon pertumbuhan seperti auksin dan giberelin, asam amino (arginin dan sistin), serta beragam mineral.

Tetap untung

Ruskim memanfaatkan pupuk cair magot sejak fase pembenihan hingga menjelang panen.Kali pertama ia menyemprotkan pupuk hayati itu ketika tanaman berumur 7 hari setelah tanam (hst). Satu kotak pembenihan seluas 1 m² untuk penanaman ¼ hektare sawah mendapatkan 4 liter pupuk cair magot yang dilarutkan ke dalam 91 liter air bersih. Dengan kata lain setiap 750 ml pupuk cair magot dicampurkan 17 liter air.

Pupuk cair magot hasil penguraian sampah organik oleh larva lalat tentara hitam. (Dok. Trubus)

Berselang 3 hari atau tanaman berumur 10 hst ia memberikan 25 kg Urea dan 10 kg TSP per 1 kotak pembenihan. Lalu 5 hari menjelang pindah tanam Ruskim menyemprotkan lagi 4 liter pupuk cair magot per kotak pembenihan. Kemudian ia memindahkan tanaman kerabat jagung yang berumur 22 hst ke sawah. Sebelum menggunakan pupuk cair magot, pindah tanam dilakukan ketika tanaman berumur minimal 25 hst.

Pemupukan selanjutnya pada 25 hst dengan pemberian 210 kg Urea per hektare. Jika perakaran padi belum sempurna ia memberikan 140 kg TSP atau SP 36 per hektare.

Pada 50—60 hst atau menjelang padi mengeluarkan malai Ruskim menyemprotkan 5,6 liter pupuk cair magot per hektare. “Tujuannya agar tanaman memperoleh vitamin untuk persiapan mengeluarkan malai,” kata pria kelahiran Subang, Jawa Barat, itu. Pemberian pupuk cair magot terakhir pada 75 hst sebanyak 2,8 liter per hektare. Ruskim memanen padi berumur 95—100 hst.

Penggunaan pupuk cair magot mengharuskan Ruskim menambah ongkos produksi Rp704.225 per hektare. Ruskim mengatakan hasil panen menutup biaya itu sehingga masih ekonomis. Ruskim mengenal pupuk cair magot sejak Desember 2017 dari teman menantu di Jakarta. Semula ia hanya menguji coba produk PT Bio Konversi Indonesia itu di lahan. Ternyata pupuk bekerja baik sehingga Ruskim mengandalkan produk itu hingga kini. (Riefza Vebriansyah)


Artikel Terbaru

Optimasi Pakan untuk Meningkatkan Produksi Telur Puyuh: Protein Tinggi vs Pakan Fermentasi

Produksi telur puyuh sangat ditentukan oleh keseimbangan nutrisi dalam ransum harian, khususnya kadar protein kasar (crude protein). Dalam Jurnal...

More Articles Like This