Thursday, August 18, 2022

Kayu Songga Atasi Tifus, Malaria, Diabetes, dan Kista

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Kayu Songga memiliki senyawa strichnine yang berkhasiat membantu memperbaiki kondisi kesehatan pasien penderita penyakit tifus, malaria, diabetes mellitus, dan kista
Kayu Songga memiliki senyawa strichnine yang berkhasiat membantu memperbaiki kondisi kesehatan pasien penderita penyakit tifus, malaria, diabetes mellitus, dan kista

Kayu bercitarasa pahit itu terbukti sahih secara empiris dan ilmiah mengatasi tifus, malaria, dan diabetes mellitus. Kayu songga juga memperbaiki gangguan saraf pusat pada penderita kanker otak dan menggempur kista.

Sujono tak pernah lupa derita akibat tifus yang dialami pada medio Februari 2013. Pria 50 tahun itu merasakan mual-mual disertai muntah berkali-kali setiap hari. Pada malam hari tubuhnya mengigil karena demam. Ketika itu suhu tubuhnya mencapai 38—39oC. Sudah 2 kali Sujono mendatangi dokter berbeda di Rumahsakit Umum Daerah (RSUD) Cibinong, Jawa Barat, dengan diagnosis sama: tifus.

Dokter menganjurkan ayah 3 putra itu menjalani rawat inap. Namun, Sujono menolak dan memilih menjalani perawatan di rumah. Nyaris tiga pekan sakit, seorang saudara jauh yang pulang bertugas di Papua menyodorkan 5 potong kayu bidara laut—sebutan umum—sepanjang jari kelingking dengan tebal sekitar 1 cm. “Coba pakai ini (kayu bidara, red), di Papua orang sakit tifus sembuh,” kata kerabat seperti ditirukan oleh Sujono. Ia kemudian merebusnya sebatang kayu itu ke dalam 3 gelas air hingga mendidih dan tersisa satu gelas, lalu meminumnya. “Rasa air dari kayu itu pahit sekali, tidak enak di lidah. Saudara saya bilang supaya menambahkan serbuk kayu cendana untuk menetralisir rasa pahit,” ujar Sujono.

Kayu songga alias kayu ular alias bidara laut Strychnos lucida diketahui memiliki efek antimikrob
Kayu songga alias kayu ular alias bidara laut Strychnos lucida diketahui memiliki efek antimikrob

Tiga hari

Tiga hari berturut-turut meminum air rebusan kayu bidara sebanyak 2 kali sehari, kondisi Sujono berangsur-angsur membaik. “Banyak keluar keringat dari badan dan demam mulai hilang,” kata pekerja lepas di konstruksi bangunan itu. Dalam sehari ia bisa 5—6 kali berganti pakaian. Rasa mualnya pun mulai berkurang dan tidak lagi mengalami muntah-muntah. Setelah 10 hari mengonsumsi Sujono sudah bisa beraktivitas seperti biasa dan berolahraga lari seperti dilakoni sejak 5 tahun lalu.

Menurut dokter sekaligus herbalis di DI Yogyakarta, dr Sidi Aritjahja, gejala tifus antara lain nyeri perut, lidah terlihat putih kotor, dan demam tinggi antara pukul 18.00—20.00. “Penyebabnya adalah bakteri Salmonella typhi,” ujar alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada itu. Bakteri itu menyusup ke tubuh manusia antara lain melalui makanan dan minuman yang tidak higienis. Sujono masih mengingat sebelum sakit tifus ia beberapa kali memakan mi di warung pinggir jalan yang memang agak kotor tempatnya.

Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2009 memperlihatkan tifus merupakan penyakit dengan banyak penderita. Menurut WHO sebanyak 358  orang dari 100.000 orang di Indonesia menderita tifus setiap tahun. Hal itu diperkuat data dari Ditjen Pelayanan Medis Kementerian Kesehatan RI pada 2009 yang menyebutkan tifus menempati peringkat kedua setelah diare (7,52%) sebagai 10 penyakit terbanyak rawat inap di seluruh rumahsakit di tanahair. Persentase pasien tifus mencapai  3,15%.

Kayu bidara laut Strychnos lucida yang Sujono pakai untuk mengatasi tifus dikenal dengan beragam nama seperti kayu songga (NTB), kayu ular (Sumatera), dan dara laut (Jawa). Bagaimana kayu itu bisa menyembuhkan tifus? Riset Gnanavel dan rekan dari Departemen Botani dan Mikrobiologi AVVM Sri Puspham College di Tamil Nadu, India, pada 2012 mengungkapkan senyawa strichnine pada bidara bersifat antibakteri. Penelitian yang memakai spesies nux-vomica yang penyebarannya di Srilanka, India, kawasan Indocina, dan Malaysia, itu menjelaskan ekstrak metanol dan butanol pada Strychnos nux-vomica bisa menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus dan Salmonella.

Penelitian lain oleh Dediwan dan rekan dari Divisi Riset dan Teknologi PT Kimia Farma yang termuat di “Warta Tumbuhan Obat Indonesia” volume 2 mengungkapkan senyawa alkaloid spesies lucida mempunyai sifat antimikrob terhadap bakteri Bacillus subtilis dan Staphylococcus aureus. Yang disebut terakhir banyak dijumpai di saluran pernapasan dan kulit manusia.

Satu-satunya keterangan tentang khasiat kayu bidara untuk menyembuhkan demam seperti dialami Sujono dipaparkan dalam buku Tanaman Berguna Indonesia karangan K. Heyne. Di sana disebutkan kayu bidara laut yang mengandung senyawa strychnine mujarab mengobati demam. Penyembuhannya singkat hanya 3 hari.

Obat malaria

Sejatinya kayu bidara bukan tumbuhan yang sulit dijumpai di tanahair (baca: Atas Bawah Berkhasiat halaman 16—17). Menurut Ogi Setiawan SHut MSc, peneliti muda dari Balai Penelitian Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), di NTB kayu songga tumbuh di hutan di daerah perbukitan seperti dijumpai di Kabupaten Dompu.

Warga setempat memanfaatkan kayu songga sebagai tanaman obat. Menurut Ilham Hamzah, warga Desa Tente, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, NTB, kayu songga adalah obat ampuh bagi penderita malaria. Ilham yang mengidap malaria sejak 1980 sudah membuktikannya. Mantan kepala cabang Dinas Pertanian Kecamatan Woha pada 1990—2008 saat itu kerap menderita demam saat malarianya kambuh. “Badan mengigil tidak keruan. Bisa 3 hari sakitnya,” ujar Ilham.

Selama ini Ilham pasrah bila malaria itu datang yakni setiap kali kondisi tubuhnya menurun. “Minum obat juga tidak banyak berguna,” ujar Ilham. Selang 18 tahun kemudian ia baru melirik kayu songga setelah diberitahu salah satu petani binaan selama bertugas sebagai kepala dinas. “Saya disuruh memakan 3—5 biji kayu songga,” katanya.

Pertama kali meminum, Ilham memuntahkan biji itu karena berasa sangat pahit. Namun berikutnya ia bisa menelan biji setelah menaruh di pangkal tenggorokan lantas meminumnya bersama secangkir kopi sebagai penawar rasa pahit. Dua hari mengonsumsi biji songga itu, demam malarianya lenyap. Sampai saat ini tatkala kondisi tubuhnya menurun, ia segera mengkonsumsi 2—3 biji songga. “Sekarang malaria tidak pernah kambuh lagi,” katanya.

Khasiat kayu songga sebagai obat malaria sejalan riset Dr Aty Widyawaruyanti Apt MSi dan tim dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga di Surabaya, Jawa Timur. Para periset menggunakan ekstrak air kayu songga secara in vivo pada mencit yang diinfeksi terlebih dahulu dengan Plasmodium berghei, parasit penyebab malaria pada mamalia.

Widyawaruyanti terlebih dahulu menyerut kulit batang lantas membuatnya menjadi serbuk. Serbuk kayu sebanyak 20 g kemudian direbus dalam 200 ml air selama 10 menit. Singkat kata dari perebusan itu bisa diperoleh 1,33 g ekstrak kering yang diberikan kepada mencit selama 4 hari berturut-turut. Hasil riset yang mengamati tingkat parasitemia atau jumlah sel darah merah terinfeksi parasit itu memperlihatkan nilai ED50 atau dosis efektif yang dapat menghambat 50% pertumbuhan parasit adalah 0,45 mg/kg bobot tubuh.

Menurut Widyawaruyanti senyawa strichnine ekstrak kayu songga memiliki aktivitas antiplasmodium sehingga dapat menghambat pertumbuhan parasit di dalam sel darah merah. Artinya dari penelitian yang belum dipublikasikan itu terungkap kayu songga potensial sebagai antimalaria.

Atasi diabetes

Beberapa herbalis di berbagai daerah sudah  mengenal dan memanfaatkan kayu songga. Lina Mardiana di Yogyakarta dan Valentina Indrajati di Bogor, Jawa Barat, misalnya meresepkan anggota famili Loganiaceae itu untuk mengatasi diabetes mellitus. Valentina meresepkan 5 g kayu songga yang dikombinasi dengan masing-masing 10 g dandang gendis Clinacanthus nutans, 10 g kumis kucing Orthosiphon stamineus, dan 5 g brotowali Tinospora crispa. Seluruh bahan direbus dalam 3 gelas air dan tersisa satu gelas untuk diminum. “Konsumsinya selama 1—2 minggu,” katanya.

Menurut Santoso di Desa Polurejo, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, diabetes mellitusnya membaik setelah mengonsumsi kayu ular. “Gula darah saya sebelumnya mencapai 450 mg/dl,” ujar pekerja swasta itu. Atas saran seorang kawan ia kemudian mendatangi Lina Mardiana yang lantas meresepkan kapsul serbuk kayu ular. “Konsumsinya sehari 3 kali, masing-masing 3 kapsul sekaligus,” kata Santoso.

Berselang 3 pekan pascakonsumsi, Santoso berinisiatif mengecek gula darahnya. Hasilnya mengejutkan. Gula darahnya melorot menjadi 214 mg/dl. Sepekan berikutnya gula darahnya sudah mencapai 185 mg/dl. “Sampai saat ini saya tetap rutin mengonsumsi kapsul kayu ular untuk menjaga gula darah stabil di angka 185 mg/dl,” ujar kelahiran Mei 1976 itu senang.

Belum banyak riset yang mengungkapkan khasiat kayu bidara sebagai penurun gula darah. Satu-satunya riset yang sejauh ini bisa diperoleh adalah penelitian Supriadi dari Jurusan Farmasi Universitas Hasanuddin pada 1986. Riset memakai kelinci itu menguji pengaruh konsentrasi (5, 10, 15, dan 20%) rebusan kayu songga. Hasilnya pemberian konsentrasi 20% sebanyak 5 ml/kg bobot badan (bb) memberikan efek terbesar penurunan gula darah sebesar 43,96%. Penurunan itu terjadi setelah 5 jam konsumsi.

Penelusuran lain memperlihatkan kayu bidara laut juga mampu membantu perbaikan kondisi pasien kanker otak. Susi—nama disamarkan—di Bandung, Jawa Barat sejak Januari 2000 divonis menderita kanker otak. Hasil pemindaian Computed Tomograph (CT) Scan di Rumahsakit Santo Borromeus, Bandung, ketika itu menunjukkan ukuran kankernya sudah sebesar telur puyuh. “Semula saya pikir migrain biasa,” kata Susi. Ia juga mengalami kelainan saraf di mata yang menyebabkan kelopak di mata kanan turun sebagai dampak kanker otak.

Kondisi Susi mulai membaik setelah ia berobat kepada Dr Nelly C. Sugiarso Apt, herbalis dan ahli farmasi di Dago, Bandung atas saran teman. Di sana Susi mendapatkan kapsul herbal yang berisi campuran serbuk bidara laut, sambiloto, temulawak, antanan, dan 10 herbal lainnya. Ia meminum 3 kapsul sebanyak 3 kali sehari. Tiga bulan mengonsumsi, Susi sudah memperlihatkan kemajuan berarti. “Sakit di kepala berkurang, bisa tidur lebih nyenyak, dan kelopak mata mulai normal,” kata ibu 53 tahun itu.

Menurut Nelly, kayu songga berguna untuk memperbaiki sistem saraf pusat, yang rusak akibat kanker dengan dampak seperti dialami Susi pada kelopak mata. Doktor farmasi dari Universitas Montpellier I Perancis itu membuktikan sewaktu menjalani program doktoral pada 1976—1978 dengan disertasi mengenai khasiat kayu ular terhadap perbaikan sistem saraf pusat.

Khasiat lain kayu songga adalah untuk mengatasi kista sebagaimana pengalaman Fivi Trianingsih (baca: Kayu Ular Halau Kista halaman 18—19)

Bebas sertifikat

Untuk mendapatkan khasiat kayu ular pasien perlu mengetahui dosis aman konsumsi. Menurut drh Zuraida MSi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman di Bogor, Jawa Barat, konsumsi ekstrak bidara tidak boleh berlebihan. “Efek jangka pendek bisa membuat jantung berdebar dan pupil mata melebar,” katanya. Itu lebih karena senyawa strichnine bisa bersifat toksik. Hal senada disampaikan oleh Dr Nelly C. Sugiarso Apt yang menjelaskan pada pemberian ekstrak secara injeksi, efek toksik muncul bila digunakan dosis 1 g per kg bobot tubuh. “Konsumsi yang paling aman sejauh ini adalah dengan menyeduh kayu ular memakai air panas bersuhu 90oC,” kata Nelly.

Menurut Drs Hary Wahyu Apt, direktur Standardisasi Obat Tradisional Kosmetik dan Produk Komplementer Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), kayu ular yang sudah digunakan turun-temurun itu tidak memerlukan sertifikasi. “Hal sama terjadi untuk daun salam,” katanya. Sepanjang konsumsinya sesuai dosis, pasien dapat berharap meraih kesehatan dengan kayu songga. (Dian Adijaya S/Peliput: Argohartono AR, Nurul Aldha MS, Rizky Fadhilah, Riefza Vebriansyah, dan Bondan Setiawan)

Previous articleEmpat Kali Seduh
Next articleBunga Sirsak Rontok
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img