Wednesday, June 19, 2024

Keankearagaman Hayati Sumber Obat, Perlu Lestari untuk Jangka Panjang

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Obat-obatan tradisional berkembang menjadi sumber perawatan kesehatan primer berbiaya rendah. Tanaman yang memiliki kegunaan medis telah lama digunakan untuk mengobati berbagai gangguan menular dan tidak menular. Sebanyak 20—30% tanaman tropis memiliki aktivitas antivirus.

World Health Organization (WHO) mencatat sekitar 80% populasi dunia menggunakan obat-obatan herbal untuk sistem perawatan kesehatan di negara berkembang dan maju. Terutama di pedesaan karena kurangnya fasilitas kesehatan modern di Indonesia.

Zidni Ilman Navia, S.Si, M.Si.,  menuturkan  Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Sekitar 7.000 dari 30.000 spesies tanaman berbunga memiliki potensi sebagai obat.

Berbagai penelitian ilmiah mengungkapkan bahwa tidak sedikit tumbuhan di hutan yang mengandung zatzat dengan sifat farmakologis dan bioaktivitas.

Kedua sifat itu untuk berpotensi untuk penyakit ringan, berat, degeneratif, dan kanker. Keanekaragaman tumbuhan yang tinggi juga penting dari segi budaya, penyediaan pangan, bahan bakar, bahan bangunan, dan pakan ternak.

Lebih lanjut dosen Program Studi Biologi, Fakultas Teknik, Universitas Samudra, Kota Langsa, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, menuturkan setiap kelompok etnis di Indonesia memiliki pengetahuan unik tentang cara memanfaatkan sumber daya hayati yang beragam. Termasuk untuk pengobatan dan perawatan kesehatan.

“Masyarakat lokal di Indonesia memiliki pengetahuan etnobotani tentang tumbuhan obat,” kata Zidni.  Masyarakat di Pulau Kalimantan memulai tradisi itu kemudian berkembang di Pulau Jawa.

Ia menuturkan pewarisan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam penggunaan tanaman obat tradisional melalui cerita lisan dari generasi ke generasi dan dilestarikan hingga saat ini.

Penggunaan tanaman obat dan pengetahuan tentang metode pengobatan tradisional merupakan warisan budaya yang kaya serta bagian intrinsik adat istiadat dan budaya setempat. Oleh karena itu, harus dilestarikan untuk memastikan penggunaannya dalam jangka panjang.

Sayangnya kurangnya catatan tertulis dan perilaku pewarisan yang konservatif menjadi ancaman bagi pengetahuan obat tradisional. Pengetahuan tradisional dapat digunakan untuk membantu konservasi di lapangan (konservasi di habitat alami). Oleh karena itu, penting mempelajari dan mendokumentasikan tanaman obat serta kearifan lokal.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Budidaya Udang Vannamei Superintensif, Padat Tebar Padat Hasil Panen

Trubus.id—Budidaya udang vannamei superintensif  merupakan cara budidaya dengan tingkat kepadatan tinggi mencapai 1.000 ekor per m2 atau rata-rata 370...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img