Tuesday, November 29, 2022

Kekasih Lama Datang Lagi

Rekomendasi

Mereka bukan pendatang baru, tapi membuat banyak hobiis kembali jatuh hati.

T ejak 2010 Ervan mesti rela berbagi halaman belakang rumah dengan 60 pasang merpati hias. Harap mafhum, kandang di halaman depan rumah di Bantul, Yogyakarta,  tak cukup lagi menampung klangenannya yang terus bertambah. Halaman belakang rumah seluas 50 m2 pun ia sulap menjadi “apartemen” terbuat dari bambu yang terdiri atas kamar-kamar berukuran 50 cm x 60 cm x 50 cm. Setiap kamar rata-rata dihuni sepasang merpati.

Setahun terakhir Ervan memang getol berburu indukan dan anakan aneka jenis merpati hias dari para peternak di sekitar Yogyakarta. Harga beli rata-rata Rp300.000 per pasang, tergantung jenis. Dari perburuan itu akhirnya terkumpul 18 jenis merpati hias seperti blacknun, brownun, double cup, dan jacobin.

Biru langka
Merawat merpati hias sejatinya bukan hobi baru Ervan. Sebelumnya ia pernah memelihara beberapa merpati hias jenis persi. Ciri khas burung angggota famili Columbidae itu ekornya  menyerupai kipas. Pada bagian kaki hingga ke jari tumbuh bulu. “Ketika itu baru sebatas hobi,” kata pria 32 tahun itu. Kini ia berharap hobinya dapat menjadi ladang bisnis pengisi pundi-pundi.
Harap maklum belakangan ini merpati hias kembali digandrungi. Di kota Gudeg, Yogyakarta, Sutomo mengoleksi jacobin, bluentinette, kipas hitam, modena, dan santinet. Menurut Sutomo, permintaan santinet tak kalah deras. Merpati berparuh pendek itu memiliki corak bulu sayap yang menawan. ”Semakin jelas motif batik di badannya, semakin bagus,” ujarnya. Harga santinet  berpenampilan istimewa bisa mencapai Rp8-juta per pasang, anakan Rp3,5-juta. Di Ponorogo, Jawa Timu, Muhammad Ali Mukhlison mengoleksi jacobin, gondok, lahore, modena, dan carier. ”Setahun terakhir permintaan merpati hias memang mulai marak,” ujarnya.
Menurut Soni – sapaan Mukhlison – hobiis kembali melirik merpati karena lahirnya varian baru hasil tangkaran para peternak. Salah satunya bluentinette. ”Warna birunya langka. Di Yogyakarta baru ada 3 kolektor yang memiliki jenis ini,” ujar Sutomo. Di kalangan hobiis, semakin langka warna bulu merpati hias, semakin banyak dicari dan harganya tinggi.
Maka keputusan Ervan beternak merpati hias tidak meleset. Ervan mendapat permintaan minimal 2 pasang anakan per minggu. Yang mengejutkan harga jual merpati hias naik hingga 10 kali lipat dibanding setahun yang lalu. Sepasang jacobin yang dibeli Ervan setahun silam Rp300.000 kini dilepas Rp3-juta.
Indikasi tren juga terlihat di ajang kontes. Pada kontes perdana di Ngawi, Jawa Timur, pada awal Desember 2011, sebanyak 50 peserta beradu cantik dalam 7 kategori. Dalam kontes itu merpati jenis norwich cropper gondok koleksi  Budi Wen asal Surabaya sukses meraih gelar best in show.
Pemenang kontes kerap menjadi incaran hobiis. Pemilik merpati peraih runner up best in show di Ngawi, Vico Andreas, langsung kebanjiran order. “Dalam 3 minggu sudah ada pesanan hingga 50 pasang,” ujar hobiis asal Surabaya, Jawa Timur, itu. Dalam waktu dekat menyusul kontes serupa di Blitar dan Sumenep, Jawa Timur.

Turunan impor
Hasil survei Soni ke sentra burung hias di Solo, Yogyakarta, dan Jakarta, permintaan merpati hias mulai menanjak tapi pasokan terbatas. Sebab 20 tahun terakhir  popularitas merpati hias tenggelam sehingga tidak dilirik para peternak. Jenis yang sekarang ditangkarkan keturunan merpati hias yang impor di era 1980-an dan 1990-an seperti persi.
Meski didominasi jenis lama, kecantikan merpati hias tetap memikat.  Sebut saja jacobin yang punya ciri khas memiliki bulu leher tumbuh melengkung ke atas sehingga terlihat seperti kerah. Di kalangan hobiis, semakin panjang ”kerah” harganya semakin mahal.  
Jenis lain, merpati gondok. Disebut demikian karena leher merpati asal Norwegia itu menggelembung, persis seperti penyakit gondok akibat kekurangan iodium. Merpati jenis kipas hitam atau black fantail berciri bulu bagian ekor tersusun seperti kipas. ”Lebih istimewa bila ekor kipas itu terdiri atas 3 rangkap,” ujar Sutomo. Keunikan lain leher yang selalu bergerak maju-mundur. Bulu kakinya  panjang hingga menutup jari kaki. Mereka bak belahan hati yang datang kembali. (Desi Sayyidati Rahimah)

Keterangan foto

  1. Warna biru bluentinette tergolong langka
  2. Kipas hitam bulu ekor tersusun seperti kipas
  3. Santinet salah satu jenis termahal, Rp8-juta per pasang
  4. Jacobin, bulu leher tumbuh melengkung ke atas sehingga terlihat seperti kerah
  5. Ervan, kolektor dan peternak merpati hias asal Bantul, Yogyakarta
  6. Kontes merpati hias  perdana di  Ngawi
  7. Merpati gondok bagian leher menggelembung
Previous articleRawat Persia
Next articleTernak Merpati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img