Tuesday, August 9, 2022

Keprok Berkualitas Sepanjang Tahun

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Ibarat pepatah mati satu tumbuh seribu bunga-bunga terus bermunculan dari tanaman asli Australia itu. Namun, setiap kali bunga berubah menjadi pentil, Barokah kembali membuang ribuan buah muda. ‘Bila tak dibuang, saya tak bisa makan setiap bulan,’ katanya.

Tak bisa makan? Ya, ayah 3 anak itu membuang buah untuk mengatur panen frimong di kebun seluas 2 ha di Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Sejak tanaman berumur 3 tahun, setiap 1,5 bulan ia rutin membuang sebagian besar buah pentil yang muncul. ‘Dari seluruh buah yang muncul hanya disisakan seperlimanya. Patokannya setiap ranting menggendong 3 – 5  buah pentil,’ kata Barokah. Dengan cara itu ia berharap buah bisa dipanen setiap 1,5 bulan dari pohon sama.

Lima tingkat

Dengan perompesan rutin, pada bulan ke-7 pascapenjarangan pertama, satu pohon bakal menggendong 5 tingkat ukuran dan ketuaan buah berbeda. Ada buah siap panen, buah tua berdiameter 5 – 6 cm, buah setengah tua berdiameter 3 – 5 cm, buah muda 2 – 3 cm, dan buah pentil berdiamater 1 – 2  cm. Tiap tahapan buah dipanen berselang 1,5 bulan sepanjang tahun.

Dengan populasi 1.500 tanaman, Barokah menggilir waktu penjarangan antartanaman sehingga selalu ada panen setiap minggu. Pada panen raya Mei – Juli, Barokah menuai 20 ton – setara 2,5 ton frimong per minggu. Di luar itu volume panen 250 kg per minggu.

Total jenderal, dalam panen tahun perdana Barokah menuai 30 ton frimong sepanjang November 2007 – November 2008. Artinya pohon berumur 3 – 4  tahun produksinya 20 kg per tanaman. Pada 2008 – 2009 produktivitas meningkat sampai 25 kg per pohon seiring bertambahnya umur. ‘Tahun ini saya panen 37 ton frimong,’ ujar Barokah. Yang istimewa mayoritas buah berukuran besar. Sebanyak 40% masuk grade A dengan bobot 140 – 170 g per buah; 50% grade AB, 110 – 140 g per buah; dan 10% masuk grade C dengan bobot kurang dari  110 g per buah. Grade A dan AB dijual ke pengepul dari Cirebon, Majalengka, dan Bandung dengan harga Rp8.000 – Rp10.000 per kg.

Itu berbeda dengan frimong hasil panen sebuah kebun di Jawa Barat yang disambangi Trubus Agustus lalu. Lantaran si empunya tak disiplin melakukan penjarangan, hasil panen mayoritas masuk grade AB  dan C. ‘Agar mayoritas buah masuk grade A satu dompol disisakan 3 buah saja.

Jumlah dompol yang dipelihara dalam satu pohon tergantung umur dan kondisi tanaman. Idealnya satu buah jeruk didukung 27 – 30 helai daun,’ kata Ir Otto Endarto MS, peneliti jeruk dari Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropika, Tlekung, Batu.

 

Panen sepanjang tahun dengan buah berkualitas yang dinikmati Barokah tak hanya berkat penjarangan dan pemangkasan. Kejelian memilih frimong tak bisa diabaikan. Keprok asli Australia itu rajin berbuah. ‘Beberapa jenis keprok memang rajin berbuah sepanjang tahun. Mirip karakter berbuah jeruk siam. Contohnya frimong dan terigas,’ kata Ir A Heru.

Widodo MSc, kepala seksi Teknologi Tanaman Perdu Direktorat Budidaya Tanaman Buah, Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian.

Cukup air dan nutrisi

Toh, menurut Otto, meski karakter frimong rajin berbuah, ia tak bakal berbuah optimal sepanjang tahun tanpa nutrisi yang cukup. Barokah memasok nutrisi berupa 40 kg pupuk kandang per tanaman pada awal tanam. Pupuk sintesis kimia berupa 50 – 60 g campuran hidrokarate – yang mengandung boron dan kapur – dan NPK dengan perbandingan 1:1 ditaburkan per 3 bulan.

Itu dibarengi dengan pengaturan air. ‘Semua jenis keprok bisa berbuah sepanjang tahun asal kebutuhan air tercukupi,’ kata Heru yang lulusan Kyushu University, Jepang itu. Buktinya terlihat di kebun milik Entang Syahid dan Azizi di Samarang, Garut, Jawa Barat, yang sumber airnya tersedia sepanjang tahun. Di sana, 500 jeruk keprok garut umur 4 tahun milik Azizi bergantian berbuah hampir sepanjang tahun. Begitu pula 120 keprok garut milik Entang. Di luar musim panen raya pada Juni – Agustus, Entang dan Azizi pun masih bisa panen pada Oktober – November dan Maret – April, meski jumlahnya tak sebanyak panen raya. Padahal, keprok garut umumnya hanya panen pertengahan tahun.

Untuk merangsang pembungaan, Entang melakukan metode stres air dengan tidak menyiram selama 2 – 4 minggu. Begitu bunga muncul, penyiraman dilakukan dengan sistem leb. Buah muncul lalu diseleksi seperi teknik Barokah.

Menurut Zoilus Sitepu, National Specialist for Fruit and Vegetable, Hypermart, cara ala Barokah, Entang, dan Azizi masih langka di kalangan pekebun. Makanya pasokan keprok sepanjang tahun dari tanahair masih sedikit. Kelak, dengan budidaya tepat keprok tanahair siap mensubstitusi keprok impor yang membanjiri pasar swalayan. Pasokan sepanjang tahun, ukuran seragam, dan penampilan menarik keprok tanahair bukan mimpi di siang bolong. (Nesia Artdiyasa/Peliput: Destika Cahyana dan Faiz Yajri)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img