Saturday, April 13, 2024

Kiat Budidaya Jawawut Tanaman Pangan Kaya Gizi

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Jawawut dapat ditanam di lahan ataupun polibag. Penanaman langsung dari biji atau melalui semai. Keuntungan semai langsung yakni menghemat tenaga kerja. Kerugiannya benih terbawa air saat hujan atau pertumbuhan bibit tidak seragam.

Peneliti Pusat Riset Konservasi Tumbuhan Kebun Raya dan Kehutanan, Badan Riset dan Inovasi Nasional Titi Juhaeti dan Ninik Setyowati menuturkan penanaman bisa 3—5 bibit, tetapi dianjurkan 3 bibit dalam satu lubang tanam.

Untuk semai menunggu hingga bibit berumur 3—4 pekan, baru pindah ke lahan. Kelebihan semai yakni dapat menyeleksi bibit yang menunjukkan pertumbuhan baik. Sebelumnya media tanam diperkaya dengan pemberian 200—250 g pupuk kandang atau kompos per lubang atau 2—2,5 ton per ha. Jarak tanam 40 cm x 40 cm atau 50 cm x 40 cm.

Menurut Titi, sebaiknya menanam jawawut dengan ajir untuk menjaga agar tanaman tidak roboh. Pemupukan menggunakan pupuk majemuk NPK seperti NPK 16-16-16 atau pupuk tunggal seperti Urea, TSP, dan KCl. Jika menggunakan pupuk tunggal, maka pupuk dasar berupa TSP dan KCl pemberian satu kali dengan dosis 150 kg TSP/ha dan 75 kg KCl/ ha.

Lebih lanjut ia menuturkan, pemberian pupuk TSP dan KCl sebagai pupuk dasar dengan aplikasi minimal satu pekan sebelum tanam. Dosis pupuk dasar TSP sebanyak 2 g/lubang tanam. Sementara KCl sebanyak satu g per lubang tanam.

Pupuk lain yakni Urea berdosis 300 kg/ha terbagi dalam 2 kali pemberian masing-masing 150 kg/ha. Pemberian urea 2 g/lubang tanam pada umur satu pekan setelah pindah bibit dan 2 g/lubang tanam 3 pekan setelahnya.

Apabila menggunakan pupuk majemuk NPK maka pemberian sebanyak 2 kali, yakni pada umur satu pekan setelah tanam bibit sebanyak 2 g/lubang tanam dan 3 pekan kemudian (sebelum tanaman berbunga) sebanyak 2 g /lubang tanam.

Perawatan lain penyiraman, penyulaman, dan penyiangan gulma. Penyiraman dan penyiangan gulma sesuai kebutuhan untuk menjaga pertumbuhan bibit. Sementara penyulaman untuk mengganti bibit yang mati. Tanaman mulai berbunga pada umur 2 bulan setelah tanam (bst).

Hama yang lazimnya menyerang pada malai yakni belalang. Serangga herbivora itu menyerang malai muda dan burung saat malai berisi. Untuk mengusir burung menggunakan bunyi-bunyian. Jawawut dapat ditanam secara monokultur maupun polikultur.

Misalnya tumpang sari dengan kacang panjang, kacang buncis, dan edamame. Harapannya dapat meminimalisir serangan burung saat Jawawut siap panen. Petani menuai Jawawut saat umur tanaman 3 bst. Jawawut siap panen apabila daun dan malai berwarna cokelat.

Malai dipanen dengan cara dipotong dari bagian tangkai. Kumpulkan beberapa tangkai menjadi satu ikat. Jemur malai di bawah sinar matahari, kemudian rontokkan dan hasilnya bulir biji. Kupas bulir itu dengan cara menumbukmenggunakan lumpik dan alu untuk melepaskan kulit pada biji. Biji tanpa kulit melalui penepungan menggunakan alat penepung beras.

Caranya rendam dalam air selama sejam setelah memisahkan biji dengan kulit, tiriskan lalu haluskan dengan penggilingan. Keringkan tepung itu di bawah sinar matahari atau dengan menyangrai, kemudian ayak. “Pengolahan biji Jawawut menjadi tepung memperpanjang masa simpan dan mempermudah untuk mengolahnya menjadi beragam kuliner,” tutur Titi.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Rawat Si Engkong : Durian Tua Berumur 100 Tahun

Trubus.id— Pohon durian setinggi 40 m itu berdiri kokoh di lokasi penanaman durian populer seperti super tembaga, bawor, musang...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img