Tuesday, July 23, 2024

Kiat Perawatan Cempedak King, Besar Berdaging Manis

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Cempedak king terbilang istimewa. Tanaman famili Moraceae itu berukuran besar, rasa daging buah manis, dan  tekstur renyah. Pekebun di Desa Rancaiyuh, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Tatang Halim menuturkan cempedak king muda mirip nangka.

Selain itu cempedak king keras tetapi tidak bertepung. Namun, makin matang sifat cempedak kian kentara. Cita rasa daging buah cempedak king lebih manis dan legit dibandingkan dengan daging buah cempedak pada umumnya.

Menurut Tatang ketahanan buah setelah panen juga cenderung lebih lama, mencapai 4 hari. Kelebihan lain cempedak king bersifat genjah alias cepat berbuah.

Menurut Tatang cempedak king siap panen jika buah mengeluarkan aroma khas cempedak, kulit buah menguning, serta duri pada kulit sudah melebar dan tumpul.

Tatang menduga cempedak king hasil persilangan antara cempedak dan nangka. Dugaan kuat itu karena keseluruhan sifatnya merupakan kombinasi antara karakter nangka dan cempedak. Sekadar contoh, daun cempedak king lebih mirip daun nangka yang tidak berbulu.

Pada umumnya daun cempedak kasar akibat permukaannya ditutupi bulu dalam jumlah banyak. Cempedak king terbukti memiliki beragam keunggulan, genjah, produktif, manis, tekstur renyah. Meski demikian Tatang tidak menyarankan perbanyakan secara generatif atau dari biji.

Perawatan Cempedak King

Kunci perawatan pohon cempedak king adalah pemberian pupuk NPK sebagai sumber nutrisi utama. Rasa buah yang manis akan tercipta dari pemberian nutrisi yang cukup.

Anda dapat memberikan 1 kilogram NPK per pohon. Pemberian nutrisi itu setelah panen, berselang 4 bulan. Tabur pupuk NPK dan menutup kembali dengan tanah.  Frekuensi pemupukan NPK 2—3 kali setahun.

Penyiraman pohon bergantung pada kondisi tanah dan cuaca. Lazimnya memberikan 100—200 liter air per pohon setiap pekan. Menurut Tatang berkat karakter buah yang bergetah, hama kurang menyukai cempedak.

“Karena serangan hama atau penyakit jarang, kalau ada gejala yang agak banyak paling saya semprot dua minggu sekali itu juga dengan dosis terendah,” ujar Tatang.

Aplikasi insektisida dan larvasida sebagai bentuk pencegahan tidak menentu. Menurut Tatang kuncinya cukup dengan mengganti jenis pestisida setelah empat kali penyemprotan agar hama tidak menjadi kebal.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Pakai IoT di Kebun Jeruk, Hasil Panen Optimal

Trubus.id—Penggunaan internet of things (IoT) untuk pertanian turut membantu meningkatkan hasil panen dan kualitas produk. Pekebun jeruk di...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img