Friday, January 16, 2026

Kiat Sukses Memelihara Salamander

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Axolotl merupakan hewan unik yang berasal dari Meksiko. Di kalangan para pehobi, axolotl terkenal dengan sebutan the smiling salamander karena kerap terlihat tersenyum.

Para pehobi menggandrungi salamander yang mampu meregenerasi tubuhnya sendiri. Salah seorang pehobi yang terpikat axolotl adalah Daffa Khairan dari Kotamadya Batu, Provinsi Jawa Timur.

Axolotl merupakan hewan subtropis yang butuh penanganan khusus jika di pelihara di negara tropis seperti Indonesia. Habitat asli hewan itu di perairan yang dingin. Itulah sebabnya para pehobi seperti Daffa merawat satwa itu di akuarium bersuhu 20—22°C.

Suhu 25°C bisa mematikan satwa kerabat katak itu. Namun, itu cerita dahulu, kini Daffa berhasil mendomestikasi salamander. Para pehobi tak perlu lagi menyiapkan air bersuhu dingin untuk merawat axolotl.

Pada akhir 2020 Daffa berhasil menetaskan 800 telur dari sepasang axolotl. Capaian itu membuka peluang axolotl lebih berkembang di Indonesia. Hal itu karena anakan axolotl produksi Daffa lebih adaptif di Indonesia.

Kini pehobi bisa memelihara hewan kerabat kodok itu dalam air bersuhu 30°C. Selain air, persiapan dan perawatan axolotl ala Daffa relatif mirip ikan yang banyak berkembang di Indonesia seperti maskoki.

Idealnya panjang akuarium 40 cm karena tubuh axolotl memanjang 25—30 cm. Para pehobi juga wajib menyiapkan filter yang baik. Filter itu harus bisa menjadi media bakteri baik. Biasanya di filter ada batu-batuan seperti batu apung.

Jika di filter hanya ada kapas belum cukup karena hanya menyaring kotoran. Para pehobi memberikan cacing sutra sebagai pakan. “Pelet juga bisa, tetapi sebaiknya pelet yang tenggelam karena axolotl jarang ke permukaan air,” kata Daffa.

Menurut Daffa memberi pakan dengan cara menyuapi (hand feeding) menyebabkan para pehobi mampu menjalin hubungan erat (bonding) dengan hewan yang dalam bahasa Nahuatl berarti monster air itu. Axolotl juga bisa mendeteksi aroma.

“Oleh karena itu, jangan sering-sering ganti parfum kalau ingin lebih cepat bonding,” kata Daffa.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img