
Teknik terbaru membesarkan kepiting dalam apartemen, hemat lahan, dan mencegah kanibalisme. Kepiting gemuk dan bersih.

Trubus — Ribuan kotak tersusun rapi membentuk rak setinggi dua meter. Setiap kotak saling tersambung oleh pipa. Pangkal dan ujung pipa menuju pada satu kolam di samping jajaran kotak. Pipa mengalirkan air bersih ke dalam kotak dan mengalirkan air sisa kembali menuju kolam. Setiap kotak berisi satu kepiting. Susunan kotak vertikal itu mirip bangunan bertingkat hunian modern—apartemen.
Apartemen kepiting itu hasil kerja sama Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan PT Tritunggal Segara Indonesia (TSI) pada pertengahan 2018. Budidaya kepiting identik dengan kolam berlumpur dan berbau amis. Namun, kesan itu sama sekali tak terlihat di lokasi budidaya kepiting IPB Fisheries and Marine Observation Station (IFMOS) Ancol itu.
Hemat lahan
Pembudidaya kepiting lazimnya membuat kolam kepiting di area pesisir sekitar pepohonan bakau. Mereka memasang jaring pada tepian tambak untuk mencegah kepiting keluar. Air tambak cenderung keruh dan berlumpur. Itulah habitat alami kepiting bakau (mangrove crab) atau mud crab. Ada pula budidaya kepiting dengan kotak individual yang tersusun horizontal. Namun, lokasinya masih di laut dekat pesisir.

Kini pembudidaya dapat memelihara kepiting bakau di daratan bahkan dalam ruangan tertutup. Managing Director PT TSI, Hendra Sugandhi, mengatakan, “Negara lain seperti Singapura dan Vietnam menggunakan teknologi semodel apartemen kepiting. Apartemen kepiting hemat lahan. Seribu boks hanya perlu ruangan 11 m x 6 m.” Itu lebih ekonomis daripada boks yang tersusun horizontal.
Kepiting bersifat kanibal sehingga penempatan satu individu per boks dapat mencegah sifat memakan sesama itu. Selain itu, kepiting juga aman dari ancaman predator. Pertumbuhan lebih cepat lantaran tidak ada kompetisi memperoleh makanan. Menurut peneliti dari Departemen Budidaya Perairan, IPB, Dr. Yuni Puji Hastuti, S.Pi., M.Si., kepiting bisa bertahan di lumpur sebab mencari makan di lumpur sesuai dengan habitatnya.
Meski demikian, kepiting bisa hidup di daratan asal selalu ada air. “Tahap awal daur hidup kepiting seperti telur, larva, juvenile atau kepiting crablet, dan kepiting remaja memiliki habitat di laut lepas. Sementara itu, kepiting dewasa akan bergerak ke daratan terutama daerah mangrove untuk mencari makanan,” kata dosen bidang Lingkungan Akuakultur FPIK IPB itu. Ternyata selama ketersediaan makanan tercukupi, kepiting dapat hidup dengan baik dan tumbuh besar tak kalah seperti tangkapan dari alam.
Sejatinya terdapat empat aspek penting dalam budidaya perikanan, yakni lingkungan (air), biota (komoditas budidaya), patogen, dan pakan.
Kepiting soka

Doktor bidang ilmu akuakultur itu menekankan pentingnya penggunaan sistem akuakultur resirkulasi (RAS) bersamaan untuk menjaga kualitas air di apartemen kepiting. Pengelolaan air dalam RAS dilakukan secara fisika, kimia, dan biologi. Adapun penelitian terbaru yakni pengelolaan air berbasi aktivitas bakteri. Tak heran bila kepiting tumbuh optimal dalam lingkungan yang selalu terjaga higienitasnya.
Itu terlihat dari insang berwarna putih bersih. Berbeda dengan kepiting hasil tangkapan atau tambak konvensional, insang cenderung berwarna cokelat keruh. Menurut Hendra kepiting penghuni apartemen memiliki daging penuh. Itulah mengapa kepiting apartemen cocok untuk pasar ekspor. Pasar ekspor menghendaki kepiting cangkang lunak atau soka berukuran 80—130 gram per ekor.
Setiap pergantian kulit kepiting bertambah ukuran 30% dari semula. Jika pemberian pakan dan kondisi lingkungan baik, molting terjadi dengan sendirinya. Menurut Hendra penggunaan apartemen kepiting untuk penggemukan, pembesaran, dan produksi kepiting soka. “Lama budidaya bergantung tujuan. Penggemukan biasanya 10—14 hari sedangkan produksi soka 14—21 hari,” kata Hendra. (Sinta Herian Pawestri)
