Tuesday, August 9, 2022

Kini Kopi Tersaji Lagi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Itulah pertanyaan Pirlinsyah kepada Alik Sutaryat yang menganjurkan menanam padi  tanpa genangan air. Selain itu satu lubang tanam hanya terdiri atas satu bibit berumur 5 hari. Jarak tanam juga sangat longgar, 40 cm x 30 cm; sebelumnya 20 cm x 20 cm. Nah, dengan teknologi budidaya seperti itu, jumlah anakan padi sungguh fantastik: hingga 208 tanaman per rumpun. Perkembangbiakan itulah yang membuat petani di Desa Embawang, Kecamatan Tanjungagung, Kabupaten Muaraenim, Sumatera Selatan, itu takjub.

Saking senangnya ia bisa tiga kali mengunjungi sawah dalam sehari hanya untuk melihat hamparan padi. Pirlinsyah mengatakan perasaannya seperti tengah jatuh cinta. “Saya seperti terhipnotis,” kata Rendy Saputra yang juga menerapkan budidaya serupa. Mereka terperangah karena dari sebuah bibit beranak-pinak menjadi ratusan tanaman. Padahal, pada budidaya sebelumnya dari belasan bibit hanya berkembang biak menjadi puluhan tanaman. Pola tanam yang mereka terapkan itu disebut system of rice intensification alias SRI.

Hilang secangkir kopi

Karena takjub, Pirlinsyah bertanya kepada Alik Sutaryat, “Magis apa yang Bapak gunakan?” Alik Sutaryat dari Community Development PT Medco E & P yang memperkenalkan metode tanam padi intensif pada November 2010 itu hanya tersenyum. Sejak November 2010, perusahaan energi itu memang memperkenalkan pola tanam baru bagi petani padi di bumi Serasan Sekundang – julukan bagi Kabupaten Muaraenim.

Semula tak satu pun petani yang suka rela menerapkan metode itu. Pirlinsyah dan Rendy juga ogah-ogahan pada awalnya. Namun, akhirnya pria 34 tahun itu mencoba juga. Di lahan 7.000 m2 milik Pirlinsyah itu, bibit-bibit setinggi telepon genggam berdiri ringkih. Harap mafhum, ia menanam bibit berumur 5 hari. Itu yang menyebabkan Yudiarti, istri Pirlinsyah, kecewa. Ia melampiaskan kekesalannya dengan tak lagi menghidangkan secangkir kopi dan penganan setiap kali Pirlinsyah pulang dari sawah.

Roby Saputra, Mulyono, dan Hendra mendapat perlakuan sama dari istri mereka. Mereka juga menerapkan pola tanam persis Pirlinsyah. Petani lain yang tak menerapkan SRI mencemooh, “Jangankan mendapat beras, dapat keraknya saja tidak.” Artinya, petani yang menerapkan SRI tak akan menuai padi. Namun, 20 hari kemudian tanaman tampak hijau dengan rumpun yang kian banyak.

Makin hari anakan tanaman anggota famili Poaceae itu kian meningkat hingga ratusan. Sejak itulah kekecewaan para istri hilang. Pirlinsyah girang bukan kepalang. Ia tak puas-puasnya melihat hamparan rumpun padi. Para petani lain di desa itu juga berperilaku sama – berulang-ulang melihat padi di sawah. Hingga 12 Maret 2011, tercatat 41 petani di Desa Embawang menerapkan pola tanam SRI. Total luas lahan mereka 38,5 ha. Rata-rata kepemilikan lahan di desa berketinggian 150 meter di atas permukaan laut itu 0,5 – 1 ha.

Produksi menjulang

Peningkatan jumlah anakan ternyata berbanding lurus dengan produksi gabah. Kumri, misalnya, menuai 8,68 ton gabah kering panen per ha pada 5 Maret 2011 setelah menerapkan metode SRI. Padahal, bertahun-tahun menanam padi, produksi paling pol cuma 4 ton per ha. Para petani di berbagai daerah yang menerapkan SRI, menuai hingga 10 ton gabah kering panen per ha. Meski produksi menjulang, para petani sama sekali tak memberikan pupuk kimia. Secara umum biaya produksi metode SRI turun 20 – 40%, karena hilangnya biaya pembelian pupuk kimia.

Selain itu kebutuhan benih hanya 3 –   4 kg, semula, 70 kg per ha. Mulyono yang mengelola lahan 6.000 m2 dalam satu musim tanam semula menghabiskan 100 kg Urea, 50 kg TSP, dan 50 kg KCl senilai total Rp670.000. Namun, sejak beralih ke metode SRI, ia menerapkan  budidaya organik sehingga tanpa pupuk kimia. Ia membuat pupuk sendiri alias mikroorganisme lokal atau MOL dari bahan-bahan  nabati seperti buah maja, bonggol pisang, dan rebung bambu.

Produksi meningkat itu mematahkan mitos bahwa hasil budidaya organik pada tahun-tahun pertama cenderung anjlok. Petani-petani padi di Embawang justru memperoleh produksi tinggi pada tahun pertama, meski tanpa pupuk kimia. Bagaimana duduk perkaranya? Ahli mikrobiologi tanah dari Institut Pertanian Bogor, Dr Rahayu Widyastuti, menyatakan populasi azotobacter dan azospirillium di lahan SRI meningkat pesat. Kedua makhluk liliput itu penambat nitrogen dari atmosfer sebagai sumber nutrisi. Populasi azotobacter di lahan SRI mencapai 3,7 x 103; lahan konvensional, 1,9 x 103.

Menurut pengamat pertanian berkelanjutan dari Institut Teknologi Bandung Dr Mubiar Purwasasmita, peningkatan produksi signifikan antara lain karena peran mikroorganisme. “Bonggol pisang dan rebung luar biasa, mengandung mikroorganisme dan enzim pertumbuhan bagi tanaman,” kata Purwasasmita. Mikroorganisme itu ibarat koki yang siap mengolah beragam makanan untuk keperluan tanaman. Oleh karena itu pertumbuhan padi relatif cepat dan produksi pun meningkat.

Itu sebagai salah satu solusi atas peningkatan jumlah penduduk. Menurut Mubiar, orang cenderung berpikir perluasan lahan untuk meningkatkan produksi pangan. Padahal, luas lahan terbatas. Apalagi alih fungsi lahan pertanian terus terjadi. Menteri Kementerian Pertanian Dr Ir Suswono MMA mengatakan setiap tahun 100.000 ha sawah beririgasi teknis beralih fungsi menjadi lahan nonpertanian.

Menurut Direktur Utama PT Medco E & P, Budi Basuki, SRI salah satu solusi  bagi krisis pangan  dan pasokan  gas industri. “Program ini dilaksanakan sebagai pemberdayaan petani,” kata Basuki. Perusahaan itu memperkenalkan metode SRI di 6 daerah  Aceh Timur (Nanggroe Aceh Darussalam) dan Tarakan (Kalimantan Timur).

Di berbagai daerah itu, semula para petani juga enggan mengadopsi inovasi SRI. Persis yang terjadi di Muaraenim. Istri-istri yang kecewa melihat bibit yang  ringkih juga jamak terjadi. Namun, ketika mengetahui jumlah anakan bertambah signifikan dan produksi membubung, maka bergembiralah mereka. Dan akhirnya, secangkir kopi pun terhidang lagi. (Sardi Duryatmo)

MOL Pendongkrak Hasil

Keberhasilan petani padi organik sistem SRI di Desa Embawang, Kecamatan Tanjungagung, Muaraenim, Sumatera Selatan,   tidak lepas dari penggunaan mikroorganisma lokal (MOL) yang berperan sebagai bioaktivator.  Tanaman padi tumbuh subur, banyak anakan, malai panjang, dan bulir bernas sehingga produksi membubung, 6,8 – 8 ton/ha gabah kering giling.    Padahal, sebelumnya dengan cara tanam konvensional hanya dipanen 4 ton gabah kering giling per hektar.

Para petani di kawasan tambang batubara itu menggunakan MOL yang dibuat sendiri dengan memanfaatkan bahan-bahan baku di sekitar pemukiman.  Sebut saja daun gamal, rebung bambu, bonggol dan batang pisang, buah maja, pisang, cengkir, keong mas, serta nasi.  “Mikroorganisma lokal lebih efektif karena jelas-jelas sudah beradaptasi dengan lingkungan setempat,” kata Ir Wahyudin, pendamping pelaksanaan penerapan padi organik dari PT Medco E&P.

Menurut Wahyudin bahan dasar pembuatan MOL itu dipilih karena kaya mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanaman, juga mengandung hormon pertumbuhan seperti auksin dan giberelin. Cara membuat MOL pada dasarnya sama. Yang membedakan, jumlah bahan tambahan dan lamanya fermentasi. Misalnya MOL gedebong pisang dibuat dengan mencacah batang hingga seukuran keripik singkong. Setiap 1 kg gedebong pisang dimasukkan dalam 3 liter air cucian beras.  Tambahkan pula 2 liter air kelapa dan 2% gula putih setara 20 g.  Larutan difermentasi pada kondisi anaerob dalam stoples selama 2 minggu.

Ketika akan diaplikasikan, setiap liter MOL diencerkan terlebih dulu dengan 14 liter air. Semprotkan MOL ke bagian tanaman dan tanah di sekitar tanaman.  Setiap hektar lahan padi membutuhkan 10 liter MOL per penyemprotan.  Frekuensi penyemprotan dilakukan 10 hari sekali dan MOL boleh dicampur satu sama lain karena tidak menimbulkan efek samping.  Hanya MOL yang mempunyai efek khusus yang diberikan secara tunggal.  Misalnya MOL buah-buahan yang bersifat inhibitor untuk  menghentikan pertumbuhan anakan saat padi berumur 60 hari setelah tanam.

Contoh lain MOL cengkir atau mumbang yang diaplikasikan setelah padi berisi karena berperan untuk membernaskan bulir-bulir padi. Sedangkan MOL nasi untuk memperkaya ragam mikroorganisme, disemprotkan pada awal-awal penanaman atau pada saat pengomposan. Mol nasi diperkaya dengan mikroorganisme dari daun bambu.  .“Daun bambu yang sulit terurai memiliki banyak jenis mikroorganisme,” imbuh alumnus Jurusan Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran itu.

Ambil sekepal nasi, kemudian  letakkan di dalam kardus yang sudah dilapisi lembaran-lembaran daun bambu. Biarkan selama 10 hari sampai nasi menjadi lembek.  Selanjutnya nasi yang mengandung banyak jenis mikroorganisme itu dilarutkan dalam 5 liter air cucian beras dan fermentasikan selama 5 hari.  Penyemprotan MOL nasi cukup sekali dalam 1 periode tanam.  Bila  masih ada stok, MOL nasi atau MOL lainnya bisa disimpan dalam suhu ruang dengan kondisi anaerob di dalam stoples.  (Karjono)

Previous articlePetai Gagal Berbuah
Next articlePengupas Kacang Tanah:
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img